
Tapi tiba-tiba Ana berdiri dan melepaskan genggaman tangan laki-laki itu lalu berbalik hendak pergi, Andre terdiam sesaat. Lalu dia berlari dengan cepat dan
Bugh!
Brak!
Dimas terjengkang setelah mendapatkan tinju dari Andre dia terjatuh mengenai salah satu kursi dibelakangnya hingga tersungkur ke bawah. Ana terkejut saat berbalik, dia melihat meja dan kursi tempatnya duduk berantakan. Ana mencoba membantu Dimas untuk berdiri tapi Andre menggenggam tangan Ana menghentikan langkahnya. Ana terkejut ternyata suaminya lah yang memukul Dimas.
"Om!"
Andre tak menghiraukan Ana, matanya masih menatap tajam pada laki-laki yang berani menyentuh istrinya.
Ana langsung memeluk lengan Andre dia takut Andre akan kembali memukul Dimas. Beberapa orang yang ada di sana sudah bersiap untuk memisahkan.
"Om," Ana memelas dia tak mau jadi bahan gosip apalagi disana adalah lingkungan perusahaan suaminya.
"Jangan coba mendekati istriku lagi! Kau tak akan sanggup menanggung akibatnya!" Bicara dengan tenang namun penuh penekanan.
Andre menarik tangan Ana keluar dari kafe. Ana kesulitan saat mengikuti langkah panjang Andre yang sengaja mempercepat jalannya.
"Om pelan-pelan, tangan aku sakit!"
Andre masih tak menghiraukan ucapan Ana. Hatinya panas sepanas-panasnya, istrinya tak tahu betapa bahagianya dia saat tiba-tiba akan datang berkunjung dan membawakan makanan untuknya. Tapi apa yang terjadi, malah membuat hatinya sakit. Di dalam lift Ana berusaha menjelaskan tapi tak ada tanggapan apa-apa dari suaminya.
"Om, aku serius, aku gak sengaja ketemu Dimas di bawah, dia bilang ada yang mau dibicarakan, awalnya aku gak mau, tapi dia bilang penting, jadi aku ikut dan dia bawa aku ke kafe, itu aja! Gak ada yang lain!" Ana tak berani mengatakan yang sebenarnya, bahwa Dimas ternyata sudah tahu masalah pernikahannya dan juga kepribadian Andre yang menyimpang. Dimas meminta Ana untuk bercerai dengan suaminya dan dia mengatakan dia akan menerima Ana apa adanya, Dimas juga langsung melamar Ana saat itu.
Sesampainya di lantai yang dituju, Andre menarik Ana masuk ke ruangannya.
Sakti terkejut saat melihat Ana ditarik paksa oleh Andre.
"Pastikan jangan ada yang masuk!" Satu perintah membuat bulu kuduk Sakti merinding.
Deg
'sial! Apa yang terjadi?' jantung Sakti tiba-tiba berdegup kencang dia aga sedikit khawatir melihat keadaan Ana, terlebih Andre seperti sedang dalam keadaan marah besar.
"Semoga lu baik-baik aja, Na! Ya Tuhan lindungi nyonya kecil kami,,,"
Brak
Andre menutup pintu ruangan dengan keras, dia mendorong tubuh Ana dibalik pintu, Ana memejamkan matanya dia benar-benar takut pada suaminya. Belum Ana sempat membuka matanya, tiba-tiba sesuatu menempel di bibirnya spontan dia membuka matanya, ternyata itu bibir suaminya dia terdiam hingga saat dia merasa ada sesuatu yang mencoba masuk melalui celah bibirnya barulah dia tersadar.
__ADS_1
"Uhm!" Ana berusaha melepaskan diri dari himpitan tubuh suaminya dia mencoba menggerakkan kepalanya, tapi sebelah tangan Andre menahan tengkuknya, dia menggigit bibir bawah Ana mencari celah untuk memperdalam ciumannya.
"Ugh!" Ana semakin memberontak dia mendorong tubuh suaminya dengan sekuat tenaga, hingga memukul beberapa kali. Andre menggunakan sebelah tangannya yang bebas untuk memegang tangan Ana. Akhirnya Ana menggigit bibir suaminya dengan keras dan akhirnya dia terlepas dari pagutan suaminya.
"Sstttt,,," Andre melepaskan Ana, dia memegang bibirnya yang terasa sakit karena digigit oleh istrinya. Ana berlari menjauhi suaminya walaupun dia merasa bersalah saat melihat bibir suaminya berdarah, tapi saat itu dia masih sangat takut pada suaminya. Dia melangkah mundur saat suaminya berjalan ke arahnya.
