Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
100 Persiapan Pindah


__ADS_3

Kriiiinnngggg,,,,


"Astagfirullah, reuwas," (astagfirullah, kaget) Siti terlonjak kaget saat mendengar suara ponsel berdering.


"mama?!"


Deg


Jantung Ana berdetak cepat, 'kenapa mama telepon, apa dia tau masalahku? gak mungkin, tau dari siapa?' batin Ana gelisah.


"halo, ma?" Ana menjawab telepon dengan ragu-ragu.


"assalamualaikum,,, "


"waalaikumsalam,,,"


"Tah Kitu atuh Ari ngangkat telepon teh, eh Neng, mama lagi di kereta, mau ke Depok, tapi jigana mama moal bisa ka dinya, si teteh masuk rumah sakit, gak ada yang nungguin kasihan a Andi"


"hah teh Lia masuk rumah sakit? kapan? kok bisa? kenapa?"


"Ari kamu dimana ini?"


"eh,,, em,,, di kampus,,," Ana berbohong karena bingung mau bicara apa, jika dia bilang di rumah dia takut akan banyak pertanyaan dari mama nya yang akan sulit dia jawab.


"oh ya udah atuh nanti kamu ke rumah sakit we ya, mama pengen ketemu, ari a Andre kumaha kabarna?"


"ari mama ih, pertanyaan abi can dijawab, a Andre lagi ke Singapura, lagi ngurusin perusahaan barunya disana, jadi nanti aku sendiri yang ke RS ya,,,"


"oh nya atuh, eta si teteh jatuh di depan kamar mandi cenah, pendarahan, pek pas dipariksa teh cenah ker hamil tilu bulan, da kabiasaan si teteh mah ari hamil teh sok kabolosan wae, Salma ge Kitu pan, apal-apal ges opat bulan, untung si utunna kuat, Alhamdulillah,,, untung keneh," (oh iya, si teteh jatuh di depan kamar mandi, pendarahan, setelah diperiksa ternyata lagi hamil tiga bulan, kebiasaan si teteh kalo hamil ketahuannya pas udah gede, hamil Salma juga gitu, ketahuan udah usia kandungan empat bulan, untung janinnya kuat).


"Alhamdulillah,,,"


"nya, Alhamdulillah pisan, Ngan kudu bedrest cenah, ya udah atuh ya, sok kamu lagi di kampus mah, ke ku mama dikabaran deui,,"


"nya atuh, mama kabaran lamun tos dugi, hati-hati nya, ke ngobrol deui we di rumah sakit," (kasih kabar kalo sudah sampai, hati-hati ya, nanti ngobrol lagi di rumah sakit).

__ADS_1


Tak lama setelah telepon ditutup, ponsel Ana kembali berdering, ternyata Mia kembali meneleponnya.


"halo, Mi, sorry tadi kelupaan pagi nelepon lu, gimana?"


"lu shareloc deh, gue ke sana ya,"


"hah? lu gak masuk?"


"tanggung, gue udah di luar, kalo masuk lagi entar kena semprot,"


"ya udah," Ana mematikan teleponnya, lalu mulai men-share lokasinya. Ana menghela nafasnya, biarlah Mia datang dia butuh orang yang bisa diajak bicara. 'aku butuh curhat, biar tetep waras' batin Ana.


Dua jam kemudian


"brengsek! dasar laki gak tau diri! bininya yang mana, yang bunting yang mana! ya udah sekarang nunggu apa lagi, dia udah ngomong pisah ama lu, lu masih mau tinggal di sini, hah?" Mia geram setelah dia mendengar cerita dari Ana tentang apa yang terjadi tadi malam dan juga chat yang dikirim Andre pagi tadi.


Ana menghalangi nafasnya, dia kadang iri pada temannya, Mia orangnya blak-blakan apa yang ada dipikirannya, itu yang akan dia ucapkan. Mungkin jika dia seperti Mia dia tak akan merasa sesakit ini.


