
Weni menangis berjongkok di balik pintu ruang rawat Andre, dia tak berani masuk sejak Andre mengusirnya keluar tadi pagi hingga sekarang menjelang makan siang.
"lho, Weni, ada apa?" mami Ambar yang baru saja datang terkejut melihat Weni yang berjongkok di depan pintu kamar rawat putranya. Weni mengangkat kepalanya, mami Ambar yang semakin terkejut melihat wajah putrinya basah, matanya bengkak dengan ujung hidung yang memerah. Dengan cepat mami Ambar membuka pintu kamar rawat Andre, dia khawatir terjadi sesuatu pada putranya.
Andre yang baru saja mau menyuapkan makanan ke dalam mulutnya terkejut karena tiba-tiba mami dan papinya menerobos masuk ke kamar rawatnya dengan kasar membuat sendoknya jatuh kembali ke piring.
"sayang kamu gak apa-apa kan?!" mami Ambar menghambur mendekati putranya dengan perasaan was-was.
"what happened?" Begitupun dengan papi Steve.
"hah?" Andre tak mengerti karena sejak tadi dirinya baik-baik saja, dia bahkan semakin semangat makan karena ingin cepat pulih, dia ingin segera menemui istrinya.
"oh God, Weni, why are you crying, you make us think nonsense?!" papi Steve kesal pada Weni karena tangisannya membuat dia berpikir terjadi sesuatu pada putranya. Andre menghela nafasnya, akhirnya dia mengerti mengapa mereka masuk dalam keadaan khawatir.
"aku yang memintanya pulang, Pi,"
"hah?" mami Ambar terkejut.
"tapi sepertinya dia tak mau pulang, sepertinya itu yang bikin dia menangis di depan,"
"oh dear, she's your sister, it's only natural that she wants to accompany her brother when he's sick, right?" mami Ambar berkata sedikit menyindir, Weni mendengarnya dari balik pintu yang terbuka sebagian.
"yes," papi Steve mengangguk-angguk kepala tanda setuju, tentunya dia akan selalu setuju apapun yang yang dikatakan istri tercintanya.
"sudahlah, Mam, untuk saat ini aku tak ingin bertemu dengannya," mami Ambar menghela nafasnya, sepertinya putranya sudah menemukan sesuatu yang membuktikan Weni terlibat dalam masalahnya dengan Ana. Karena tak biasanya Andre bersikap seperti itu pada Weni.
"baiklah mami akan bujuk dia untuk pulang, kamu makanlah lagi, ok? ah, ini makanan titipan dari mama mertua mu, dia titip salam katanya,"
Andre Menghela nafasnya, dia hampir melupakan mama Meti karena masalahnya yang sebenarnya bukan masalah ini.
"bagaimana kabar mama, mam?"Andre mengambil rantang makanan dari tangan maminya lalu membukanya, makanan yang hendak dia lahap sudah berantakan karena ulah orang tuanya yang tiba-tiba masuk, jadi dia butuh makanan baru untuk dimakannya.
__ADS_1
"tentu saja dia baik, selain hatinya yang sakit karena putrinya sudah kamu sia-siain," jawab mami Ambar membuat Andre merasa semakin tak enak, dia menghela nafasnya untuk kesekian kali, itu memang salahnya.
Mami Ambar masih berusaha membujuk putrinya untuk pulang dengan beberapa drama yang terjadi karena Weni meminta kejelasan pada Andre tentang mengapa dia tiba-tiba marah, sedangkan Andre sama sekali tak ingin menemuinya. Sebenarnya Weni sangat takut jika apa yang dia lakukan akan diketahui oleh Andre, dia tak akan punya kesempatan lagi untuk dekat dengan kakaknya.
"sayang, kamu lebih tahu seperti apa sifat kakakmu itu, dia tak akan mau bicara dalam keadaan seperti ini, seharusnya kamu paling mengerti,"
"tapi, Mam..."
"nanti mami coba bicara dengannya, hm?!"
mami Ambar merangkul putrinya mengusap pundaknya mencoba menenangkannya.
