
Flasback On
Setelah mang Imam datang memberikan kunci cadangan, Ana lalu membuka pintu kamar mandi. Ana masuk lebih dulu dan melihat teh Tia tergeletak di lantai kamar mandi.
"Teh, Teh, Teh Tia! bangun Teh,,," Ana mengangkat kepala teh Tia dan disimpan dipangkuannya, lalu menepuk-nepuk sebelah pipinya.
"Mang, siapin mobil kita ke rumah sakit,"
"Baik, Tuan,"
"A, bantu angkatin ke mobil, aku ambil tas dulu" Andre menatap wajah Ana,
"udah cepet! Darurat, aku gak apa-apa," Andre menghela nafasnya lalu mulai mengangkat tubuh teh Tia.
"Sayang bawain dompet sama ponselku," Andre mengangguk, Ana berlari menuju kamar mereka,
"ada apa?" Tiba-tiba Weni berdiri di ambang pintu kamar tempat kejadian, spontan Weni menyingkir saat melihat Ana berlari ke arahnya untuk segera keluar. "Teh Tia pingsan," Ana mengatakannya saat berlari melewati Weni.
"Sayang, bawain dompet sama ponselku!" Andre setengah berteriak. Mendengar Andre berteriak dengan lantang memanggil Ana dengan sebutan sayang, membuatnya sedikit panas. Tapi dia sedikit penasaran dengan perempuan yang berada dalam gendongan Andre
"Teh Tia?" Belum sempat dia menghampiri, Andre sudah berjalan hendak keluar dari kamar.
"Siapa ini?" Weni mengikuti Andre keluar dari kamar. "Mas, dia siapa?" Weni kembali bertanya dengan tidak sabar.
"Dia temannya Ana, karyawan perusahaan kita, kalo gak salah divisi SDM," Andre menjelaskan sambil terus menggendong teh Tia menuju mobil, pantas sekilas Weni merasa mengenal wanita dalam gendongan Andre.
Flashback Off
"hei, kamu jangan terlalu pengen tau, itu urusan pribadi mereka," Andre memperingatkan Ana saat istrinya itu menatap intens pada dokter yang sedang menerangkan keadaan teh Tia pada Dimas.
"aku gak yakin Dimas ngerti, A,"
Setelah menjelaskan dokter lalu pergi meninggalkan Dimas. Ana lalu mendekati Dimas, mau tak mau Andre mengikutinya.
"silahkan di tanda tangani, Mas, ini untuk persetujuan tindakan USG, dan ini petugas yang akan menginformasikan ruangan inapnya." Dimas menerima form lalu menandatanganinya dan petugas ruangan mulai menginformasikan ruang inap yang tersedia.
__ADS_1
"jadi gimana, Di?" Ana bertanya dengan tak sabar.
"gak apa-apa, sekarang teh Tia mau di USG untuk memastikan janinnya," Dimas bicara sambil menandatangi form rawat inap.
"aku mau memenin USG nya, boleh ya?!"
Dimas mengangguk sambil tersenyum puas.
"hei," Andre menggoyang tangan yang menggenggam tangan Ana.
"A, aku temenin teh Tia ya,"
"kan udah ada dia, kamu ngapain lagi?" Andre menunjuk Dimas dengan telunjuknya, Dimas membelalakkan matanya tak percaya. Ana menarik Andre untuk menjauh, dia takut konflik antara suami dan sahabatnya itu semakin panas.
"A, pliss,,,, Dimas itu laki-laki, dia mana ngerti urusan kaya gini,, aku janji nanti kalo USG nya selesai aku langsung nyari A Andre" Ana merajuk meminta ijin, Andre menghembuskan nafas kasar dia selalu menjadi pihak yang lemah di hadapan istrinya.
"baiklah, tapi ingat! jangan terlalu dekat dengan orang itu! Satu lagi kamu jangan memanggil dia dengan nama panggilan sayang kalian dulu! aku gak suka!"
"hah? nama panggilan sayang?"
"itu bukan panggilan sayang, semua orang di kampus manggilnya gitu!" Ana mencoba meluruskan kesalahpahaman.
"ya, ya terserah apalah itu, aku gak suka!" Ana tersenyum melihat tingkah suaminya, bahkan dalam keadaan darurat seperti inipun dia ingat masalah itu.
