
Dua bulan kemudian
Setalah hari itu, hubungan Ana dan Andre semakin buruk. Mereka seperti orang asing yang tak saling kenal, dan tak satupun yang berinisiatif untuk memperbaiki hubungan.
Sementara persiapan pernikahan sudah sampai sembilan puluh persen, hanya tinggal menyebarkan undangan saja. Sesuai permintaan Ana, semua acara prosesi sebelum pernikahan ditiadakan, itu cukup membuat Tante Ambar kecewa, karena sebenarnya banyak sekali prosesi sakral sebelum hari H, tapi karena alasan Ana, dia sibuk dengan urusan kuliah yang baru saja dimulai, membuat mama Meti dan Tante Ambar pun menyerah.
Sebagai gantinya pernikahan yang tadinya akan diadakan secara sederhana kini justru akan diadakan secara besar-besaran, menimang akan banyak relasi dari dua perusahaan besar di dalam dan luar negeri yang diundang, jadi acara resepsi akan di adakan selama tiga hari.
Bahkan tidak hanya satu jasa wedding organizer mereka pekerjakan, demi untuk kelangsungan acara pernikahan ini, dan juga setiap wedding organizer menyuguhkan tema berbeda di setiap harinya selama resepsi berlangsung.
Undangan sudah mulai disebar sejak beberapa hari yang lalu. Ana meminta bantuan Stela untuk mengantar undangan ke beberapa teman dekat saja, hanya sebatas formalitas menurut Ana.
Hari ini Ana menerima telepon dari Dimas yang sempat mengatakan kesedihannya, kekecewaan juga mengucapkan selamat padanya.
Itu cukup membuat Ana menangis dan merasa menyesal beberapa saat.
Di tempat lain
"Stel, kamu yakin ini Ana yang nikah?" seseorang di seberang telepon.
"iya atuh teh, yakin pisan, kenapa emangnya? aaahhhh teteh gak mau dirunghal ya, heheee,,," Stela cekikikan sendiri. (dirunghal\=dilangkahi dalam urusan jodoh😄).
"Stela, nanti teteh kirimin foto cowok, kamu lihat, bener ga itu calonnya Ana?"
Stela mengerutkan keningnya, "iya teh," dia menjawab cepat, lalu menutup teleponnya.
Tak berapa lama Stela menerima chat, sebuah foto.
Stela : iya teh itu, namanya Andre.
Teh Tia : Stela, kamu inget gak big bosnya teteh yang pernah teteh ceritain waktu kita makan bareng di BTC.
Stela mengerutkan keningnya. 'apa hubungannya?' pikir Stela.
Stela : iya, kenapa gitu teh?
Sekarang giliran teh Tia yang mengerutkan keningnya.
"hadeuuh,, dasar Lola!" (Lola singkatan dari loadingna Lila atau lama).
__ADS_1
Teh Tia mengumpat sambil membalas chat Stela.
teh Tia : Stela kamu inget-inget gera, foto yang waktu itu teteh bahas sama kamu sama Ana juga, itu foto big bos teteh yang ada di foto dokumentasi kunjungan pabrik, inget gak?!
teh Tia mengharapkan Stela langsung mengerti karena dia gak mau membahas masalah itu berkali-kali, dirasa tidak enak menurutnya menggosipkan bosnya sendiri.
Kerutan kening Stela makin dalam, 'hah? jangan-jangan?!'
Stela : teteh, jangan bilang apa yang aku pikirkan itu, bener?
"akhirnya nih anak ngeh juga"
teh Tia : iya itu! kok bisa sih Stel? coba ceritain gimana bisa Ana mau nikah sama Pak Andre?
Stela : wah serius teh? jadi a Andre itu pacarnya teteh?
Teh Tia merasa kepalanya berdenyut saat membaca balasan chat dari Stela. "astaga! nih anak, apa sebenarnya yang ada dipikirannya?! meni kudu dijentrekeun pisan ari ngomong teh" (masa harus dijelasin detil banget kalo ngomong) lagi-lagi teh Tia mengumpat, sedikit kesal sekaligus gemas.
teh Tia : ari kamu! bukan itu! big bos teteh namanya pak Andre, calonnya Ana! artinya calonnya Ana itu gay! ngerti gak???????