Akhirnya Weni setuju,
"baiklah, ayo, mami anter,"
"gak usah Mam, aku pulang sendiri, mami tolong bicara sama mas Andre ya, pliss,,,"
"tentu sayang, mami janji..." mami Ambar mengelus sayang rambut putrinya, dia tersenyum meyakinkan. Weni sedikit merasa lega walau masih merasa takut. Dia berjalan gontai meninggalkan ruang rawat kakaknya, dia sempat menoleh ke arah Andre berharap masih bisa melihat wajahnya, sayang Andre tak peduli padanya. Mami Ambar memperhatikan putrinya hingga tak terlihat lagi, lalu menghembuskan nafasnya. Sungguh dia tak berpura-pura sayang dengan putri angkatnya itu, dan sekarang dia mengalami dilema bagaimana membuat putra dan putrinya kembali akur seperti dulu. Dia sedikit mengerti tentang perasaan Weni, mungkin hanya karena saudara angkat membuat perasaan itu tumbuh tak pada tempatnya. Mami Ambar kembali masuk ke kamar rawat putranya.
"aku harus melakukan ini, Mam, dia harus tahu konsekuensi atas apa yang dia lakukan,"
"baiklah mami mengerti, tapi jangan terlalu keras, dia tetap adikmu, putri mami, ok!"
"ya, aku tahu," tapi untuk saat ini sungguh dia sangat kecewa pada Weni, Weni adalah satu-satunya keluarga yang dekat dengannya akhir-akhir ini, tentu saja dia paling tahu sifatnya termasuk perasaannya pada Ana, seperti apa berartinya Ana untuknya sudah pasti Weni tahu.
Tapi karena ke egoisannya apa yang tak seharusnya jadi masalah malah menjilati masalah yang hampir membuatnya kehilangan orang yang dia cintai.
Weni berjalan gontai melalui koridor demi koridor untuk keluar dari rumah sakit, air matanya masih berderai membasahi pipinya. Hingga dia tersadar, dia tak bisa menemukan jalan keluar. Weni melihat ke sekitar mencoba mengenali tempatnya untuk mencari jalan keluar. Saat Weni benar-benar tak menemukan arah terlebih koridor itu sangat sepi tak seperti di koridor yang lainnya, masih ada lalu lalang orang. Weni mulai terisak kembali, dia berjalan dan terus berjalan tapi masih tak keluar dari lantai itu, Weni berjongkok menangis, dia menjadi tak bisa berpikir jernih karena masih memikirkan Andre yang tiba-tiba membentaknya.
"Mbak, ada yang bisa saya bantu?" Weni menengadahkan kepalanya, ternyata seorang satpam yang sedang berkeliling menyapanya.
__ADS_1
"saya mau pulang, Pak," ucap Weni dengan masih sesenggukan.
"hah?" Pak satpam sedikit bingung, yang duduk menangis ini orang dewasa atau anak kecil, pikirnya.
"saya antar ya, Mbak," akhirnya pak satpam membantu Weni berdiri, dan memapahnya sebentar untuk menstabilkan berjalannya.
"nama Mbak siapa? keluarga Mbak dirawat di lantai berapa?" pak satpam bertanya, Weni masih saja menangis seperti Ana kecil membuat pak satpam bingung. Sudah beberapa pertanyaan yang dilontarkan pak satpam, namun tak ada jawaban, membuatnya bingung harus bagaimana dan di antar kemana, yang akhirnya dia memutuskan untuk membawa Weni ke pusat informasi, tak selang berapa lama mulai terlihat keramaian.
"Mbak Weni?" tiba-tiba seseorang mengenali Weni, Weni melihat ke arah suara yang memanggilnya tapi tak berkata apa-apa.
"mas mengenal, Mbak ini?"
"iya Pak, mbak ini atasan saya, ada apa ya Pak, apa terjadi masalah?"
"Mbak ini sepertinya tersesat dan nangis terus, ditanya juga gak jawab, jadinya saya bingung, Mas,"
"gak apa-apa, Pak, biar saya yang antar, terimakasih ya, Pak,"
Pak satpam mengangguk dan juga merasa lega karena menemukan orang yang mengenal Weni. Dimas semakin khawatir dengan keadaan Weni, dia terlihat linglung.
Sebenarnya Dimas disana untuk mengambil vitamin teh Tia, diapun tak menyangka akan bertemu dengan Weni dalam keadaannya yang kacau, dia mengira terjadi sesuatu pada keluarganya jadi berinisiatif untuk mengantarnya.
"Mbak Weni, mau langsung pulang?" Dimas bertanya tapi malah dijawab dengan tangisan. Sepertinya benar kata pak satpam barusan.
"""""""'"*****""""""""
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...
Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏
Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,
__ADS_1
kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,
Makasih sekali lagi,,,