"Kenapa? Kamu gak mau aku menciummu? Lalu kamu berharap dia yang menciummu?" Andre merteriak melepaskan semua kekesalan.
Prang!
brak!
Bruk!
"Ah!" Ana berteriak tertahan menciutkan tubuhnya dia takut suaminya akan memukulnya.
Andre menghempaskan semua yang ada dimeja kerjanya. Dia sendiri tak menyangka hatinya akan sesakit ini.
Buk buk buk
"Ndre! Andre!" Sakti yang mendengar suara sesuatu yang pecah diikuti teriakan Ana, mencoba menggedor pintu ruangan Andre, dia takut sahabatnya akan hilang kendali dan melakukan sesuatu yang akan membuatnya menyesal seumur hidupnya.
"Ndre! Buka pintunya! Ana! Kamu baik-baik saja?"
Hening sejenak
"Aku baik-baik aja mas Sakti!" Ana bicara setengah berteriak agar Sakti mendengar dari luar pintu. Akhirnya Sakti berhenti menggedor pintu saat yakin mereka baik-baik aja.
Andre melangkah menjauhi istrinya.
"Pergilah," suara Andre melemah.
Dia terduduk di sofa dalam ruangannya, wajahnya tertunduk lesu. Ana masih terdiam tak bergeming sedikitpun, dia tak tahu apa yang harus dilakukan.
"Om! Bisakah dengarkan aku bicara dulu?!" Ana bicara dengan sangat hati-hati.
"Bisakah kamu tinggalkan aku sendiri?" Andre bukan tak mau mendengarkan penjelasan Ana dia hanya takut kalau penjelasannya sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya. Lalu apa yang akan dia lakukan jika ternyata istrinya mengiyakan bahwa dia mencintai lelaki lain, dia masih belum sanggup.
"Haruskah aku bersumpah agar kamu percaya kalo aku tak punya hubungan apa-apa dengannya?"
Deg
__ADS_1
Andre kembali menatap istrinya, melihat tatapan Andre, masih ada takut dalam diri Ana. Tapi jika tak diselesaikan sekarang maka dia takut kesalahpahaman itu akan terus berlanjut.
"Lalu kenapa kalian berpegang tangan?"
"Dia tiba-tiba memegang tanganku, aku mencoba melepaskannya tapi dia tak melepaskannya, lalu aku berdiri dan menarik tanganku, untuk meninggalkannya."
"Apa hanya itu?" Ana berpikir sebentar, jika dia mengatakan yang sebenarnya apa suaminya akan kembali marah. Ana berjalan memberanikan mendekati suaminya.
"Kenapa dia sampai memegang tanganmu?"
Ana bersimpuh di depan suaminya.
"Sakit?" dia mencoba memegang bibir suaminya yang masih mengeluarkan darah, namun tangan Andre menghentikannya.
"Katakan!" Suara Andre kembali terdengar tegas.
"Berjanjilah dulu, Om tak akan marah!"
Andre menghela nafasnya, jantungnya berdenyut keras. Apa yang dia takutkan akhirnya harus dia hadapi.
"Aku janji,"
Ana menarik nafas dalam, lalu menghembuskan perlahan.
"Dia meminta aku bercerai denganmu, dia melamarku,"
Deg
Andre melepaskan tangan istrinya lalu berdiri meninggalkannya. Jantungnya berdegup semakin kencang, dia benar-benar tak sanggup mendengarnya.
"Om dengerin dulu!" Ana berdiri lalu meraih tangan Andre menghentikan langkahnya. Sebelah tangan Andre memijat keningnya yang terasa pening.
"Hei, Ana membalikan tubuh Andre," mereka berhadapan tapi Andre masih tak mau melihat wajah Ana. Ana menangkupkan kedua tangannya di wajah suaminya agar dia mau menatap matanya.
"Hei, liat aku?" Andre menatap mata Ana.
"Apa sebenarnya yang Om pikirkan?" Lanjutnya.
"Ana, katakan, apa kamu masih mencintainya?" Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang paling dihindari olehnya, tapi mau sampai kapan ini menjadi duri di dalam hubungan mereka. Mungkin ini saatnya Andre melepaskan yang seharusnya dilepaskan.
Ana melepaskan tangannya yang menangkup wajah suaminya, lalu berbalik dan melangkah menjauh.
__ADS_1
"Ana," Andre merengkuh memeluk istrinya dari belakang, dia menempelkan keningnya dibelakang kepala Ana. Andre sudah pasrah dengan jawaban yang akan dia terima. Jika jawabannya ya, Andre akan berusaha melepaskannya. Dia tak ingin membebani Ana dengan pernikahan ini, Andre hanya berharap Ana bahagia.
Ana membiarkan Andre memeluknya.