
Gerbang sebuah rumah dibuka lebar orang seorang satpam, dia menundukkan kepalanya saat mobil sang majikan lewat. Akhirnya mobil mulai masuk ke sebuah rumah dengan taman yang cukup luas. Sampai saat mobil berhenti di depan pintu masuk Ana masih tertidur. Sengaja Andre tak membangunkannya, dia akan ribut lagi kalo bangun, pikir Andre.
Mang Imam dengan sigap membuka pintu belakang mobil, hingga kedua majikannya keluar dengan sempurna dia menutup pintu dan mengambil sebuah koper kecil yang ada di bagasi, serta tas ransel dan laptop milik kedua majikannya.
Dua wanita paruh baya berdiri di depan pintu yang tengah dibuka oleh salah satunya.
"selamat malam tuan," sapanya.
"bawa kopernya ke kamar saya, Bi"
instruksi sang majikan membuat sang asisten rumah tangga membawa koper kecil dan sebuah tas ransel dan laptopnya mengikuti sang majikan yang sudah lebih dulu masuk ke rumahnya.
"perlu saya siapkan makan malam tuan?" tanya seorang art yang satunya berhubung waktu sudah menunjukan jam sebelas malam.
"buatkan teh hangat saja, bawa ke atas" jawab Andre tanpa menghentikan langkahnya.
"baik tuan" setelah mendapatkan instruksinya sang art berjalan menuju dapur.
Andre berjalan memasuki rumahnya dengan Ana dalam dekapannya, sekilas dia melihat wajah Ana yang mulai mengernyit. Sebentar lagi dia akan bangun, semoga tidak banyak protes, pikir Andre. Ana merasakan tubuhnya melayang barulah dia buka mata.
"hei!" Ana terbangun dalam gendongan Andre, sekali lagi dia merasa akan jatuh dan dengan reflek memeluk Andre.
"mau kemana?" Ana bertanya saat Andre baru sampai di ruang tengah.
"kamu mau tidur di luar?" Andre menjawabnya dengan pertanyaan, jika dia menjawab dengan jujur maka sudah dipastikan akan ada yang protes.
"bisa gak sih jawab aja" Ana cemberut karena tak mendapatkan jawaban yang dimau, dia lalu melonggarkan pelukannya saat merasa posisinya aman.
"tumben gak minta turun?"
"huh! anggap aja kompensasi buat kakiku yang pegal" Andre tersenyum, dia mengira istrinya sudah mulai terbiasa dengan keberadaannya, atau mungkin sudah menerima dirinya. Karena selama empat hari ini sepertinya Ana hampir tak pernah menolak perlakuannya.
Ana mulai sadar sepenuhnya, dia mencoba mengenali tempatnya berada kini, rumah yang luas dan megah, dengan barang-barang yang dia pikir sangat mahal bahkan hanya untuk sebuah vas bunga yang kecil. 'ckckck! benar-benar rumah sultan, sebelas dua belas kayaknya sama rumahnya Lee min hoo di film The Heirs!' Ana menggelengkan kepala yang membuat Andre memperkirakan apa yang dipikirkan istrinya.
__ADS_1
"baiklah! selamat datang di rumah, nyonya Andre"
Deg!
'nyonya Andre?!' Ana mengulangi kata-kata terakhir yang diucapkan Andre. Dia terdiam masih mencerna apa yang dikatakan Andre.
Andre mulai menaiki anak tangga satu demi satu.
klotak klotak klotak
Suara koper yang dijinjing oleh art membuat Ana memalingkan wajahnya ke arah asal suara, dia menatap seorang wanita paruh baya yang terlihat kesusahan membawa beberapa barang sekaligus.
"turunkan aku" pinta Ana.
"kenapa? bukannya tadi mau minta kompensasi?"
"itu koperku"
"gak usah! gak usah! biar aku aja yang bawa, kakiku udah gak pegel kok!" Ana mulai bergerak meminta di turunkan. Andre menarik nafas panjang 'seharusnya aku lebih berhati-hati saat menggendongnya agar dia tak bangun'
"diamlah An, kau bisa jatuh nanti!"