Stela membaca balasan dari teh Tia, awalnya biasa aja, kemudian saat dibaca kembali dia mulai mengerti maksud teh Tia, "apaaaaaaaaaa????" Stela kemudian melihat lagi foto yang teh Tia kirim, "pantesan asa pernah nempo!" (pantesan kayak pernah lihat).
"eh! berarti pas lihat foto itu Ana udah tau donk kalo a Andre itu gay?! astaga! apa sebenarnya yang dipikirin si Ana itu? manya daek kawin Jeung gay?! teu bisa! kudu kaditu ayna!" (masa mau nikah sama gay?! gak bisa! harus kesananya sekarang!) setelah mendapat pencerahannya Stela memutuskan pergi menemui Ana untuk meminta penjelasan langsung, dia bahkan mengabaikan chat dari teh Tia.
Rumah Ana
Walaupun acara pernikahan sebentar lagi akan digelar, rumah Ana tidak terlihat terlalu ramai, hanya beberapa kerabat jauh yang sudah datang, juga karena pernikahannya akan diselenggarakan di salah satu hotel tersebut terbesar di kota Bandung.
"assalamualaikum,,," Stela membuka pintu rumah Ana setelah memberi salam.
"eh Stel, kumaha undangannya udah semua dikasihin?" mama Meti yang melihat Stela masuk langsung menanyainya.
"atos ma, tinggal beberapa aja,,, Ana di atas ma?"
"eunya di kamarna," jawab mama Meti yang kembali meneruskan kegiatannya.
toktoktok
jgrek
__ADS_1
"An,,," Stela melongokan kepalanya lewat celah pintu yang dia buka.
Ana yang sejak tadi sedang sendirian menonton drama Korea, mengalihkan tatapannya ke arah sumber suara.
"cul! dieu!" (cul! sini!)
Stela yang sudah tak sabar langsung berlari masuk.
"Naha maneh teu ngomong ka urang? maneh masih nganggap urang teu?!"
Stela sudah tak bisa menahannya lagi, emosinya meluap seketika, terlebih dia tak mau sahabatnya berada dalam masalah yang sepertinya tak akan ada ujungnya, jika dia jadi menikah artinya dia sudah mendzolimi diri sendiri. Sementara itu, Ana hanya terdiam mencoba mencerna apa yang dikatakan Stela, dia melihat kelakuan Stela yang tak biasa jelas ada sesuatu yang dia tahu dan tiba-tiba perasaannya menjadi tak enak.
"Ana! ari maneh kunaon? ges apal si a Andre teh gay! eemmhhh!!!!" spontan Ana membekap mulut temannya itu.
"ssstttt!!!!" mata Stela membulat melihat reaksi Ana, jelas dia menutupi masalahnya dari keluarganya. Tentu saja tidak mungkin keluarganya membiarkan jika tahu Yang sebenarnya. Stela terdiam setelah mengerti isyarat yang diberikan Ana.
"ku urang dijelaskeun!" jawab Ana singkat.
Beberapa saat kemudian
Stela memeluk Ana, Ana menyandarkan kepalanya di bahu Stela.
"Naha teu ngomong ka urang?"
"urang apal reaksi maneh pasti kieu, urang Sien maneh kaceplosan ngomong ka si mama," (aku tau reaksi kamu pasti akan seperti ini, aku takut kamu gak sengaja keceplosan kalo ngomong sama mama)
Stela menghela nafasnya, Ana memang tak salah, Stela memang orangnya susah menyimpan rahasia terlebih jika pada orang yang sudah dekat, diapun menyadari itu.
"urang mah sebagai babaturan Ngan bisa ngabejaan, ngageuingkeun, keputusan tetep ti maneh, cuma eta we konsekuensina maneh ges apalkan," (aku sebagai teman cuma bisa ngasih tau, keputusan tetep dari kamu, cuma itu aja, konsekuensinya kamu udah Taukan,"
Ana tersenyum kecut, konsekuensi yang di maksud Stela tentu saja adalah menyandang status janda pada akhirnya.
"eh! maneh apal ti teh Tia kan?!"
"ho-oh!"
'gawat kalo sampai teh Tia ngomong ke Dimas bisa jadi masalah, nih!' batin Ana yang tiba-tiba gelisah.
"tenang we, teh Tia mah tinggal di kolingan, moal ngomong ka sasahalah," Stela yang seperti mengerti apa isi hati Ana langsung menenangkan Ana.
__ADS_1