
"ah,,, pelan-pelan, yank" Maria mengerang saat Sakti meremas daerah sensitifnya dengan sedikit kasar.
"Maaf ay, aku udah gak kuat!" Sakti menciumi leher Maria dengan rakus dan mulai menurunkan resleting gaun milik gadisnya lalu membuka setiap lapisnya dengan cepat, kemudian mulai menanggalkan miliknya. Setelah mereka sama-sama polos, Sakti kembali melakukan pemanasan, meraba, *******, meremas membuat tubuh Maria menggelinjang dan mendesah berkali-kali.
"Aku kangen kamu, ay!" Bisik Sakti di telinga kekasihnya sebelum melakukan penyatuannya.
Sudah lebih dari tiga bulan mereka tak bertemu, Mariana Felipe adalah seorang model internasional, dia sudah memulai karirnya di Paris sebagai model profesional sejak dia lulus dari sekolah modeling nya, hingga sekarang dia masih menjadi model dari beberapa brand ternama, hingga dia lebih sering berada di Paris dari pada di negerinya sendiri. Ibunya asli orang Indonesia sedangkan ayahnya berasal dari Jerman. Tubuhnya yang tinggi semampai membuatnya masuk ke dalam dunianya yang sekarang dengan mudah.
*****
"Apa sekarang kita baikan?!" Tanya Sakti sambil memeluk kekasihnya.
"Tergantung!"
"Tergantung gimana?"
"Jika kamu masih bermain dengan perempuan-perempuan pliaraan kamu itu, aku gak mau!"
"Ay, aku udah bilang! aku gak pernah main dengan perempuan lagi, cuma kamu! sumpah!" Sakti menggunakan dua jari telunjuk dan jari tengahnya untuk meyakinkan kekasihnya.
"Sumpah player kayak kamu masih bisa di percaya emang?"
"Makanya ayo kita nikah, aku akan buktiin sama kamu, aku bisa setia!"
"Masih pacaran aja diselingkuhi sakitnya minta ampun, apalagi kalo nanti kita nikah,"
Sakti menghela nafasnya, sudah hampir dua tahun ini dia terus meminta kekasihnya untuk menikah tapi tak pernah dianggapnya serius. Salahnya, awalnya dia memang hanya bermain-main dengan Maria karena itu dia juga masih terus bermain dengan perempuan lain di belakang kekasihnya itu, hingga Maria memergoki dia sedang memadu kasih dengan wanita selingkuhannya dan memutuskan hubungan mereka, barulah dia sadar bahwa ternyata Maria punya tempat spesial di hatinya, sejak itu Sakti bersumpah hanya akan ada Maria.
"Aku harus bilang berapa kali sama kamu, sejak itu aku gak pernah bermain perempuan lagi, aku cinta kamu, ay! Aku ingin menghabiskan waktuku dengan mu, menikah, punya anak, ayo kita menua bersama?!" Sakti menatap mata kekasihnya dengan serius, untuk berpacaran mungkin dia selalu bermain-main tapi untuk menikah dia ingin hanya sekali seumur hidupnya.
Maria membalas tatapan mata lelaki yang sudah menjadi kekasihnya sejak tiga tahun silam mencari sedikit keraguan di dalamnya, sayangnya sepertinya kali ini kekasihnya itu benar-benar serius.
"Baiklah, kau boleh menemui orang tuaku,"
Sakti membelalakkan matanya tak percaya.
"Kamu serius, ay?"
__ADS_1
"Bukannya tadi kamu bilang mau nikah sama aku?" Spontan Sakti memeluk kekasihnya dengan erat, berkali-kali menciumi bibirnya.
"Aku cinta kamu, ay" Sakti memeluk erat tubuh kekasihnya dengan senyum yang masih mengembang. 'aku rasa gak akan semudah itu, yank,' batin Maria yang masih berada dalam pelukan Sakti.
