Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
Lebih cepat, lebih baik!


__ADS_3

Pagi-pagi sekali mereka bersiap-siap, Ana ingin berjalan-jalan disekitaran Malioboro sebelum kembali ke Bandung. Dia hanya memiliki sedikit waktu, Dzuhur Ana harus udah ada di rumah, dia mengambil jadwal keberangkatan kereta jam dua lebih dua puluh menit siang ini.


Tak disangka ternyata di sepanjang jalan Malioboro sudah sangat ramai, padahal jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


Banyak dari mereka yang menjajal tempat sarapan, begitupun Ana, Dini dan Rama. Mereka sengaja menunda sarapan di rumah karena ingin mencicipi makanan khas Jogja juga menikmati suasana pagi di Malioboro. Awalnya Ana ingin sarapan dengan nasi gudeg, Tapi karena ini masih terlalu pagi, terlalu berat kalo makan dengan porsi banyak, apalagi dengan banyaknya yang membeli membuat Ana mengurungkan niatnya, akhirnya dia dan yang lain lebih memilih sarapan nasi kucing, lengkap dengan sate-sateannya.


Setelah sarapan Ana dan yang lain meneruskan berjalan-jalan di jalan Malioboro, bahkan jam segini seniman Jogyakarta sudah memulai aksinya, seperti biasa Malioboro selalu ramai. Mungkin karena pas waktu liburan kenaikan kelas, jadi bukan hari Minggupun sangat ramai.


Tak lupa Ana mampir ke beberapa toko baju, niatnya untuk membeli oleh-oleh masih harus dituntaskan.


"sudah selesai, mbak?" tanya Rama setelah melihat Ana memisahkan beberapa baju, begitupun dengan Dini yang sepertinya sudah selesai memilih baju yang dia sukai


"sebentar!" Ana berkeliling kembali, memilah-milah dan kembali berjalan.


"mbak, boleh lihat baju buat anak, sekitar 3tahunan," Ana ingin membeli baju untuk Salma, Sebentar lagi dia akan pergi ke Depok, sekalian bawa oleh-oleh buat Salma, pikirnya.


"silahkan mbak, sebelah sini," yang punya toko menuntun Ana ke tempat pakaian yang khusus untuk anak, Dini dan Rama mengikuti dari belakang.


"ini teh, bagus! cerah! bagus kalo dipake Salma, dia kan putih," Dini mengambil satu setel pakaian, berwarna merah.


"ho-oh," Ana mengambil baju yang disodorkan Dini.


Setalah dirasa lengkap semua oleh-oleh yang akan dibagikannya, Ana, Dini dan Rama memutuskan untuk pulang, jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas siang.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Ana membereskan kembali semua perlengkapan Yang sempat dipakainya kemarin. Setelah itu dia membersihkan diri, lalu sembahyang dzuhur. Setelah selesai makan siang Ana meminta Rama mengantarnya ke Stasiun kereta, masih jam satu lebih lima belas menit. perjalanan rumah ke stasiun hanya memakan waktu sebanyak tiga puluh menit saja, tidak terlalu mepet untuknya.


Ana melakukan cek in lalu menunggu di ruang tunggu dalam, dia sempat membeli beberapa roti dan minuman sebelum kereta yang akan ditumpanginya sampai.


Enam jam kemudian, tepatnya jam sembilan kurang sepuluh, Ana sampai di stasiun Bandung. Dia tak meminta orang rumah untuk menjemput, dia lebih memilih memakai ojek online agar cepat sampai dan tidak membuat orang rumah repot.


Keesokan harinya


"neng, jadi kumaha? udah diputusin kapan mau nikahnya?"


"tau ma ah! pusing Ana,"


"ya kalo kamu belum siap mah, tinggal bilang aja, jangan maksain," Mama Meti mulai percakapan serius.


Ana yang sejak tadi menyiram tanaman kini menyudahi pekerjaannya, dia menutup keran lalu membersihkan lantai yang sempat terciprat air.


Mama Meti yang tadi sedang mencabuti daun yang menguning di salah satu tanaman potnya sekarang ikut duduk di samping Ana.


"iya, nanti Ana ngomong,"


Malam menjelang, akhirnya tamu yang ditunggu datang juga. Itu cukup membuat Ana gugup dan jantung yang masih selalu berdetak cepat saat bertemu Andre. Om Prima, tante Wina dan Andre yang datang juga seorang supir yang menemani mereka.


Setelah makan malam selesai dan mengobrol ringan, merekapun memulai pembicaraan seriusnya.

__ADS_1


Ana hanya terdiam mendengarkan, ternyata semua diawali karena kesibukan Tante Ambar sehingga mereka tak punya banyak waktu untuk bulak balik Indonesia-Australia, Tante Ambar dengan khusus menyiapkan banyak waktu di dua bulan mendatang karena ingin ikut mengurus langsung pernikahan anak semata wayangnya.


Andre yang melihat keengganan di mata Ana, mengajaknya berbicara berdua. Ana mengiyakan dan disinilah mereka berada, di teras balkon. Dan Ana mulai mengutarakan isi hatinya yang tak mau menikah secepat ini.


"katakan!" Andre singkat, tanpa menatap Ana.


"Om tau gak, dua bulan ke depan itu aku masih baru masuk kuliah lagi, pasti lagi sibuk-sibuknya, kecuali aku gak perlu ikut ngurusin masalah pernikahan."


"tenang aja, ada wo!"


"kenapa harus secepat ini sih? aku pikir pernikahannya tahun depan,"


"An, sekarang atau tahun depan itu sama aja, lebih cepat lebih baik bukan,"


"Ck!" Ana berdecak tak suka dengan jawaban Andre. 'ya kapan juga bisa, cowok mah enak walaupun menyandang status duda juga gak kan khawatir nyari jodoh, terus aku? hiks! memang nasibku yang jelek kali! tapi bener juga lebih cepat lebih baik, toh ujung-ujungnya jadi janda!' wajah Ana terlihat semakin murung, tiba-tiba hatinya terasa perih.


"An?"


"iya, kamu benar semakin cepat menikah, semakin cepat bercerai, hufh! aku ikut! terserah kalian, besokpun aku siap,"setelah mengatakan itu Ana beranjak masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.


deg!


Setelah mendengar ucapan Ana, hati Andre berdenyut keras. Wajahnya berubah dingin.

__ADS_1


"Ana, seenggan itukah kamu hidup denganku?" tak terdengar jawaban, Ana memang sudah sejak tadi meninggalkan Andre sendiri.


Ana yang kini sudah didalam kamar, semakin menyembunyikan wajahnya dalam bantal, dia tak kuat lagi menahan air matanya sejak tadi. Tak ada yang tahu, tak ada yang bisa diajaknya bicara. Ana membiarkan air matanya tumpah malam itu, karena ini adalah pilihannya, maka dia harus menghadapinya.


__ADS_2