
Seperti biasa suara adzan subuh berkumandang lewat ponselnya, Ana merenggangkan tubuhnya, tangannya menggapai ponsel yang ada di atas nakas untuk mematikan suara adzan. Tiba-tiba kakinya menyentuh sesuatu, Ana langsung terbangun dan dia membuka selimutnya, dia mencurigai sesuatu, ternyata benar dugaannya mengunci pintu adalah hal yang tidak berguna. Tapi paling tidak dia sudah usaha. 'yah sudahlah lagi pula dia tak mungkin melakukan sesuatu padaku,'
"oi! bangun! subuh!" Ana menepuk pipi suaminya beberapa kali. Andre memegang tangan Ana yang menepuk pipinya. Dia bangun lalu menarik Ana agar masuk dalam pelukannya. Ana sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya.
"lepaskan!"
"kamu marah?" Andre bertanya tanpa melepaskan pelukannya, dia benar-benar merasa bersalah pada istrinya, seharusnya dia lebih bersabar lagi menunggu, sampai Ana bisa menerimanya.
"marah kenapa?"
"maafkan aku,"
Ana menghela nafasnya.
"sudahlah, asal jangan lakukan itu lagi!"
"aku janji! aku tak akan melakukannya lagi tanpa seijin mu,"
"lepasin gak?! aku mau salat, kamu mending balik ke kamar kamu, nanti subuhnya keburu abis"
Andre melepaskan pelukannya, dia turun dari tempat tidur mengikuti istrinya. Hanya saja jika istrinya masuk ke kamar mandi, dia keluar kamar menuju kamarnya sendiri.
Satu minggu kemudian
Andre yang awalnya ingin memundurkan jadwalnya untuk pergi ke Singapura akhirnya memaksa untuk melakukannya sesuai jadwal. Walau sebenarnya masih ada pekerjaan yang belum benar-benar rampung dia kerjakan di dalam negeri. Tapi setelah dipikirkan lagi dia akhirnya memutuskan agar perkejaan di sini diserahkan pada sahabatnya, Sakti. Sesuai mandat orang tuanya yang mengatakan bahwa mereka akan mengangkat Sakti menjadi CEO di salah satu anak perusahaannya. Anggap saja sebagai pelajaran pertama untuk sahabatnya itu.
"Papi yang minta gue ngedidik lu jadi CEO, gue pikir sekarang waktunya lu belajar,"
"oh, ayolah, Ndre!"
"cukup! gue gak mau dengerin rengekan lu!"
"jangan sekaranglah, pliiiiiisss,,, lu kan bisa ajarin gue tahun depan, gue janji tahun depan gue pasti siap!" Sakti berdiri dari duduknya dia merasa gusar dan tak yakin bisa mengambil keputusan.
"lu harus belajar dari sekarang untuk ngambil keputusan, lagi pula bukan baru setahun dua tahun lu ikut gue, lu udah tahu cara kerja gue!"
"astaga! masalah ini terlalu rumit buat gue!"
"hei, masalah ini bukan masalah urgent, lu hanya tinggal memastikan semua pekerjaan berjalan sesuai rencana,"
"apanya yang HANYA?! gue takut salah ngambil keputusan! lu tahu sendiri proyek ini bukan proyek kecil,"
"hei, saat umur gue dua puluh tahun, gue udah ngambil keputusan yang jauh lebih besar dari ini,"
__ADS_1
"ya, ya, ya,,, gue bangga sama otak lu yang jenius itu! jadi jangan samain gue sama lu, okeh!"
"ckckck, ternyata selain Mariana ada juga yang bisa buat lu takut! lagipula mau sampai kapan lu nempel terus sama gue, gue aja udah risih ngeliatnya,"
Andre berdiri dari duduknya mendekati Sakti yang sejak tadi berjalan bulak balik tak tentu.
"Ndre, sekarang gue sadar seberapa penting lu buat gue! sumpah! gue lebih suka menempel sama lu, gue bahkan rela jadi istri, lu!"
Sakti mengatakan itu sambil memegang tangan Andre dan didekap di dadanya. Belum sempat Andre menepis tangannya yang dipegang Sakti dia melihat lewat sibit matanya seseorang berdiri di pintu. Ternyata adalah istrinya, Ana yang awalnya mulai ragu dengan hubungan gelap antara suami dan asisten pribadinya itu. Akhirnya dia menyaksikan sendiri di depan matanya bagaimana keintiman mereka, bahkan Sakti siap dinikahi oleh Andre.
