Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
69


__ADS_3

Ternyata benar yang diperkirakan Sakti, Andre benar-benar melampiaskan semua kekesalannya saat meeting membuat suasana meeting menjadi tegang dan panjang. Semua yang hadir di meeting ini seperti menahan nafasnya selama meeting berlangsung saking tegangnya suasana dalam ruangan.


Brak


"Laporan apa ini? Siapa yang buat?" Suara Andre kembali menaik.


Deg


Ini adalah laporan yang kesekian yang dianggap tidak layak oleh Andre. Meeting hari ini tak ada satupun yang merasa dia puas.


"Sa-saya pak,"


"Ck! Kamu sudah berapa lama kerja di perusahaan ini?"


"Ti-tiga tahun pak,"


"Bagus! Kamu saya pecat!"


"Apaa?" Serentak semua yang hadir dalam meeting termasuk Sakti terkejut dengan apa yang dikatakan bosnya.


"Kenapa? apa kalian meragukan keputusanku?"


"Tapi pak, apa salah saya?"


"Kamu masih berani menanyakan salahmu? Kamu bekerja di perusahaan ini sudah tiga tahun, membuat laporan masih seperti anak SD? saya tak berniat mempekerjakan orang yang tak kompeten, silahkan anda keluar dari ruangan ini!" Semua mata terbelalak, begitupun dengan orang yang tiba-tiba dipecat itu dia berpikir apa yang salah dengan laporannya, selama ini dia selalu membuatnya seperti itu tapi tak pernah dipermasalahkan oleh bosnya. Tapi apa daya dia hanya sebatas bawahan saja, apalagi dia tahu sejak awal jika keputusan bosnya adalah mutlak. Dia berjalan keluar ruangan meeting dengan perasaan tak karuan.


"Bos," Sakti mencoba angkat bicara.


"Kenapa? Kamu ingin dipecat juga?"


'wah gak beres nih! Dia udah bener-bener gak masuk akal sekarang,' Sakti memberi isyarat pada Weni agar membantunya untuk mencoba menenangkan Andre. Andre orangnya tegas bahkan cenderung sadis dalam mengambil keputusan tapi dia selalu memikirkan semuanya sebelum bertindak. Kepalanya selalu dalam keadaan dingin dalam mengambil keputusan. Sebagai seorang yang berkecimpung dalam dunia bisnis dia dituntut untuk tepat dalam memprediksi. Dan dia melakukannya dengan baik selama ini hingga sangat jarang dia melakukan kesalahan. karena itulah dia bisa sukses dalam usianya yang terbilang masih muda dalam dunia bisnis juga menyandang gelar pebisnis jenius. Tapi hari ini semua akal sehatnya seperti terpengaruh dengan keadaan hatinya, tak pernah terjadi dia bahkan bisa berpikir jernih dalam mengambil keputusan saat dia dan keluarganya sedang dalam kondisi terpuruk.


"Mas,,, biarkan mereka istirahat dulu ya, kita bisa melanjutkan meetingnya lagi setelah istirahat, ini sudah waktunya jam makan siang, apalagi tadi pagi kamu belum sarapan,"


Andre melihat jam, pukul setengah dua siang.


"Baiklah, kita akan lanjut meeting setelah istirahat makan siang, saya harap kalian tidak membuat saya kecewa lagi, dengan laporan yang seperti anak SD!" Semua anggota dalam meeting tak berani bergerak sebelum Andre melangkah keluar dari ruangan. Dan helaan nafas yang seperti ada yang mengomando menandakan mereka merasa lega sesaat.


"Gimana ini, sudah tiga laporan yang dipermasalahkan sama bos, bagaimana dengan laporanku, apa aku akan dipecat juga?!"

__ADS_1


"Ada apa dengan bos hari ini? Apa proyek kita ada yang gagal?"


"Entahlah,"


"Memangnya laporan pak Fandi seperti apa sampai bos bilang seperti laporan anak SD?"


"Iya, bukannya pak Fandi biasa membuat laporan itu, selama ini tak pernah ada masalah!"


"Duh aku jadi deg-degan, gimana ini?"


"Laporan akhir bulan, serasa akhir tahun! Lagian kenapa tiba-tiba bos meetingin laporan, bukannya kita lagi persiapan untuk proyek bundling dengan perusahaan Ultra Wijaya?"


"Pak Andre sepertinya sedang ada masalah,"


"Lalu kenapa jika ada masalah, kita aja dituntut buat profesional dalam bekerja, dia sendiri malah gak bisa profesional."


