
kriiiiiinnnngggg,,,
"Anaaaa,,, handphone kamu bunyi tuh.!"
Ana yang sedang menemani Salwa memberi makan ikan langsung masuk mendengar teriakan teh Lia.
Dahinya mengkerut saat melihat nama di ponselnya.
"Oom!"
Ana menyimpan nomor telepon Andre dengan nama itu.
"halo,,," Ana
"kenapa chatnya gak dibales?" Andre ketus.
"chat???" Ana bingung lalu melihat ponselnya sekilas dan mengutak-atik sebentar, oh ternyata ada chat dari si Oom.
"sorry, tadi handphonenya di charge di kamar, aku lagi di taman, ada apa?" lanjutnya
"balas,!" Andre
Tut,,,Tut,,,Tut,,,
Tanda telepon di tutup.
'astagfirulloh, nih orang main tutup sembarang aja, lagian kalo udah nelepon kenapa ga langsung bilang aja, iiiihhhh,, dasar aneh!' umpat Ana dalam hati.
Ander : dimana?
setengah jam yang lalu.
'chat segitu doank meni riweuh! gak penting lagi!' batin Ana masih mengumpat.
Ana : di rumah.
Saat membaca balasan dari Ana yang ternyata sangat singkat.
hufh! Andre membuang nafas kasar.
Andre merasa Ana benar-benar aneh, kenapa dia sangat ketus, tidak seperti perempuan lain yang sempat dijodohkan dengannya.
hufh.,,
Andre membuang nafasnya kasar, dan memutuskan kembali bekerja.
Andre menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya,
"gimana?" tanya Sakti yang sejak tadi duduk di sofa di dalam kantor Andre.
"apanya?" Andre kembali mengambil beberapa berkas diatas mejanya.
"kok nanya sih? lu barusan chat Ana kan?" Sakti tanpa memalingkan wajahnya dari laptop
"eeemmmm,,," Andre
"terus gimana?" Sakti
"apanya?" Andre
"astaga Ndre? gimana chatting nya sama calon bini lu, lancar ga? dia responnya gimana?" Sakti menatap Andre sekilas sambil menggelengkan kepalanya, kemudian kembali menatap laptopnya.
"dia bilang lagi dirumah,"
"hah????" ... "emang lu chat apa tadi?" Sakti mencoba mencerna apa yang di katakan Andre.
"ya apalagi, gue tanya lagi dimana? ya dia jawab lagi di rumah, udah."
"whattttt???? Ndre gue nyuruh lu chat bini lu itu, biar lu bisa pdkt, masa cuma gitu doank chatnya"
"pdkt?" Andre menatap Sakti mementa penjelasan.
"pendekatan," jawab Sakti berjalan mendekati Andre.
"ooohhhh" Andre kembali membolak-balik berkas yang masih dibacanya.
"lu tuh gimana bisa bikin Ana Nerima lu, kalo lu aja lempeng kaya gini. lu lupa apa yang mami bilang sama lu?!"
Andre menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, pengingat percakapan di telepon dengan ibunya 2 hari yang lalu.
Dua hari yang lalu.
Ambar : "honey, mami kasih waktu satu bulan, buatlah Ana membuka hatinya untukmu, dan setalah itu adakan lamaran. kalo tidak, kamu sudah tau apa yang akan terjadi."
Andre : "oh Mam ayolaaaah,,,"
Ambar : "honey,,, kamu lupa, kamu ini laki-laki yang sangat tampan, perempuan mana yang bisa lepas dari pesonamu, mami yakin kamu akan berhasil sayang."
Andre : " ya, Mam" dijawab dengan lesu.
"ok! semangat ya sayang, we love you honey."
***
Hari ini untuk pertama kalinya Ana memasuki area sebuah kampus negeri yang dia harap akan menjadi kampusnya untuk melanjutkan kuliah S2 nya.
__ADS_1
Dia berjalan memasuki sebuah ruangan yang sudah diinformasikan olah pihak kampus akan menjadikan tempat tesnya.
Sudah banyak orang di dalamnya, tatapannya berkeliling mencari kursi yang masih kosong.
Akhirnya dia menemukan tempat duduk yang kosong dipojok belakang, ada beberapa kursi tersisa.
Ana berjalan menuju salah satu kursi kosong itu, ada beberapa orang lagi ternyata yang mengikutinya dari belakang yang juga mencari tempat duduk.
"hei, aku Daren ,,," sapa seseorang di samping Ana sambil menyodorkan tangannya dan tersenyum manis.