"iya, iya, jangan cemberut gitu dong, gak lucukan seorang CEO ganteng dan dingin, cemberut gara-gara istrinya manggil nama kecik cowok lain," Ana tertawa pelan sambil mencubit kedua pipi suaminya.
"hei itu bukan sesuatu yang lucu,""
"iya, iya, aku janji gak akan lagi panggil dia dengan nama panggilannya,," Ana menggunakan dua jari telunjuk dan jari teganya untuk membuat simbol janji.
Andre terasenyum, hatinya berbunga istrinya ternyata peka saat dia sedang merajuk.
"ya udah, aku tunggu di depan, ingat!"
"iya, jangan terlalu dekat! aku tau,"
__ADS_1
"baiklah, cepat balik ya istriku,"
Ana tersenyum lebar untuk membuat suaminya senang, lalu menghembuskan nafasnya setelah dia berhasil pergi dari suaminya.
"dasar lebay," gumam Ana sambil tersenyum, walaupun begitu Ana tetap menyukainya, suaminya yang Labay itu membuat dia merasa menjadi yang paling spesial.
Ana berjalan menghampiri bed teh Tia yang sedang di dorong beberapa suster untuk dipindahkan ke ruang USG, Dimas mengikutinya dari belakang
"Ana. Dimas?" Teh Tia bicara pelan saat Ana berada tepat di samping kepalanya, Ana mengangguk tak berdaya.
"aku belum cerita apa-apa," bisik Ana disambut anggukan teh Tia.
"biar aku yang cerita" Ana memegang tangan teh Tia berusaha menguatkan.
Teh Tia meneteskan air matanya saat dia mendengar degupan jantung janin dalam rahimnya yang terdengar jelas seperti selaras dengan degupan jantungnya yang begitu cepat. Ternyata usia kandungannya memasuki sebelas Minggu, hampir tiga bulan, dokter mengatakan janinnya sehat dan kuat, walaupun tubuh ibunya sedikit lemah. Kemudian dokter mulai menyalakan alat USG, suster membatu memberikan tisu dan gel pada perut bagian bawah lalu alat USG mulai ditempelkan dan digerakkan mencari posisi bayi dalam rahim.
"Ini kepalanya, ini kedua kaki dan tangannya, mata, hidung, telinganya sudah terlihat walau belum sempurna," dokter mulai menjelaskan apa yang terlihat di monitor, Teh Tia tersenyum memperhatikan, hatinya terasa hangat, dia bertekad untuk mempertahankan janin dalam kandungannya apapun yang terjadi. Ana melihatnya dengan rasa haru, spontan dia ikut mengelus perutnya, awalnya dia ingin menunda kehamilan tapi saat melihat sebuah kehidupan kecil yang tumbuh dalam rahim teh Tia, membuatnya ingin segera menjadi ibu. Dia tak ingin menyia-nyiakan keajaiban yang Maha Kuasa dengan menunda kehamilannya.
Dimas yang sejak tadi berdiri memperhatikan tapi pikirannya masih terus ke arah lain, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang sudah menghamili kakaknya? Apa dia dilecehkan orang? Dimas menatap Ana intens, dia melihat ekspresi Ana yang sepertinya juga sudah tahu tentang kehamilan kakaknya. Sebelumnya, Dimas sempat mendengar gosip tentang teh Tia dekat dengan atasannya, tapi saat dia bertanya teh Tia membantahnya dan semenjak itu memang tak terdengar gosip mereka lagi, hingga Dimas mengabaikannya.
Sementara itu di luar IGD Andre beberapa kali mengirim chat pada istrinya tapi tak satupun yang dibalas.
"Sedang apa sebenarnya? lama sekali!" Andre berdiri berjalan menuju pintu IGD yang terbuat dari kaca, menengok berkali-kali berharap istrinya akan segara keluar. Dia merasa tidak tenang karena harus melepaskan istrinya berdua bersama mantannya itu.
"Sial! Ayo An, balas!" Andre menatap ponselnya dengan tak sabar.
*******
Yeeyyyy,,, Sundayyyy,,,
Makasih reader semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏
Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,
Kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat author, hehe,,,
__ADS_1
Makasih sekali lagi,,,