"kenapa berdiri di situ, masuklah!"
Andre berbalik menatap Ana yang masih di depan pintu. "hei! lu mau sampai kapan megang tangan gue!"
"eh! hehe,,, sorry!" Sakti yang awalnya bengong spontan melepaskan tangan Andre lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali, dia merasa malu atas apa yang dia lakukan. Tentu saja hal merengek yang bisa menjatuhkan martabatnya sebagai seorang laki-laki.
"hai, nyonya! kalo gitu gue keluar dulu ya," Sakti keluar dari ruangan kerja Andre dengan cepat.
'sial! gue ngerengek depan cewek cantik! harga diri gue, hiks!' batin Sakti memelas.
"Kenapa masih bengong?" Ana yang tersihir dengan adegan yang begitu romantis membuat semua yang ingin dikatakan seketika ambyar, dia bahkan tak tahu apa yang sebenarnya dia lakukan di sana.
"ah!" Ana kembali dari lamunannya.
Andre berjalan mendekati Ana yang dirasa sedikit aneh. Dia menempelkan tangannya di dahi Ana untuk mengecek suhu tubuhnya.
Ana menepis tangan Andre dengan lembut, "aku gak apa-apa,"
"masuklah!" Andre memegang tangan Ana menuntunnya masuk ke ruang kerjanya. Tapi Ana menarik tangannya membuat Andre membalikan badannya menghadap istrinya, Andre mengerutkan keningnya.
"ada apa?"
"sebenarnya,,, aku lupa apa yang mau aku bicarakan,"
Ana lalu menarik tangan yang digenggam oleh suaminya lalu berbalik berjalan menjauh dari tempat suaminya berada.
"hah???" kerutan kening Andre semakin dalam, dia bingung dengan kelakuan istrinya. Akhirnya dia hanya bisa menghela nafasnya.
Didalam kamar Ana.
Ana berjalan mondar-mandir dengan gusar sambil menggigit ujung jarinya. 'apanya yang aneh, bukannya aku tau sejak awal kalo mereka adalah pasangan, aaaahhhhh,,," Ana berjongkok entah apa yang dia lakukan sebenarnya diapun tak menyadarinya. Sepertinya ada sedikit perasaan tak rela yang tersembunyi di lubuk hatinya. Selang beberapa saat.
"An,,, "
__ADS_1
toktoktok
Deg
'duh ngapain lagi dia kesini, tenang Ana, tenang!' Ana berdiri dari jongkoknya dia mengelus dadanya beberapa kali mencoba menenangkan dirinya. Baru Ana hendak berjalan untuk membuka pintu, tapi sudah dibuka lebih dulu oleh Andre. Membuat Ana langsung berdiri mematung menatap suaminya.
Deg, deg,
Hening sejenak.
'kenapa aku jadi deg-degan kaya gini?!'
"kamu yakin, kamu gak apa-apa?"
"ah, ya, ada apa?"
Andre masuk ke kamar Ana, dia melemparkan dirinya berbaring di atas kasur.
"kemarilah," Andre menepuk tempat kosong di sampingnya. Ana yang sudah mulai tenang, mengikuti apa yang diminta suaminya. Dia duduk di tempat yang kosong di samping suaminya, duduk bersila menghadap suaminya yang masih dalam posisi berbaring.
"aku akan pergi sore ini,"
"tadi malemkan udah bilang," Ana menopang dagunya menggunakan tangannya.
"ikut, yuk!" Andre memiringkan tubuhnya menghadap istrinya yang duduk di sampingnya.
"hah? ngapain?"
"kamu pernah ke Singapura?"
"belum sih,"
"terus?"
"ck! kalo mau ngajakin lihat-lihat waktunya dong! ngajakinnya pas liburan semester, kek!"
Andre tersenyum, yah memang dia yang salah.
"baiklah, aku memang akan sering bulak balik Indonesia-Singapura selama proses akuisisi, aku akan mencari apartemen disana, saat liburan semester kita kesana."
Ana bertepuk tangan, senyumnya merekah pertanda dia sangat bahagia.
"Yeye,,, makasih suamiku,,," Ana memeluk Andre yang sudah duduk berhadapan dengannya tanpa canggung. Apa yang dia takutkan sudah dipastikan suaminya itu memang seorang gay.
__ADS_1
"ck! urusan begini, baru ngaku suami!"