
“perkenalkan dulu, nama saya Endang, heheeeee,,, jauh banget ya sama nama yang tadi, gak apa-apalah ya, kita harus bangga dengan nama sendiri, apalagi nama itu pemberian dari orang tua,
katanya terdapat doa di dalamnya, meskipun jujur saja saya gak tahu doa apa yang bapak saya ucapkan ketika nama Endang itu lahir, mudah-mudahan maknanya bukan karena pas saya lahir kena tendang ya, hahaaaa,,,” lanjut mang Endang.
“mungkin bikinnya kena tendang dulu kang, hahaaaaa,,,,” hais ayah Agus ternyata yang nyaut tentu saja disambut dengan tawa dapat bonus cubitan maut ala mama Meti juga,. Ayah Agus terlihat meringis sambil memegang tangan mama Metti yang masih mencubit perutnya.
“hahaaaaaaa,,, bisa aja kang Agus nih, kalo ditendang dulu, belum juga jadi udah kena pasal duluan kang, pasal kdrt, hahaaaaaa,,,” pak Steve dengan logat khas bulenya.
“wah, si bule nyaut ternyata,,,hahaaaa,,,” Ayah Agus
“mukanya doank yang bule kang, hatinya tetap indonesia punya, hahaaaaa,,,” pak Steve.
“wah, cinta indonesia sekali ya pak Steve ini, atau jangan-jangan ada yang lain nih, heheeee,,,” mang Endang.
“ah itu mah karena dapet harta karun aja di indonesia, makanya cinta mati sama indonesia,
hahaaaaa,,,” Ayah Agus
“hahaaaaa,,, sebenarnya itu kata sandinya kang, cinta indonesia, kalo gak, gak boleh masuk kamar, hahaaaaa,,,” pak Steve.
“aw,,, its hurt, honey!” pak Steve yang ternyata dapat cubitan dari istrinya, tante Ambar.
‘astaga, kenapa obrolannya jadi menyimpang begini’ Ana menggelengkan kepalanya, untung saja yang kumpul Cuma dua keluarga besar dan beberapa tetangga dekat saja.
“baiklah kita balik ke acara lagi ya, berhubung para istri sudah pada melotot, heheeee,,, ampun mih!” kata mang Endang saat melihat bi Meli, istrinya melotot ke arahnya.
“pertama kita ucapkan selamat datang kepada keluarga besar bapak Steve Colin beserta ibu, kita langsung aja ya, mangga, silahkan kepada pihak pria untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangnnya,” mang Endang undur untuk mempersilahkan perwakilan pihak pria berbicara.
“ehem,,, ehem,,, “
“Selamat malam Bapak, Ibu dan segenap keluarga yang kami hormati. Terimakasih kami ucapkan telah berkenan menerima kedatangan kami sekeluarga. Sebelumnya perkenalkan nama saya Prima, bisa dibilang saya ini kerabat jauh namun cukup dekat, heheee,,, dekat rumahnya maksudnya,
perkenankanlah saya untuk menyampaikan tutur kata mewakili saudara kami Bapak Steve Colin dan
Ibu Ambar Prayoga” pak Prima melihat ke arah tante Ambar dan om Steve, kemudian menganggukan
kepala tanda hormat dan dibalas anggukan oleh keduanya. ”untuk secara resmi menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami ini, yaitu ingin melamar
putri bapak Agus dan ibu Meti yang bernama Ana Azzahra untuk putra kami yaitu Andrean Dave
Colin, atau lebih dikenal dengan nama Andre, mudah-mudahan Bapak dan Ibu berkenan untuk meridho’i niat baik putra kami, dengan menerima lamaran ini.” Para orang tua dari pihak perempuan
menganggukkan kepala. “untuk itu kami sertakan juga seserahan sebagai bukti ketulusan dan keseriusan kami.”
kemudian mang Endang mengambil alih kembali untuk menjawab mewakili keluarga perempuan.
__ADS_1
“Alhamdulillah, akhirnya sudah diutaran juga maksud dan tujuan keluarga A Andre datang ke sini,
sesuai tujuan awal ya yaitu untuk melamar salah satu keponakan saya. Saya sebagai perwakilan
tentu saja merasa sangat senang sekali ya dan tentu saja tidak akan saya tolak, tapi sebaiknya
biar apdol, bagaimana kalo kita denger dulu jawaban langsung dari yang bersangkutannya, gimana
ibu-ibu, bapak-bapak, setuju?!”
“setujuuuuu”” jawaban para hadirin sambil bersorak.
Deg
Semua mata kembali tertuju pada Ana, termasuk mata Andre.
‘astaga! kenapa perasaanku gak enak ya?!’ Ana menelan salivanya dengan susah.