"Hus! Udah ayo keluar, aku laper nih udah mau jam dua, nanti jam makan siang kita keburu habis, kita butuh tenaga lebih sebelum dibantai habis, ayo!" Akhirnya mereka membubarkan diri.


Dalam ruangan Andre, bahkan Sakti pun tak berani berbicara. Dia masih menyelidik mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan bosnya itu.


"Mas, aku pesan makanan dulu ya." Andre tak menjawab dia masih membuka berkas proposal dari salah satu perusahaan yang mengajaknya bekerja sama. Weni keluar dari ruangan Andre disusul Sakti.


"Wen, ada apa sebenarnya? Apa terjadi sesuatu tadi pagi?"


"Apa Andre dan Ana bertengkar?" Sakti mengikuti Weni menuju kantin kantor.


Weni menghentikan langkahnya, membuat Sakti berpikir bahwa memang terjadi sesuatu antara Andre dan Ana.


"Apa yang terjadi, katakan Weni! Jika mau menyelamatkan perusahaan kita, maka katakan padaku apa yang terjadi?" Sakti bicara berhadapan dengan Weni dia memegang kedua lengan Weni dengan tak sabar. Sebenarnya dia merasa kasihan pada pak Fandi yang tiba-tiba kenapa pecat hanya karena suasana bosnya sedang buruk.


'apa pertengkaran mereka efek sebesar ini pada mas Andre, benar-benar gak masuk akal!' batin Weni.


"Sudahlah aku gak tahu apa yang terjadi."


"Ayolah Wen, kamu gak kasian sama pak Fandi, dia tak melakukan kesalahan tapi malah dipecat."


"Kenapa begitu? Aku gak pernah meragukan keputusan mas Andre, aku yakin dia memecat pak Fandi karena memang dia melakukan kesalahan, mas Andre itu bukan orang yang tak masuk akal!"


"Justru itu, kamu gak liat kalo kelakuan Andre sudah di luar akal sehat, dia tak bisanya seperti ini," seberapa kerasnya Sakti meminta Weni menjelaskan, sekeras itu juga Weni menentang.

__ADS_1


'sial! Apa yang harus aku lakukan!'


Tak berapa lama akhirnya mereka sampai di lantai tiga, tempat kantin berada. Saat sakti melangkah ke dalam kantin semua mata tertuju padanya.


"Pak Sakti!" Ternyata Yang sedang makan berkumpul di kantin tidak lain adalah anggota meeting hari ini.


"Pak Sakti," beberapa orang menghampiri Sakti menggiringnya agar berkumpul bersama.


"Pak, save our soul, please,,," beberapa orang menangkupkan kedua tangannya di dada memohon. Sakti menghela nafasnya.


"Tenanglah tak akan ada apa-apa, oiya dimana pak Fandi?"


"Barusan saya liat dia ke kantor HRD,"


Untuk yang kedua kalinya Sakti menghela nafas.


"Pak Sakti, sebenarnya ada apa?"


"Iya Pak, apa ada proyek kita yang gagal?"


"Heh! Gak mungkin, seberapa persen bos kita yang jenius itu pernah mengalami kegagalan dalam proyeknya, nol persen jadi jangan khawatir masalah proyek."


"Lalu ada apa? Pak, aku gak mau dipecat, aku ini singlenya parent, aku harus membiayai kedua anakku, hiks,"


"Tenanglah, aku juga sedang mencoba mencari jalan keluarnya,"


'tapi aku gak tahu apa penyebabnya, gimana aku bisa dapet jalan keluarnya, pasti ada hubungannya dengan Ana, tapi apa?!'


"Pak, gimana dong?"


"Iya kita harus cari cara menenangkan bos, jika tidak habislah kita, pak Fandi aja yang jarang melakukan kesalahan tiba-tiba dipecat, apalagi kita!"


'menenangkan bos? Ah! Bego lu Sakti, seberat apapun masalahnya jika itu Ana semuanya pasti beres, gue tinggal minta Ana telepon Andre aja, siapa lagi yang bisa bikin bos kita itu tenang selain istri tercintanya.'


"Sebentar, sepertinya aku sudah tahu apa yang bisa membuat bos kita itu tenang." Semua mata memandang haru pada ucapan yang keluar dari asisten bosnya itu. Seperti mata air di tengah Padang pasir.


Sakti berjalan menjauh, dia mulai menghubungi ponsel Ana.


Truuurrrrtttttt, truuurrrrtttttt

__ADS_1


"mas Sakti? tumben!"


"Halo,"


__ADS_2