
Hari pernikahan
Di sebuah ruangan yang terlihat berantakan dengan peralatan makeup, riasan rambut, dan beberapa baju yang tergantung. Dua orang perempuan yang awalnya terlihat sibuk mendandani beberapa pemuda-pemudi yang akan menjadi pagar ayu dan pagar bagus kini telah rampung dilakukan.
Begitupun dengan Ana, dia duduk di depan cermin menatap dirinya yang baru saja selesai dirias oleh MUA. Riasan modern dengan tak menghilangkan ciri khas pengantin sunda, berpadu dengan kebaya modern klasik berwarna putih terlihat pas di badan Ana yang membuat dia terlihat sempurna. Sejak malam hari ini sampai tiga hari kedepan dia akan menjadi ratunya.
malam ini acaranya hanya akad nikah yang di hadiri oleh keluarga besar dari kedua calon mempelai, diakhiri dengan makan malam bersama, esok akan menjadi resepsi hari pertama yang dihadiri oleh para tamu, tiga hari ini yang sudah terlihat sangat melelahkan harus dilalui Ana.
Beberapa orang keluarga termasuk mama Meti dan ayah Agus juga para keponakan begitu antusias saat mereka sengaja menemui Ana.
"meni geulis anak ayah" ayah Agus melihat Ana dengan takjub, sudut matanya sudah terlihat genangan air yang hampir jatuh karena haru.
"ih si Ayah mah, angger we melow padahal ini kan bukan yang pertama," mama Meti mengingat kalau ini adalah pernikahan anak perempuan keduanya, dan dia masih akan menikahkan Dini nantinya.
"eh atuh, namanya juga ke anak, anu biasana nemplok wae, ayeuna udah mau di ambil orang, hiks!" akhirnya ayah Agus terisak, memang Ana adalah anak perempuan yang paling dekat dengannya.
"eeemmmm ayaaaaahhhh,,,," ana yang juga ikut terharu tiba-tiba merentangkan tangannya hendak memeluk ayahnya.
"eeee,,, entong Ari kamu, kek berantakan gera dandannya, aduh ulah nangis atuh neng! luntur Ari kamu!" mama Meti sewot saat melihat anak dan bapak mau pelukan, apalagi melihat Ana hendak menangis, yang akhirnya membuat Ana menahan air matanya dengan menengadah ke atas dan mengibas-ngibaskan kedua tangannya.
"euh si Ayah mah kalah ngarusak riasan Kadieu teh, apal Kitu moal diijinan liat ana tadi teh," mama Meti menggapi tangan ayah Agus mengajaknya keluar ruangan. Lalu satu-satu saudara Ana yang di dalam ruangan mulai keluar tinggalah Ana sendiri.
'pernikah megah ini cuma sandiwara, sayang sekali!' raut kebahagian yang seharusnya terpancar dari seorang mempelai perempuan seperti tak terlihat di wajah Ana. 'kalo ayah sama mama tau, mereka pasti sedih, aku cuma berharap mereka tidak menyalakan diri sendiri,,,, maaf,,," wajah Ana semakin terlihat suram.
__ADS_1
'apa aku harus mempertahankan pernikahan ini? bahkan jika aku merasa sakit sendiri?! atau aku harus mengakhirinya semuanya sebelum memulainya?' Ana menjadi bingung dan bimbang saat melihat ayahnya yang menangis haru karena pernikahannya. Namun tiba-tiba dua orang MUA masuk untuk menjemput Ana kaluar menuju aula tempat akad nikah akan di laksanakan karena acara akan segera di mulai.
'lupakan! bismillah aja we!' batin Ana sambil berjalan dengan dituntun oleh kedua MUA.
Dalam aula semua tamu yang terdiri dari keluarga besar kedua mempelai sudah hadir, begitu juga dengan Andre yang sudah duduk di depan penghulu bersama beberapa saksi dan juga wali nikah perempuan yaitu ayah Agus.
Ana yang tadinya merasa santai mau tidak mau ikut gugup juga saat merasa seluruh mata memandang ke arahnya. Mata Ana fokus ke arah pijakan karena roknya yang sedikit ketat membuat dia harus ekstra hati-hati dalam melangkah.
