Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
Misi


__ADS_3

Akhirnya acara selesai, Ana yang tak sabar ingin segera pulang untuk istirahat, dengan cepat masuk ke ruang rias hendak ganti baju. Ana mencari tas ransel yang dia bawa dari rumahnya berisi pakaian ganti.


"ck! dimana sih?!" dia terus mencari sambil menggerutu, akhirnya dia duduk di kursi karena sudah tak sanggup berdiri, dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Seluruh badannya terasa remuk, terutama kakinya yang terasa sangat pegal karena harus berjalan berkeliling aula dengan menggunakan hak tinggi. Belum lagi dia dipaksa berdansa dengan beberapa orang sekaligus.


Tak berapa lama seorang MUA masuk ke ruangan.


"lho teh, kok disini?"


"aku nyari tas aku, liat ga? yang warna hijau tua, tas ransel."


"waduh, aku gak liat teh, tas apa emangnya?"


"tas baju, aku mau ganti baju, mau pulang, capek! pengen tidur," Ana menjawab dengan mata setengah tertutup.


mendengar ucapan Ana MUA mengerutkan keningnya, tapi tak dia hiraukan, dia melanjutkan pekerjaannya yaitu membereskan alat makeup dan yang lainnya.


Sementara di aula.


"mam, mana Ana?" Andre menghampiri mami Ambar yang sedang besama beberapa keluarga bersiap meninggalkan aula menuju lift untuk naik ke kamar hotel masing-masing.


"lho, mami pikir dia ke atas sama kamu,"


"bukannya tadi,,," Andre menghentikan ucapannya lalu berbalik hendak mencari Ana.


"makanya Ndre! jangan ditinggal-tinggal jadinya ilang deh, hahaaaa!" Beberapa kerabat menyahuti sebelum Andre kembali ke aula untuk mencari Ana. Memang setelah sesi foto keluarga berakhir menandakan acara selesai yang akan dilanjutkan dengan makan malam keluarga Andre sudah tak bersamanya. Terakhir mereka bertemu di ruang ganti, dia lebih banyak ditemani oleh Weni saat berkeliling untuk menyapa beberapa saudaranya.


Andre melihat sekeliling aula yang hampir tidak ada orang lagi, hanya beberapa petugas yang sedang beberes.


'dimana dia?' Andre memijit keningnya terasa pening karena lelah.


Weni yang sempat kehilangan Andre, akhirnya kembali ke aula untuk mencarinya.


"mas! ke atas sekarang, yuk! aku capek pengen istirahat, kakiku pegal!" Weni memukul-mukul pelan pangkal pahanya yang memang terasa pegal dengan wajah kelelahan.

__ADS_1


"kamu liat, Ana?" Andre tak menggubris Weni.


'ck!' batin Weni yang tak suka mendengar Andre bertanya tentang Ana. Sejak tadi memang Weni sengaja menempel terus pada Andre, agar Ana tak punya kesempatan untuk mendekati Andre.


"mungkin dia ke kamar duluan," jawab Weni asal.


Andre mengerutkan keningnya, lalu berjalan keluar pintu aula karena dirasa tak ada orang yang dia cari disana.


'apa dia benar-benar sudah di kamar hotel?' tak pikir panjang Andre segera berjalan menuju lift dengan cepat, diikuti oleh Weni.


"mas! jangan cepet-cepet! kaki aku sakit!" Andre mengurangi kecepatannya, dan Weni merangkul tangan Andre untuk dijadikan pegangan.


"a...! tunggu...! a...!" seseorang memanggil Andre dari arah belakang, Andre yang tak ngeh dipanggil oleh seseorang masih meneruskan langkahnya, tapi orang itu berjalan cepat menghampiri Andre, dan memegang baju tangannya hendak menghentikan langkah Andre.


Andre yang menyadari itu langsung menepis tangan yang memegang lengan bajunya dengan spontan.


"ah! maaf!" perempuan itu merasa bersalah, apalagi melihat tatapan Andre yang menatapnya dengan tajam karena tak suka bajunya disentuh orang lain, terutamanya perempuan yang tak ia kenal. Sesaat kemudian Andre tersadar, dia mengenal perempuan yang menghentikannya.


"lho! Anda bukannya petugas MUA?"


Andre membuka pintu dan menyibakkan tirainya dengan tergesa-gesa. Dilihatnya Ana yang menelungkupkan wajahnya di atas meja rias dengan kakinya yang dibiarkan menggantung tanpa alas kaki, tumitnya yang terlihat memerah menjadi perhatian Andre.


Andre menghela nafas panjang, lalu menghampiri Ana, mengelus rambutnya dengan lembut yang terurai sebagai, dia mencoba membangunkan Ana, tapi tak ada reaksi.


