
Setelah Mama Meti mendengarkan dengan seksama dia mulai berpikir, 'lamun Ana apaleun, manya meni santei Kitu? kumaha-kumaha ge, A Andre teh salakina atuh,' (kalo Ana tahu, gak mungkin Ana sesantai itu, bagaimanapun juga a Andre itu suaminya).
Mama Meti dan mami Ambar menghela nafas hampir bersamaan.
"met, aku gak mau ada salah paham antara kita, kamu coba tanya Ana apa yang terjadi, aku akan coba cari tahu apa yang terjadi, sepertinya ada yang tak beres dengan hubungan mereka,"
"Hem, maaf ya Mbar, aku bener-bener gak tau, kabari aku kalo ada apa-apa, aku usahakan secepatnya ke Singapura, kita ngobrol di sana,"
"Hem, oiya gimana keadaan Lia?"
"Dia udah gak apa-apa sekarang, pendarahannya gak lama untungnya, dia lagi hamil tiga bulan, kepeleset di depan kamar mandi, gak hati-hati dianya,"
"Ya Alloh,,, gimana kandungannya?"
"Alhamdulillah kandungannya mah kuat, tapi masih harus bedrest katanya, jadi aku tungguin dia di rumah sakit, besan yang tungguin anaknya Lia di rumah, biar Andi tetep bisa kerja seperti biasa kita bagi tugas,,,"
"Syukurlah,,," mami Ambar menghembuskan nafas lega.
Lalu hening sejenak
"Met,", "Mbar," mami Ambar dan mama Meti bicara bersamaan, mereka pun tersenyum bersamaan walaupun tak berada di tempat yang sama sepertinya kedua sahabat ini masih memiliki ikatan batin yang kuat.
"Kamu duluan aja we," mama Meti memberi ruang agar mami Ambar mengatakan apa yang ada dalam pikiran lebih dulu.
"iya, em,,,, Met, jika ada sesuatu terjadi pada hubungan anak-anak kita, aku berharap itu tak akan mempengaruhi persahabatan kita,"
"Mbar, sepertinya pemikiran kita masih sama, hehe,,," mami Ambar tersenyum.
"Tentu saja, seharusnya kita bertiga akan selalu menjadi sahabatkan?!"
__ADS_1
"Hem, apapun yang terjadi tak akan berpengaruh pada hubungan kita,,,"
"Baiklah mari kita berdoa semoga hubungan anak-anak kita baik-baik saja, hhhhhhh,,, aku ingin segera menggendong cucu,"
"Yah walaupun anak-anak kita ternyata jodohnya tak panjang, mereka masih bisa mencari pasangan masing-masing kan, kamu juga pasti dapet cucu, Mbar"
"Andai cucuku itu dari Ana, itu akan lebih baik, benarkan?!"
"Yah, kita serahin saja sama Alloh, mudah-mudahan masih bisa diperbaiki,"
"Aamiin,,, makasih ya, Met, eh, pesawat ku sudah mau take off, nih, udah dulu ya, nanti aku kabari kalo sudah sampai Singapura,"
"iya, kamu hati-hati, insya Allah baik-baik saja, aku coba ngobrol sama Ana, nanti kita tukar cerita ya,,,"
"Ok!"
Akhirnya sambungan telepon terputus, mama Meti menghela nafas panjang. Saat subuh dia sempat mendengar suara tangisan, bahkan dia sempat berpikir yang aneh-aneh, sekarang dia yakin itu bukan suara kuntilanak tapi suara Ana yang menangis.
"Teh, tadi subuh teh mama denger suara orang nangis, mama pikir aja Jurig di rumah teteh, jigana Ana anu nangis," (jurig\=hantu, jigana\=kayaknya, anu\=yang)
"Hah?"
"Barusan Ambar ngasih tau kalo Andre kecelakaan di Singapura, jigana Ana dapet kabar meren jadi nangis,"
"Naha teu ka Singapura ari apal Andre kecelakaan mah, kumaha Andre cenah, Mah, parah teu?" (Kenapa gak ke Singapura kalo tau Andre kecelakaan, gimana keadaan Andre katanya, Mah, parah ga?)
