Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
121. Misi Menaklukan Hati Istri


__ADS_3

"yank, yakin kita ke Jakarta sekarang?"


"tentu saja,"


"huh! aku kira kita akan tetap di Singapura,"


"kita akan kembali ke Singapura setelah meminta hadiah kita, Ay!"


"hadiah? hadiah apa?"


"tentu saja hadiah karena sudah memecahkan masalah rumah tangga bos kita," Sakti mengerlingkan sebelah mata pada kekasihnya, Maria memutar matanya lalu membenahi duduknya. 'kali ini aku akan memerasnya habis-habisan, hehehe..." batin Sakti dengan senyum jahil.


*********


keruuuuukkkkk...


Andre dan Ana yang sedang saling menatap teralihkan akibat suara perut Andre yang membuatnya melapaskan tangannya dari wajah Ana, lalu memeluk perutnya sendiri.


"aku laper sayang..." rengek Andre, Ana menghela nafasnya.


"tunggu disini,"


"lho kita gak makan bareng sama yang lain?"


"gak usah, nanti kamu bikin ulah aneh-aneh, aku yang malu," Ana bicara sambil melengos keluar kamar. Andre hanya bisa tersenyum pasrah, padahal dia sangat ingin memperlihatkan keintiman mereka kepada Dimas, hitung-hitung sebagai pelajaran agar dia tahu bahwa tak akan ada kesempatan lagi untuknya. Tak lama Ana masuk ke dalam kamar dengan menenteng piring lengkap dengan segelas air di kedua tangannya. Andre yang tadinya rebahan langsung duduk menyandar pada tembok dinding yang dialasi bantal sebelumnya.


"nih,"


"suapin,"


Ana menyipitkan matanya menatap tajam suaminya, Andre langsung mengambil piring dan gelas dari tangan Ana sambil tersenyum manis.


"mau kemana?"


"aku mau nemenin yang lainnya di depan,"


"ya udah kalo gitu aku makan di depan juga," Ana langsung melotot pada suaminya.


"aku gak mau makan disini sendiri, An,"


"ya udah aku disini, cepetan makannya, aku gak enak kalo kita berduaan di kamar,"

__ADS_1


"emangnya kenapa kalo kita berduaan di kamar, kita suami istri wajarkan berduaan di kamar," Ana menghela nafasnya.


"udah cepetan makan, jangan banyak protes," Andre mulai menyendok makanannya dan menyuapkan pada istrinya.


"gak usah, aku nanti aja beli di luar sekalian pergi ke Metro mall,"


"metro mall?"


"hm, sebulan ini Dinar sewa stand buat di metro mall,"


"metro mall mana?"


"bekasi,"


uhuk... uhuk...


Andre tiba-tiba terbatuk saat dia mendengar kalau Ana akan ke Bekasi siang ini. Ana mengambil air minum untuk diberikan pada suaminya.


"pelan-pelan atuh ih,"


Andre minum dengan cepat,


"ya mau gimana lagi, emang dapetnya disitu,"


"ya udah nanti aku anter,"


"gak usah, aku bisa pake kereta"


Andre menghela nafas panjang.


"Aku yang anter," Andre kembali menyuapkan sesendok kupat tahu ke mulut Ana dan kali ini Ana membuka mulutnya, barulah Andre menyuapkan sesendok untuknya.


Akhirnya ana diantar oleh Andre tentu saja bukan Andre yang menyetir sendiri, kakinya masih belum sembuh total. Sesampainya di Bekasi Andre kekeh ingin ikut menunggui Ana yang membuat Ana merasa canggung pada Dinar. Bayangkan saja stand yang hanya sebesar tiga meter kali empat meter harus di huni tiga orang, dan berdasarkan kepribadian Andre yang jarang bicara membuat Dinar serba salah, Ana hanya bisa menghela nafasnya serta meminta pengertian pada Dinar.


*******


Seminggu berlalu


Andre sudah benar-benar seperti pindah rumah ke kontrakan istrinya, dia membawa sebagian bajunya serta sebagian berkas pekerjaannya membuat kamar Ana penuh dengan tumpukan kertas. Andre tak bisa menyimpan berkasnya di luar kamar mengingat semua berkasnya adalah sangat penting untuk kelangsungan perusahaannya jadi dia menempatkan semuanya di kamar Ana. Setiap hari Andre pergi dan pulang kantor dari dan langsung ke kontrakan istrinya. Sebenarnya itu membuat Ana merasa tak enak pada teh Tia, Dimas sudah jarang datang, teh Tia yang melarangnya karena setiap kedua lelaki itu bertemu keadaan tiba-tiba berubah jadi medan perang, pasalnya mereka akan saling memperebutkan perhatian Ana. Andre pun masih selalu egois dengan sifat mendominasinya ketika sedang bersama istrinya.