'bisa bisanya dia tidur lelap dengan posisi seperti ini!'


Andre merengkuh tubuh Ana menggendongnya dengan ala bridal style, berjalan meninggalkan aula, dia bahkan tak menghiraukan Weni yang sejak tadi mengikutinya dengan berjalan pincang disebelahnya.


"ugh!" Ana yang tiba-tiba merasa tubuhnya melayang memaksakan kesadarannya dan membuka mata. "aaahhhh...!" Ana berteriak dengan tangan yang langsung merangkul leher Andre dengan spontan sambil menutup matanya, yang ada dipikirannya sekarang dia akan terjatuh.


"hei! bisakah kau melonggarkan pelukannya, aku tercekik!" mendengar suara yang tak asing dia membuka matanya, betapa terkejut Ana saat tersadar bahwa wajahnya sangat dekat dengan wajah Andre, bukan hanya dekat lebih tepatnya pipi mereka sekarang saling menempel.


Deg!

__ADS_1


Ana langsung menarik wajahnya dan melonggarkan pelukannya, membuat kesadarannya kembali dengan sempurna.


"turunkan aku!" pinta Ana hendak melepaskan pelukannya.


"jangan lepaskan! kalo kamu jatuh aku mungkin tak akan sebaik itu untuk menggendongmu lagi!"


Ana terdiam, dia merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang. Sekarang dia ada dalam pelukan suaminya, dia bisa menghirup wangi tubuhnya, merasakan kehangatan dan bahkan mendengar detak jantungnya. Sesaat Ana merasa tak ingin melepaskannya, bahkan jika suaminya adalah seorang gay.


'benar! ini waktunya?! aku bisa mencoba menguji kepribadiannya,'


Tanpa sadar Ana mengencangkan pelukannya, menyusupkan wajahnya di ceruk leher Andre, menghirup dalam-dalam wangi tubuh maskulin suaminya. Andre tersenyum,


"sekarang sudah sampai, kamu masih tak rela melepaskan pelukanmu?"


Ana menegakan kepalanya, matanya menatap ke arah depan. 'ah sudah didepan pintu ternyata, kenapa cepet banget nyampenya?!' ana mengeluh dalam hati saat dia harus melepaskan pelukannya 'astaga! kenapa pikiranku jadi mesum gini?!' lanjutnya.


Dengan cepat Ana turun dari gendongan Andre, Andre tersenyum lalu membuka pintu kamar hotel dan mempersilahkan Ana masuk.


"tunggu! kita tidur dikamar ini?" saat Ana masuk, dia melihat kamarnya sangat mewah dengan dekorasi khusus buat pengantin baru. Ada kelopak bunga dimana-mana juga lilin aroma terapi.


"jangan hiraukan!" Andre masuk ke dalam dan mulai membuka jasnya. Ana melangkah perlahan, matanya masih terus mengagumi dekorasi kamar. Tak selang berapa lama dia langsung menghampiri tempat tidur, merengkuhkan tubuhnya, tangannya mengambil kelopak bunga yang bertebaran di atas tempat tidur, Ana tersenyum melihatnya. 'semangat Ana! kamu pasti bisa!'


Setelah menyemangati dirinya Ana lalu melompat ke atas tempat tidur dengan posisi merebahkan tubuhnya.


"aaaaaahhhhh,,, akhirnya,,, " Ana menggerakkan tangan yang terlentang, Ana memalingkan kepalanya ke arah sofa, ah ternyata tasnya ada disini, Ana duduk dipinggiran tempat tidur dengan enggan, tapi dia harus membersihkan makeup dan mengganti bajunya sebelum tidur.


Andre tersenyum melihat kelakuan Ana.


"tidurlah di kasur, biar aku tidur di sofa!" Ana menengok ke arah Andre, dia sedikit terkejut melihat penampilan Andre dengan kancing kemeja yang hampir terlepas semua, mengekspos dada bidangnya. Ana memalingkan wajahnya, yang sudah hampir seperti udang rebus, dengan jantung yang berdegup semakin kencang.


"kenapa? bukannya kasurnya terlihat besar? kita bisa berbagi tanpa harus merasa sempit!" mencoba berkata dengan santai sambil berjalan menuju sofa mengambil tas ranselnya. Ucapan Ana jelas membuat kening Andre berkerut. Sementara Ana yang masih mencoba mengatur detak jantungnya, dia berjalan menuju kamar mandi, Ana memegang dadanya sesaat setelah pintu kamar mandi ditutup.


'apa dia tau apa yang dia katakan?!' Andre menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


'tenang Ana! misi ini baru saja dimulai!'


__ADS_2