Ana bukan tak mau pergi, awalnya dia ingin mencari dulu kontrakan sebelum pergi, tapi yang Mia katakan benar, sudah ada kata perpisahan dari suaminya, dia akan menjadi wanita yang tak punya harga diri jika masih tinggal di rumah itu.


Ana menggeser tubuhnya memaksa untuk berdiri.


"bareng-bareng aja, gue udh gak apa-apa, kok,"


Ana berjalan menuju lemari bajunya, lalu mengeluarkan koper yang dia bawa saat pertama kali datang ke rumah itu. Dia menatap bajunya yang tersusun rapi, di sebelahnya baju suaminya juga tersusun dengan rapi, tak terasa Ana kembali meneteskan air matanya. Mia menepuk pundak Ana dengan lembut.


"Na, laki kaya gitu gak pantes lu tangisi, lu tau, kemungkinan dia lagi bahagia sama selingkuhannya yang lagi hamil itu," Ana menggigit bibir bawahnya, hatinya terasa diiris saat mendengar ucapan sahabatnya, tapi bagaimanapun itulah yang sebenarnya. Ana mengelap air mata dengan kedua tangannya.


"ayo kita mulai," Ana menatap Mia, begitupun sebaliknya lalu mereka saling menganggukkan kepala tanda setuju.


Satu jam kemudian


Ana dan Mia berdiri di sudut kamar menatap barang yang akan mereka bawa.


"sial! kenapa jadi sebanyak ini?" Ana menghela nafasnya, barangnya yang dulu dia bawa tak lebih dari dua koper saja sekarang dua koper dan beberapa tas ransel juga dua polibag penuh dengan barangnya.

__ADS_1


"gimana bawanya?" Ana menggeleng lesu lalu berjalan ke tempat tidur dan merebahkan dirinya, peluh melumuri seluruh tubuhnya.


Mia masih berdiri kedua tangannya bertolak pinggang, tak lama dia mengikuti Ana merebahkan diri di sampingnya.


"Mi, sorry ya gue udah ngerepotin lu,"


"ck! apaan sih lu,"


"ngomong-ngomong lu gak apa-apa gue numpang di kosan lu?"


Mia menoleh ke arah sahabatnya berada.


"lu kalo masih nganggap gue sahabat gak usah ngerasa gak enak, oke!" Ana tersenyum menatap sahabatnya, betapa dia harus banyak bersyukur karena Tuhan telah menempatkan seorang sahabat di dekatnya yang tak berpaling saat dia terpuruk. Ana memiringkan badannya memeluk Mia yang masih dalam posisi terlentang.


"syukurlah,,,"


"kenapa?"


"gak apa-apa," Mia menggerakan hidungnya mengendus-endus, sampai dia berpaling ke arah Ana.


"emh! sialan lu, Na! minggir sana!" Mia mencubit hidungnya sendiri lalu mendorong tubuh Ana agar menjauh, dia sendiri bangkit dari tidurnya.


"lu belum mandi ya, asem tau, !" Ana yang terkejut karena didorong dengan kasar mulai mengendus-endus bagian tubuhnya.


"masa sih?!"


"ih njir, jorok, lu!" Mia berdiri lalu menjauh dari sahabatnya.


"ya elah, asem dikit mah nanggung, Mi! lu bilang lu sahabat gue,,,,"


"gue sahabat lu bukan berarti gue mau nyium bau asem ketek lu, iiihhhh,,,"


Hahahaha,,, Ana tertawa lepas, dia merasa lucu juga geli saat melihat Mia bergidik jijik.


"mandi sonoh, lu!"

__ADS_1


Hahahaha,,,


"iye-iye, gue mandi!" Ana melengos menuju kamar mandi, disana banyak sekali jejak yang dia dan suaminya tinggalkan, di kamar mandi itu suaminya sering menggodanya hingga mereka sering mandi bersama dan tentu saja saling melepaskan gairahnya. Ana kembali meneteskan air matanya, dia menyalakan shower agar bisa menyamarkan suara tangisnya.


__ADS_2