Dia tak lagi berusaha membujuk istrinya untuk pulang bersamanya, sejujurnya dia tak betah berada di kontrakan Ana, sempit, pengap, panas dan yang penting tempat tidur Ana sangat kecil untuk postur tubuhnya yang jangkung gede membuatnya sulit bergerak, yang membuat badannya pegal sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, jika dia membiarkan istrinya sendiri di luar bukan tak mungkin akan diambil orang, begitu pikirnya. Kakinya sudah mulai bisa berjalan tanpa tongkat hanya belum bisa jauh, jadi Andre masih selalu membawa tongkatnya juga kakinya masih sering merasa ngilu jika dipakai untuk jongkok.

__ADS_1


Malam semakin larut Ana masih berkutat dengan laptop dan buku-bukunya, sementara Andre sudah berbaring sejak satu jam yang lalu, hanya saja dia masih tak bisa tidur, bergerak bulak balik kadang tengkurap, terlentang, miring kanan, kiri.


"Kenapa sih, A? Ih, meni gak bisa diem," akhirnya Ana angkat bicara setelah gerakan suaminya membuat dia tak bisa fokus pada tugasnya.


"Badan aku pegel semua, An," Andre langsung mengungkapkan keluhannya saat Ana menyadari ketidaknyamanannya, Ana berjalan menghampiri suaminya.


"Yang pegelnya yang mana?"


"Semua," jawab Andre singkat sambil merubah posisi tidurnya "pijitin dong, An,," lanjutnya lagi. Ana menghela nafasnya, jika tak diikutin maunya Ana pusing karena melihatnya tak bisa diam, jika diikutin dia akan tidur lebih malam.


Andre sudah siap dengan posisi tengkurap minta dipijit oleh Ana, Ana kembali menghela nafasnya walaupun begitu dia masih mengikuti apa yang diminta suaminya.


"Jangan gini atuh tangannya," Ana meminta Andre meluruskan tangannya agar dia bisa dengan mudah memijit bagian bahunya, Andre mengikuti apa yang diinginkan istrinya. Ana naik ke tempat tidur dan duduk di atas suaminya, membuat hasrat Andre menaik seketika. Sudah susah payah dia menahan hasratnya selama satu minggu dekat dengan istrinya, hanya untuk sekedar tinggal bersamanya saja Andre harus sedikit memaksa istrinya jika dia sampai memaksakan hasratnya kemungkinan Ana akan benar-benar mengusirnya.


Tubuh Andre menegang seketika, tapi bukan Andre jika dia tidak bisa bersikap tenang, dia mencoba mengalihkan pikirannya dengan memainkan ponselnya. Beberapa menit kemudian,


"Udah belum?"


"Sayang, ini belum sampai sepuluh menit," jawab Andre tanpa mengalihkan mata dari ponselnya, sementara Ana sudah merasa kedua tangannya sangat pegal, hingga akhirnya dia ambruk di atas punggung suaminya yang membuat Andre terkejut.


"Tanganku pegel," rengek Ana dari balik punggung suaminya. Andre yang awalnya sudah tenang, hasratnya bangun seketika, dada Ana yang menempel di punggung Andre terasa kenyal membuat pegangan tangan pada ponselnya mengerat spontan.


"Ya udah, kamu turun dulu, aku juga udah ngantuk," kilahnya.


"Mmhh..." Ana bangun dari tubuh suaminya, dia berjalan menuju tempat laptop dan buku-bukunya berada. Andre menghela nafasnya lega, sekarang adalah bagaimana cara menenangkan kembali hasratnya yang sudah kembali bangun, Awalnya Andre pura-pura tidur tapi setiap dia memejamkan matanya gambaran tubuh istrinya yang molek dan sintal membuat khayalannya tak bisa ditepis lagi. Tak mungkin dia meredakannya dengan mandi air dingin, masalahnya di kontrakan Ana kamar mandinya hanya satu, dan berada di luar kamar. Sejam berlalu Ana akhirnya selesai dengan tugasnya, dia mulai membaringkan tubuhnya di samping suaminya. Andre yang merasakan tubuh Ana mulai melekat padanya lagi mulai membalikan badannya lalu memeluk istrinya.


"Masih belum tidur?" tanya Ana yang memunggungi suaminya.


"Mmhh,,," Andre menjawab dengan lenguhan.


"""""""""******"""""""""


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,


Makasih sekali lagi,,,

__ADS_1


__ADS_2