*****
Andre memegang tangan Ana memasuki lobi Bandara Changi. Walau ekspresi wajahnya terlihat datar, tapi di dalam hatinya masih berbunga-bunga. Dia sudah berhasil memiliki istrinya seutuhnya, untuk untuk urusan anak itu bisa dibicarakan lagi nanti yang penting hubungan mereka sudah semakin membaik. Sementara Andre merasakan kebahagian yang tiada tara, berbeda dengan Ana dia masih saja cemberut sejak keluar dari apartemen. Rencana jalan-jalan mereka benar-benar gagal total, awalnya Ana ingin membelikan oleh-oleh untuk keluarganya, juga ingin berfoto di banyak tempat untuk pamer pada Stela, sahabatnya.
"Kamu gak akan sekali ini saja ke Singapura, Minggu besok juga bisa pergi, nanti aku temenin," begitu kata suami tercintanya yang sudah berhasil mengerjainnya habis-habisan. Tapi walaupun begitu paling tidak dia masih sempat melihat Spactra light dan juga naik MRT yang station nya mirip di drama-drama Korea.
Jakarta
"Jakarta hujan juga ternyata," Ana memandang keluar lewat kaca jendela, hujan yang awalnya hanya rintik-rintik kini mulai semakin deras dengan cepat.
"Jakarta sama Singapura cuacanya tentu saja sama,"
"aku tau!" jawab Ana ketus.
Andre tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu dari istrinya. Sejak selesai aktivitas mereka di apartemen, istrinya terus saja protes.
"masih marah nih?!" Andre mencondongkan tubuhnya mendekati Ana, Ana tak bergeming kali ini dia tak akan mudah untuk dirayu begitulah tekad Ana.
"astaga! istriku ini manis sekali kalo lagi marah!" Ana masih tak bergeming, Andre mendekatkan dirinya, lalu mulai memeluk tubuh istrinya yang masih tak mau menghadap padanya.
"apaan sih, lepasin ih!" Ana bergerak beberapa kali untuk melepaskan pelukan suaminya.
"liat aku!"
"gak!"
"yakin?"
"ah!" spontan Ana menutup mulut dengan tangannya saat tiba-tiba satu ******* keluar dari mulutnya, semua itu gara-gara tangan suaminya mulai tak mau diam, menggerayanginya dari balik kaos oblongnya.
"A, ih! ada mang Imam, malu tau!" bisik Ana yang sebenarnya masih terdengar oleh mang Imam, dan mang Imam hanya mesem-mesem sendiri sambil memegang setir juga masih tetap berkonsentrasi menatap jalanan.
"biarin aja, dia lebih berpengalaman daripada kita!"
__ADS_1
"ih! gak tau malu dasar!"
"mana ada suami malu-malu di depan istrinya,"
"apaan sih, gak nyambung! diem atuh ih!"
"liat aku gak?!"
"iya-iya aku liat ke situ," Ana menjawab cepat daripada malu di depan mang Imam karena kelakuan suaminya. Ana berbalik menghadap suaminya, dia menyipitkan matanya saat menatap senyum lebar menghiasi wajah suaminya.
"aku tau, aku tampan, sayang, kamu bisa melihat wajahku selama kamu mau saat sampai rumah nanti,"
Weuek,
Ana berlagak seperti seorang yang mau muntah saat mendengar ucapan suaminya.
Mang Imam masih mesem-mesem di tempatnya, benar-benar pemandangan yang baru dia temui, dia tak menyangka kalau majikannya yang selalu serius itu akan bertingkah penuh kasih sayang pada istrinya.
"stop!" Mang Imam kaget saat mendengar nyonya mudanya berteriak, spontan dia langsung menginjak rem, untung jalanan tak terlalu ramai juga tak macet.
"kenapa nyonya?" tanya mang Imam melihat nyonya mudanya dari kaca spion.
"Ada apa?" Andre melihat arah pandang istrinya yang seperti mengikuti sesuatu di jalanan sana.
"itu teh Tia!" setelah Ana berakting mau muntah tadi matanya tiba-tiba menangkap sosok tak asing yang berjalan dipinggir jalan, seperti tak mengindahkan derasnya hujan.
******
Makasih reader semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul iniππ
Aku kasih double up lagi nih,,,
jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,
kalau sempat tinggalin jejak juga ya, buat penyemangat, hehe,,,
Makasih sekali lagi,,,
__ADS_1