Saat Ana menghampiri tempat akad Andre berdiri dan menjulurkan tangannya untuk membantu Ana duduk di sampingnya. Sesaat Ana menatap tangan Andre, getir itu semakin dia rasakan. Andre tersenyum saat Ana menatapnya, dia lalu memegang tangan Andre dan duduk disampingnya.
Fokus Ana mulai teralihkan kembali saat dia mengingat pesan yang dikirim teh Tia yang mengatakan kalo Andre positif gay. 'bisakah pernikahan ini bukan cuma sandiwara?!,' batin Ana, pikiran itu membuatnya kehilangan kendali atas air matanya. Andre yang menyadari itu berusaha menggapai tangan Ana untuk digenggamnya, tapi berhenti saat melihat Ana menyimpan tangannya di samping pahanya.
Deg!
*****
"shah?" setelah ijab dilakukan penghulu lalu bertanya pada saksi.
"Shah!" saksi memberikan kesaksiannya, setelah itu dilakukan doa pengucap syukur.
Akhirnya akad selesai, Ana dan Andre resmi menjadi pasangan suami istri terlepas dari persyaratan apa yang ada dibelakangnya, mereka tetaplah suami istri yang diakui oleh agama dan pemerintah.
Saat tiba acara sungkeman perkataan sang ibu dan anak diwakili oleh seorang sinden, Ana mencurahkan semua air matanya saat memeluk ayah dan mamanya, "maaf" kata itu terucap berkali-kali dari bibir Ana. 'sebegitu tersiksanya kamu menikah denganku, An?! jika aku mengakhirinya dengan cepat, apa kamu akan merasa senang?!' batin Andre yang semakin merasa tersiksa ketika harus kedua kalinya melihat Ana menangis.
__ADS_1
Satu demi satu acara selesai dilaksanakan, Ana dan Andre, diantara mereka masih tak ada yang mau membuka suaranya, mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Saat ini mereka sedang berganti baju dengan gaun yang lebih simpel untuk acara makan keluarga. Gaun panjang berlengan pendek dan memiliki kerah berdiri ala baju tradisional Cina, membalut tubuh Ana dengan ketat sehingga semakin membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas. Juga warna maroon membuat kulit Ana yang berwarna kuning Langsat semakin bersinar.
Andre masuk ke ruangan saat MUA memberi isyarat, dia menyibakkan tirai yang menutupi pintu, matanya langsung tertuju pada penampilan Ana yang membuatnya tertegun sejenak 'gadis daster ini, saat memakai gaun seperti ini terlihat sangat ****'
Sementara Ana yang sejak tadi hanya fokus pada pikirannya, tak menyadari Andre berada di satu ruangan dengannya.
"kenapa, a? ngeliatnya sampe segitu banget, cantik ya?"
"ehem!" Andre berdehem menanggapi, berusaha menutupi rasa malunya yang ketahuan menatap istrinya dengan intens. Ana berbalik dengan cepat menghadap Andre yang sudah memalingkan pandangannya.
"pasti pada pengen acaranya cepat selesaikan?!heheee,,," MUA yang satunya lagi mulai menimpali.
"tenang aja a, udah halal kok!"
Ana yang mendengarnyapun tersipu malu.
"aku keluar duluan," Ana kaluar dengan cepat, dia memegang dadanya detak jantungnya berdegup kencang membuat nafasnya menjadi pendek.
Saat berjalan kembali menuju aula, Ana kembali dengan pikirannya 'apa aku harus ikutin cara teh Tia aja? aku rasa aku juga punya hak untuk mempertahankan pernikahanku,, jika a Andre masih bisa diobati,,,,' batin Ana. Dia kembali mengingat apa yang dikatakan teh Tia dalam chatnya kemarin malam. Teh Tia meminta Ana menguji kepribadian Andre yang sebenarnya. Bukan itu yang membuat Ana keberatan, tapi cara mengujinya yang membuat dia merasa enggan, pasalnya dia harus menggunakan tubuhnya untuk menguji Andre.
Seketika Ana bergidik ngeri saat teh Tia mengatakan bahwa dia harus menggoda Andre dengan urusan ranjang, wajah Ana tiba-tiba memerah. "sial! apa yang aku pikirkan?!"
"apa?" Tante Ambar yang ingin membawa Ana berkeliling untuk diperkenalkan pada keluarga besarnya tidak sengaja mendengar gumaman Ana.
__ADS_1
"ah! bukan apa-apa mam!" Ana tersenyum canggung.