"Ana," Ana yang sejak tadi memainkan ponselnya untuk membuang rasa jenuh akhirnya memalingkan wajah, tersenyum dan menyambut tangan Daren.
"ambil program apa?"
"management," jawab Ana masih tidak memalingkan muka dari ponselnya.
"tinggal dimana?" walaupun merasa di acuhkan Daren masih tak patah semangat.
"Depok." Ana
"hei ini juga kita lagi di Depok neng, maksudnya Depok mana?" Daren terlihat bingung.
"eeemmm aku lupa nama daerahnya." Ana mengerutkan dahinya terlihat berpikir, 'iya yah kok aq gak nanya teh Lia nama daerahnya, aku tadi naik taksi online kesini dijemput di depan rumah. ntar lah kalo udah selesai aku chat teh Lia.'
"emang orang mana?" Daren.
"Bandung" Ana.
"oohh,, pantesan,,," kata-kata Daren terputus saat tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya.
"hai, Daren. aku telepon kok gak di angkat sih." seorang gadis duduk di belakang Daren dan mendominasi mereka.
Ana menghembuskan nafas perlahan, ' akhirnya,,,'
Akhirnya tesnya di mulai, setiap orang sudah memegang lembaran jawaban dan soal.
ruangan hening seketika, setiap orang serius mengerjakan soal dengan teliti.
Setelah selesai tes, semua membubarkan diri masing-masing, riuh kembali terdengar dari dalam ruangan.
tring,,
Ana mengambil ponsel dalam saku celananya.
Andre : aku diparkiran.
'hah? parkiran mana?' Ana mengerutkan keningnya. Tak lama suara telepon berdering
kriiiiiinnnngggg,,,,
"halo," Ana
"aku diparkiran, cepatlah" Andre
"parkiran mana?" Ana bingung.
Tut,,,Tut,,,Tut,,,
'ishhh,,, maen tutup aja'. Ana berjalan keluar kampus tanpa menghiraukan telepon Andre.
"Anaaaa,,,, " Ana menengok ke belakang, ternyata Daren yang manggil. Daren setengah berlari menuju tempat Ana berdiri.
"mau aku,,, anterin ga,,, aku bawa motor,,, sama helm nya tentu saja?!" kata-kata Daren terputus-putus karena mengatur nafas yang masih ngos-ngosan.
"boleh, bentar aku tanya teteh aku alamatnya."
'lumayan dapat Tebengan gratis' pikir Ana.
tiba-tiba,,, notifikasi chat berbunyi
"Ngapain sih nih si Oom"
"apa Na, udah ada alamatnya?" Daren
"oh, bukan, bentar."
Ana membuka chat dari Andre setelah mengirim chat ke teh Lia meminta alamat rumahnya.
"hah?" Ana terkejut saat melihat chat Andre ternyata dia mengirimkan sebuah foto kampus tempatnya berada lengkap dengan dirinya dengan Daren di sampingnya.
Ana berjalan mencari Andre, dia kembali melihat angle pengambilan foto agar dia bisa menemukan dimana Andre berada.
"hei, Na, kenapa? mau kemana, parkiran motor sebelah sana." Daren nyeroscos sambil mengikuti langkah Ana.
Tiba-tiba seseorang memegang tangannya.
"ayo pulang,"
Ana memandang ke arah suara.
"kok disini?" Ana bingung menatap Andre, begitu juga dengan Daren, kenapa tiba-tiba ada laki-laki datang sang memegang tangan Ana.
tanpa menjawab Andre berjalan ke arah parkiran mobil sambil memegang tangan Ana.
"hei, tunggu!" Ana mencoba menarik tangan yang dipegang Andre.
__ADS_1
Andre menghentikan langkahnya menatap Ana.
"kita ngobrol di mobil, aku gak ada waktu."
"lepasin tangan aku, aku bisa jalan sendiri."
Andre melepaskan tangan Ana, lalu berjalan ke arah mobil diikuti oleh Ana.
Daren hanya bengong menatap kepergian Ana.
Dalam mobil.
"Oom dari mana tau aku disini?"
"menurutmu?"
"hah?" Ana benar-benar tidak mengerti 'ya sudahlah, ga penting,' Ana hanya terdiam menatap ke samping kaca jendela. begitupun Andre yang fokus menyetir.
tibalah mereka di sebuah resto, ternyata sudah masuk jam makan siang.
"pesanlah." Andre saat waiters menghampiri meja mereka, matanya masih tertuju pada ponselnya sejak duduk tadi. Waiters itu mulai bertanya menu yang mereka pesan tanpa mengalihkan pandangannya dari Andre 'kapan lagi ada pemandangan seindah ini' batinya.
