Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
Syarat


__ADS_3

Setelah berbincang dengan mama Meti dan Ayah Agus di ruang tamu, Andre dan Ana kini mereka berdua dlberada di balkon, duduk santai sambil menatap jalanan perumahan yang sepi, hanya ada beberapa motor lewat.


Ana masih berdiam diri, pikirannya masih melayang memikirkan kepribadian orang yang ada disampingnya kini.


Ana tak bisa membedakan antara seorang gay dan seorang laki-laki sejati. Sepertinya dia harus banyak nanya ke Mbah Google sebelum mengiyakan apa yang dikatakan oleh teh Tia.


"kenapa?" tiba-tiba sebuah suara mengembalikan lamunannya. Ana menatap Andre yang terlihat bingung, mata mereka beradu. Detak jantung yang semula mereda kiri mulai kembali berdetak tak karuan, Ana memalingkan pandangannya. Kenapa jantungnya selalu saja susah dia kendalikan saat tatapan mereka beradu, bahkan setelah tau kepribadian orang yang ada di sebelahnya itu.


Ana menarik nafas sebelum memberi jawaban.


"tadi malem gak bilang mau ke rumah"


"kejutan,,," jawab Andre singkat, "hari ini tanggal merah, lagian udah lama aku gak ketemu kamu, kangen juga,,," lanjutnya lagi membuat pipi Ana sedikit merona, dia masih tak berani menatap ke arah Andre secara langsung. Andre tersenyum melihat semburat merah di pipi Ana, 'gadis ini, sangat mudah membuatnya geer, bahkan hanya dengan kata-kata seperti itu sudah membuatnya tak mau menatapku' batin Andre sambil tersenyum.


'apa dia sudah mulai menyukaiku? huuuuuhhhh,,,' Andre menghela nafas panjang. 'seharusnya aku bahagia, bukankan dengan begini maka akan lebih mudah mendapatkan jawaban iya darinya saat aku melamarnya,' batin Andre sedikit merasa tak enak karena di balik dari semua gombalannya itu ada sebuah tujuan khusus yang membuat dia terpaksa melakukan ini. Apa dia berdosa?


suasana masih hening, Andre masih berkutat dengan rasa bersalahnya begitu juga dengan Ana yang memikirkan apa yang harus dia lakukan, haruskah dia bahagia dengan perkataan gombalnya ataukan sedih karena ada tujuan lain dibalik gombalnya?!


"sejak kapan?"


"apa?"

__ADS_1


"jadi pendiam? aku lebih suka kamu yang bawel"


"aku pikir cowok lebih suka sama cewek pendiam dan penurut,"


"hahaaaa,,, itu tak berlaku buatmu, terlihat aneh! ada yang kamu pikirkan?"


"aku udah tau,,,"


"maksudnya, tau apa?"


"aku tahu, aku tahu semuanya," Andre menatap Ana mengernyitkan keningnya mencoba mencari tahu maksud dari perkataan Gadis disampingnya, tak lama tatapannya kembali ke depan.


"aku tahu alasan Om mati matian merayuku agar aku mau menerima perjodohan ini." Ana berbicara tanpa menatap wajah Andre.


'dia tau, dia tau alasaanya,' Andre menoleh menatap gadis di sampingnya, mencoba mencari sesuatu dari wajahnya.


'jika dia tau, dari mana dia tau alasannya?! tak mungkin mami yang mengatakannya, tapi wajahnya terlihat biasa, dia tidak terlihat kecewa, apa selama ini aku salah, ya,,, sepertinya aku salah, aku kira dengan rayuan yang aku berikan padanya sudah cukup membuatnya luluh,' batin Andre.


"aahhhh,,, jadi kau sudah tau,"


"hhmmm,,,"

__ADS_1


"lalu, apa keputusanmu? apa kau akan menolaknya?"


'jika sudah seperti ini aku tak mungkin memaksa dia untuk menerima perjodohan ini, perjodohan tanpa cinta, yang sudah pasti jauh dari angan-angannya yang menginginkan menikah dengan orang yang mencinta dan dicintainnya,' Keluhan Andre dalam hati menyisakan satu tarikan nafas kasar dari mulutnya.


"keputusan aku serahkan padamu, aku tak akan memaksamu, ak,,,"


"aku akan menerimanya," potong Ana singkat, dia mengatakannya dalam satu hembusan nafas dengan degupan jantung yang semakin tak beraturan.


reflek Andre menoleh menatap wajah Ana, Ana membalas tatapan Andre.


"dengan syarat." lanjutnya lagi.


"katakan apa syaratnya?" 'aku akan memenuhinya bahkan jika dia meminta hatiku, aku akan mencobanya, aku tak akan mengecewakannya, aku rasa sudah saatnya aku membuka hatiku, aku yakin apalagi dia tipe wanita yang gampang untuk dicintai,' Andre tersenyum masih menatap lalat ke arah Ana.


'huft! dia tersenyum, dia benar-benar tak memikirkan perasaanku! dia cuma butuh aku buat menutup aibnya, apa lagi yang aku harapkan?! berharap dia mencintaiku dengan tulus?! ah! aku lupa dia gak suka perempuan,' batin Ana.


"pertama, kita akan bercerai setelah situasinya aman, ah maksudku setelah tujuan tercapai, kedua kita tidur dikamar terpisah, ketiga, aku ingin kau menghidupiku selama aku menjadi istrimu."


Kerutan kening Andre semakin dalam mendengar syarat yang diajukan Ana. 'bercerai? apa dia bener-benar tak menyukaiku sampai dia mengajukan perceraian?! bahkan sebelum menikah, tidakkah dia berpikir itu akan merugikannya?! ah,,, mungkin aku yang terlalu banyak berharap, ternyata hanya aku yang berpikir untuk membuka hatiku' Andre memalingkan pandangannya, kecewa?! mungkin. Tapi dia tak bisa menyalahkan gadis itu, jelas sekali dia yang memiliki tujuan lain dalam perjodohan ini. huuuuuhhhh,,,,


"baiklah jika itu maumu, aku akan menerima syaratnya, tapi perlu kau tau untuk syarat ketiga tanpa kau minta aku pasti akan memenuhinya karena itu kewajibanku sebagai suamimu." Tanpa disadari Andre suaranya kini terdengar lemah, dia beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan Ana menuju ke dalam rumah.

__ADS_1


'huuuuhhhhh,,,' ana menghembuskan nafas lega, 'ya Alloh, setegang ini,,,, semoga ini keputusan yang baik.'


batin Ana, dia masih duduk di balkon menatap jalanan yang masih sepi.


__ADS_2