"makanya turunin!" Andre seperti mulai mengerti apa yang dipikirkan Ana, istrinya itu tak tega melihat art yang membawa barang banyak di tangannya tanpa ada yang membantu. Andre menghela nafasnya, hanya empat hari mereka bersama tapi dia sudah mulai bisa membaca pikiran istrinya.
Dia menghentikan langkahnya, Ana mengira dia akan diturunkan dari gendongannya.
"Bi, simpan saja kopernya di situ, bawa ransel dan laptopnya saja" Andre berkata pada sang art tentu saja dengan Ana yang masih berada di dekapannya dan dia mulai berjalan kembali.
"hah?" Ana melongo menatap wajah Andre.
"tapi tuan?"
"lakukan saja dan tolong bukakan pintunya."
__ADS_1
Art yang bingung dengan instruksi majikannya mulai menaiki tangga mendahului majikannya lalu membuka pintu sebuah ruangan. Ana melihat ada beberapa ruangan di lantai dua, hanya saja dia masih belum tahu ruangan apa saja itu. Andre berjalan memasuki sebuah ruangan yang pintunya telah dibuka.
Ana mencoba mengenali ruangan yang dimasukinya. Andre meletakan Ana di atas sebuah kasur dengan perlahan, springbed ukuran besar dengan bedcover berwarna abu tua, begitupun dengan dinding dan gordennya yang di desain selaras dengan bedcovernya.
'kamar?' Dia mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, tak ada tanda-tanda kepemilikan seseorang di ruangan itu. Tak ada apapun, foto atau lukisan. 'kamarnya gede banget, kira-kira segede kamar aku sama Dini disatuin, ah! masih lebih gede ini kayaknya, apa ini kamarku?' batin Ana. Dia terduduk di atas kasur melihat Andre yang keluar kamar bersama art yang sudah meletakan tas ransel dan laptop Andre di atas meja.
Tak lama kemudian Andre kembali dengan koper Ana yang tadi ditinggalkan oleh artnya di tengah jalan, tepatnya di salah satu anak tangga.
"kamu gak mandi?" Andre meletakan koper Ana di dekat lemari.
"besok biar asisten rumah tangga saja yang membereskan bajumu, kapan kamu akan mengambil barangmu di tempat teh Lia?"
Andre berbicara sambil berjalan menuju kamar mandi lalu berlalu di balik pintu.
Ana tak menjawab dia lebih memilih merebahkan tubuhnya, merenggangkan setiap sendi tubuhnya yang sempat kaku karena perjalanan yang memakan waktu hampir empat jam, terlebih lagi ulah suaminya yang menjadikan pahanya sebagai alas tidurnya membuat kakinya hampir tak bisa di gerakan.
"gara-gara om-om gak ada akhlak! gempor ieu mah, mana besok kuliah pagi deui! ck!" Ana mengingat kembali apa yang terjadi selama perjalanan yang membuatnya merasa teraniaya oleh suaminya sendiri.
Flashback
Sore hari mang Imam tiba di Bandung dengan menggunakan transfortasi darat yaitu kereta api, dia diminta sang majikan untuk menjemputnya. Karena Andre memutuskan untuk kembali ke Jakarta sore ini, tapi dia belum leluasa untuk menyetir sendiri jadi meminta sopir pribadinya untuk menjemputnya. Begitupun dengan Ana yang sudah harus kembali dengan aktivitas kampusnya.
Mereka akan kembali ke Jakarta selepas magrib, karena Andre merasa tidak enak kepada ayah
mertuanya yang belum dia temui sejak dia sampai di Bandung subuh tadi. Setelah sempat salat magrib berjamaah dan makan malam bersama akhirnya mereka berangkat.
“ma, yah, Ana pergi dulu ya,” Ana menyalimi mama Meti dan ayah Agus diikuti oleh Andre, tak banyak barang yang dibawa Ana karena barangnya sudah berada di rumah teh Lia sejak pertama dia mendaftar masuk kuliah.
“ati-ati ya a, neng kalo udah nyampe kasih kabar ya”
“iya, ma”
Setelah melambaikan tangan mobil mereka mulai melaju keluar komplek perumahan dengan kecepatan standar.
__ADS_1