
Ana yang juga sudah selesai makan malam melangkah meninggalkan restoran.
Ana berjalan sambil memainkan ponselnya yang membuat dia hampir saja bertabrakan dengan seseorang jika tangannya tak ditarik Andre.
"eh, maaf!"
Andre tersenyum membalas orang yang meminta maaf.
Ana yang ditarik Andre dan ada dalam pelukan Andre masih sedikit terkejut.
"ck! kamu tuh kalo jalan jangan sambil main ponsel" Andre menyentil kening Ana pelan, tapi tetap saja sugesti membuat Ana mengusap keningnya.
"om mau kemana?"
"kemana lagi, nyari istri yang tersesat!" Andre menarik tangan Ana mensejajarkan langkah mereka.
"kalo istrinya gak tersesat kemungkinan dia mati kelaparan di kamar hotel nungguin suami yang ingkar janji!" jawab Ana santai sambil masih memainkan ponselnya.
"maaf, aku lupa mengabari!"
Ana mengalihkan tatapannya dari ponsel, menatap wajah Andre intens, Andre membalas tatapan Ana.
"kenapa?" Andre
"bisa minta maaf juga ternyata"
"hei!" Andre yang akhirnya terdiam karena kehabisan kata-kata.
****
Sesampainya di kamar hotel, Andre langsung menuju kamar mandi, sedangkan Ana memilih untuk membaringkan badannya yang masih terasa pegal seluruhnya terutama kaki.
Ana tak langsung memejamkan matanya dia masih sempat membalas chat beberapa temannya yang menyapa lewat aplikasi Instagram. Sesekali dia tersenyum, lalu tertawa.
Andre yang baru keluar dari kamar mandi mendekati Ana yang sedang bersandar pada kepala tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
"ngetawain apa, seru banget?" Andre yang melongokan kepalanya melihat ponsel Ana membuat wajah mereka sangat dekat.
__ADS_1
"aaah,,,!" Ana menjerit menutupi badannya dengan selimut saat menyadari Andre sangat dekat dengannya dan dia hanya memakai handuk menutup bagian bawahnya.
Andre sedikit terkejut, membuat dia menarik tubuhnya.
"ada apa?" Andre bahkan tak sadar kenapa Ana sampai berteriak ketika melihatnya.
Ana menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, sesekali dia membuka selimutnya untuk mengintip karena merasa penasaran dengan tubuh suaminya, 'ugh! kenapa badannya bagus banget!' pikirannya bertraveling sejenak mengingat saat dia digendong Andre, tubuhnya memang terasa sangat kekar.
Secara tak sadar Ana malah menatap tubuh Andre dengan intens, bahkan terlihat sesekali menelan salivanya. Andre mengikuti arah tatapan Ana yang ditujukan pada tubuhnya sendiri. 'ah!' Andre mengerti kenapa Ana tiba-tiba menggulung dirinya dalam selimut, 'ck! gadis ini, apa saja yang dilakukan sampai otaknya jadi semesum ini?' Andre tersenyum licik, bukannya dia pergi dan memakai baju dia malah menyelinap masuk ke dalam selimut tempat Ana menyembunyikan diri.
Andre menyelipkan tangannya di pinggang Ana, Ana yang tersadar Andre tak ada depannya, mencari ke setiap sudut kamar, hingga dia merasakan ada beban di pinggang membuat dia sulit bernafas. Lalu kemudian dia menyadari saat sebuah hembusan nafas menyapu lehernya. Ana membuka selimutnya dengan cepat, benar saja dugaannya. Andre memeluk tubuhnya dengan wajah berada tepat disampingnya hingga hembusan nafasnya terasa dilehernya.
"ah!" Sontak Ana menjauhkan diri dari tubuh Andre, tapi sayang semakin Ana meronta, semakin erat pelukan Andre.
"tenanglah, aku sudah janji gak akan menyentuhmu, kecuali kau mengijinkannya, aku hanya ingin tidur sambil memelukmu" Andre berusaha menenangkan Ana.
"gak menyentuh gimana? emang meluk bukan menyentuh?!"
Andre membuang nafas kasar, 'hah! dia ini polos atau sengaja memancing?!'
"kau itu!" Andre yang tadinya ingin menjahili Ana malah dia yang tak bisa menahan hasratnya dan adik kecilnya mulai terbangun seperti malam sebelumnya 'sial!'