“gimana neng Ana? Diterima gak lamarannya A Andre?” mang Endang
Suasana terasa semakin hening, semua orang seperti menunggu jawaban darinya termasuk mama Meti.
“neng, jawab!” mama Meti berbisik tepat di telinga Ana. Ana berpaling menatap mama Meti yang seperti memberi isyarat agar segera menjawabnya.
“apaan sih mah, gak usah dijawab juga udah jelas kali, udah langsung aja ke acara selanjutnya,” bisik
“eh, cepatan jawab! Semuanya pada nugguin, tuh liat A Andre aja nungguin,”
Sekilas Ana melirik ke arah depan tepatnya ke tempat di mana Andre berada. Benar saja apa yang dikatakan mama Meti, Andre sedang menatapnya dengan tajam, membuat Ana salah tingkah.
“wah, kayanya ini mah yang nanyanya harus A Andre langsung ya, baru mau dijawab, hahaaaaa,,,”
Mang Endang.
Deg!
Riuh suara tawa keluarga besar dalam ruangan itu tak mengalahkan suara detak jantung Ana.
‘sial! Gini ternyata rasanya dibuli keluarga sendiri, hiks!’ batin Ana.
“mangga A Andre, silahkan menanyakan langsung,”
Ana masih menundukan kepalanya, dia benar-benar tak berani mengangkat kepalanya.
“Ana, maukah kamu menikah denganku?”
__ADS_1
Deg,,, deg,,,
‘What????? Ntar dulu, suara siapa itu?’ Ana memberanikan diri menatap ke arah depan, terlihat Andre tersenyum dengan senyuman paling manisnya, membuat Ana terpaku menatapnya.
‘Astaga, apa yang terjadi? jantungku!, kenapa makhluk ini selalu bisa membuat jantungku berdebar kencang seperti ini?’ Ana baru menyadari sosok laki-laki di hadapannya terlihat begitu berbeda dengan stelan
jas dan kemeja yang berwarna senada dengan gaun yang dipakainya, terlihat sangat, tampan.
Mama Meti menyenggol tangan Ana.
“eh! Ya!” spontan Ana menjawab sambil menengok ke arah mama Meti. Membuat semua yang hadir
tertawa, Ana tersadar dari lamunannya, dia menundukan kepalanya semakin dalam menahan malu yang tiada terkira.
“hahaaaa,,,, udah ya, lanjut lagi aja, kasian neng Ana nya, tuh lihat, mukanya udah berubah jadi
muka udang rebus, hahaaaa,,,,ehem,,, ehem,,, alhamdulillah tadi kita sudah mendengar jawabannya ya, berarti lamaran sudah resmi diterima, untuk mempersingkat waktu karena sudah semakin
malam, juga sudah semakin lapar, heheeee,,, kita lanjut aja ke acara simbolik lamaran, yaitu saling memakaikan cincin ya, sebagai tanda ajalah kalau putra putri kita ini sudah ada yang menghitbah, jadi sudah sold out bahasa gaulnya mah, heheeee,,,” mang Endang berhenti sejenak, “Setelah itu kita langsung aja dilanjutkan ke penyerahan seserahan, lalu ditutup dengan doa.” Mang Endang menuntun kedua mempelai agar sanging berdiri dan berhadapan, dipimpin
mang Endang Ana menjulurkan tangan kirinya disambut Andre yang segera menyematkan cincin di
jari manis Ana, selanjutnya acara penyerahan seserahan dilakukan oleh perwakilan keluarga laki-laki
dan perempuan yaitu tante Ambar dan mama Meti, dan acara ditutup dengan doa.
Selanjutnya makan malam bersama dengan nuansa kekeluargaan, bisa leluasa bercanda dengan santai.
“Ana,,, maneh gelis ih, pangling,,,,” Stela menghambur memeluk sahabatnya.
“geulis mah emang ges pada dasarna we,”
“angger narsisna teu kaliwat! Eh, selamatnya my hunny, bunny, sweety,,, muach muach,,,”
“naha telat,?”
“ih maneh, uyuhan sakie ge nyaho, urang ti kuningan sore langsung kadie,”
“teu mandi atuh,”
“mandilah, bisi panggih jeng jodoh, hahaaaa,,, loba bule uy, heheeee,,, eh, urang tadi sempet ngadenge si aa calon ngalamar maneh, cocwiiiiitttt,,, jiga pangeran, ker kasep teh! Eh! tapi Asa pernah nempo ih di mananya eta si aa calon teh!” (panggih\=ketemu, ngadenge\=mendengar,
nempo\=melihat, jiga\=mirip).
Deg!
__ADS_1
Plissss,,, jangan ingat, jangan ingat,,,!