Ana memesan nasi soto dan es teh manis, es teh manis adalah minuman andalannya saat uang bulanannya sudah menipis. Ana menatap pada Andre bergantian dengan waiters yang sejak tadi memandang terus ke arah Andre, sementara Andre tak menghiraukan waiters tersebut.
"samakan" Andre pada waiters resto.
"baik mohon ditunggu." jawab waiters berlalu sambil tersenyum kecut tanpa balasan.
"terimakasih" Ana, tersenyum menyambut senyuman waiters yang berlalu.
"Oom,,,"
"eeemmmm,,,"
"lagi chatan sama pacar ya?!"
"eeemmmm,,"
"pantesan serius"
"eeemmmm,,"
"pacarnya orang mana?"
"eeemmmm,,"
seperti sudah diduga semua pertanyaan dibalas dengan "eeemmmm" karena mata Andre masih tertuju pada ponselnya sambil beberapa kali mengerutkan keningnya atau tersenyum sinis hingga akhirnya makanan datang.
"hufffh" Ana menghembuskan nafas dengan kasar.
waiters mulai menata makanan di atas meja, lengkap dengan sambel dan kecap juga kerupuk.
mereka mulai makan. Andre mengaduk sotonya dan mencicipi nya. 'lumayan' pikirnya.
begitupun dengan Ana, setelah mencicipi kuah sotonya lalu dia menambahkan sambal, memeras jeruk dan tak lupa menambahkan kecap. setelah dirasa pas dia mulai memakannya bersama nasi, sambil sesekali memperhatikan
Andre yang menyuapkan sendok ke mulutnya tanpa memperhatikan apa yang di sendoknya.
'apa sih yang dilihat di ponselnya sampai dia seserius gitu.' Ana berpikir, akhirnya ide cemerlang tiba-tiba memenuhi otak jahilnya, dia tersenyum sinis menatap Andre.
Saat Andre menyendokan makanan ke mulutnya, saat itu mangkok sotonya diganti dengan mangkok sambal.
Ana kembali melakukan aktivitasnya melahap makanannya dengan wajah tanpa dosa.
"emmmpppp,,," Andre merasakan kuah soto yang ternyata sambal itu meluncur ke mulut hingga ke tenggorokan tanpa bisa dia muntahannya lagi yang akhirnya mau tak mau dia menelannya.
"uhuk,,, uhuk,,, hah,,, hah,,, hah,,," dia langsung mengambil es teh manis dan meminumnya hingga hampir habis.
Lalu melihat ke mangkok yang ada dihadapannya yang sudah diganti dengan mangkok sambal.
Ana tersenyum senang saat melihatnya, ingin rasanya dia tertawa terbahak-bahak, tapi ditahannya.
Andre menatap tajam pada Ana yang masih fokus dengan makanannya sendiri. Dengan sesekali menyeruput es teh manisnya menghilangkan panas di mulut dan tenggorokannya akibat sambal satu sendok dia telan langsung.
"makanya kalo makan jangan sambil pacaran," kata Ana, tersenyum sinis.
"pacaran? hah,,, hah,,, hah" Andre memanggil waiters untuk memesan jus untuk menghilangkan panas di tenggorokannya.
Ana tak menjawab tapi matanya menunjuk pada ponselnya dengan mengangkat alisnya.
Andre mengikuti tatapan Ana yang tertuju pada ponselnya, sambil mengibaskan tangannya didepan mulutnya berusaha menghilangkan rasa panas yang menjalar. karena menunggu jus yang ternyata datangnya lama, dia akhirnya meminum es teh manis milik Ana.
"eeehhhh,,,," Ana hanya bengong melihat minumannya di minum oleh Andre hingga menyisakan es batu saja.
"itukan punyaku." teriak Ana tertahan.
"kamu harus tanggung jawab, kamu yang bikin aku kepedesan.!" jawab Andre yang masih merasa kepedesan.
Acara makan siang yang seharusnya menjadi ajang pdkt Andre ke Ana malah menjadi ajang pengibaran bendera permusuhan antara ke duanya.
Sementara di kantin kantor.
Sakti yang juga sedang memakan makan siangnya sejenak berpikir. Apa acara makan siang bos dan calon istrinya lancar? karena sejujurnya ini memang idenya.
'seharusnya sih lancar, pasti mereka sedang ngobrol sekarang.' senyumnya mengembang mengingat bosnya lagi pdkt sama calon istrinya.
__ADS_1