"Puguh can apal, ayeuna tante Ambar teh lagi mau ke Singapura, mama ge bingung puguh, Naha Ana teu ngomong nanaon tadi pagi sebelum ke kampus, lamun can apal, ari Ana nangis ku naon?" (Belum tahu ini juga, sekarang tante Ambar sedang menuju Singapura, mama juga bingung, kenapa Ana gak ngomong ke mama sebelum pergi ke kampus, kalo belum tahu, lalu Ana nangis karena apa?)
"Aya masalah Kitu?" (Ada masalah kayaknya)
__ADS_1
"Eta puguh anu lagi dipikiran mama teh, udah gitu si Eneng mah da tara ngomong ari aya nanaon teh," (iya, itu justru yang ada dipikiran mama, mana Ana tuh gak pernah ngomong kalo ada apa-apa)
Selepas magrib sepulang Ana dari kampus
"Assalamualaikum,,," Ana masuk ke dalam rumah, tiba-tiba suasana sedikit tegang, sudah ada ayah Agus di sana.
"Yah, kapan dateng?" Ana melangkah mendekati ayah Agus lalu menyalimi tangannya, tak biasanya mereka diam seperti itu.
"duduk," ayah Agus berkata dengan singkat.
Ana mengikuti instruksi dari sang ayah, dia mulai merasa orang tuanya tau apa yang terjadi antara dia dan suaminya. 'apa yang harus aku katakan,'
"Neng, mami Ambar telepon mama, dia bilang a Andre kecelakaan, tadi malem, kenapa gak ngomong sama, mama?"
Deg
Apa yang Ana khawatirkan ternyata tak terjadi, syukurlah bukan masalah perpecahan hubungannya dengan Andre yang mereka bahas. Ana berdiri diam mematung, dia mulai gugup kedua tangannya memegang erat tali tas ranselnya, dia mencoba mencari alasan tentang bagaimana hubungan dia dan suaminya yang membuat dia tak memberitahu tentang kecelakaan Andre.
"neng,,," mama Meti kembali bertanya karena tak ada jawaban dari putrinya.
Ana menundukkan wajahnya,
"maaf, Ma, sebenarnya hubungan Ana dan a Andre sejak awal tak baik, jadi kami memutuskan untuk pisah, aku udah gak mau lagi berurusan dengan a Andre, kalo mama mau jenguk a Andre, mama pergi aja, masalah teh Lia, besok Ana libur, biar Ana yang jaga teh Lia," Ayah Agus dan mama Meti saling bertatapan, banyak yang janggal dari penjelasan yang putrinya berikan.
"jadi sejak kalian nikah, kalian bener-bener gak akur,"
Ana mengangguk lemah, ekspresi kedua orang tua Ana malah semakin terlihat bingung.
"terus sekalipun teu akur, Naha teu ngomong ka mama? kabiasaan kamu mah! masalah kecelakaan ge sampe teu ngomong, Andre teh diheunteu-heunteu oge anaknya tante Ambar, sahabat mama, Neng, mama sampe gak tau apa-apa pas ditelepon, mama jadi teu enak," (terus sekalipun gak akur, kenapa gak ngomong sama mama? itu kebiasaan kamu! masalah kecelakaan juga kenapa gak ngomong ke mama, Andre itu, anaknya tante Ambar, sahabat mama, Neng, mama sampe gak tahu apa-apa saat ditelepon, mama jadi gak enak kan?!) Meti bicara dengan tak sabar, jujur dia sendiri bahkan merasa kecewa dengan sikap putrinya itu.
__ADS_1
Ana masih menundukkan wajahnya, dia mulai menitikan air matanya, 'apa mereka begitu penting untuk kalian? lalu bagaimana dengan aku? kalian tak ingin tahu keadaanku sekarang?' batin Ana getir.