Andre memindahkan tangannya yang memeluk pinggang Ana kini mulai menelusuri bagian sensitif Ana, merem*snya dengan perlahan.
deg
Ana yang merasakan daerah sensitifnya dir*mas, tiba-tiba badannya menjadi kaku dia bahkan menahan nafasnya.
Andre yang melihat reaksi Ana yang hanya diam mulai mengerutkan keningnya. 'kenapa dia terdiam? apa dia juga menginginkannya?!' sesaat setalah Andre memikirkan itu Ana berteriak kencang, dia menepis tangan Andre lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya.
"ahahaaaaa,,,"
Andre tertawa lepas melihat kelakuan Ana yang diluar dugaannya. 'sial! hampir saja kau ku makan! dasar anak kecil!' Andre mendengus kesal gara-gara dia ingin mengerjai Ana malah dia yang kena pancing.
Di dalam kamar mandi
Ana yang masih ngos-ngosan meremas baju yang melekat di dadanya. Ada sesuatu yang menggelitik disana, sesuatu yang terasa aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
__ADS_1
"tenang Ana, tenang!" Ana berusaha menenangkan debaran jantungnya dengan menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan, berkali-kali sampai detak jantungnya hampir kembali normal.
"apa yang kamu pikirkan Ana, dia cuma mau ngerjainmu, ingat dia itu tak suka dengan perempuan" Ana akhirnya bisa berpikir dengan jernih. "tunggu! lalu kenapa tiba-tiba dia memelukku?" Ana lalu mencoba mengingat chat terakhir dari teh Tia, bahwa cara membuatnya nyaman berada di dekat kita adalah dengan menganggap dia satu jenis kelamin dengan kita. "ah benar, mungkin dia merasa dia bisa nyaman di dekatku, tapi kenapa dia melakukan,,,?" Ana meraba daerah sensitifnya yang sempat dimainkan Andre.
'sial! jangan berpikir terlalu jauh Ana! sadarlah! sadarlah!' Ana berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi. 'beuh! kalo aku memperlakukan dia seperti sesama perempuan, seperti aku memperlakukan Stela? bener juga! Stela sering tidur sambil memelukku, dia bahkan pernah menciumiku, hihiiii,,," Ana bergidik jijik namun juga tersenyum lucu. Tapi begitulah, sesama perempuan dan bukan berarti mereka juga suka sesama jenis.
Sementara Ana sibuk dengan pemikirannya, waktu berlalu begitu saja.
Tiga puluh menit berlalu tak ada tanda-tanda Ana akan keluar dari kamar mandi.
"kenapa dia belum keluar?! jangan-jangan ketiduran lagi, ck! menyusahkan saja!" Andre berjalan menuju kamar mandi.
"An, kamu mau sampai kapan di kamar mandi?"
Deg
Jantung Ana kembali berdegup kencang.
'jangan pikirkan Ana! jangan pikirkan!'
"An, kaluarlah aku janji gak akan main-main lagi!"
Masih tak ada jawaban. "Ana kalo kamu gak keluar, aku dobrak pintunya!"
ceklek
Ana membuka pintunya, dia keluar dengan raut wajah datarnya melewati Andre yang berdiri di depan pintu. Sekilas Ana melihat Andre sudah menggunakan pakaiannya. Dia kembali ke tempat tidur dan memakai selimut kembali. Sekarang giliran Andre yang bengong melihat Ana yang terkesan biasa saja seperti tak terjadi apa-apa, sementara sebelumnya dia sangat histeris. Andre pikir Ana akan mengamuk, dan memukulinya.
'ck!'
Andre membuang nafasnya kasar, dia lalu mengikuti Ana Kembali ke tempat tidur.
Andre memiringkan tubuhnya membelakangi Ana. 'astaga! apa dia marah? aduh gimana donk, seharusnya tadi aku jangan terlalu impulsif! tapi gak bisa, jelas itu yang pertama buatku! hiks!' Ana merasa bingung apa yang harus dilakukan dia takut Andre akan menarik diri darinya, jika sampai Andre tak bisa nyaman didekatnya itu artinya misinya akan gagal.
'berpikir Ana! berpikir!' Tiba-tiba Ana dapat pencerahan, 'tenang Ana! tenang! nggap dia Stela! anggap dia Stela!'
Akhirnya dengan kesadaran yang penuh Ana memeluk Andre dari belakang.
__ADS_1
Andre Membuka mata saat merasakan sebuah tangan menyusup dipinggangnya. Andre menatap tangan kecil Ana yang melingkar di pinggangnya dan juga merasakan sesuatu yang kenyal menempel di punggung.
'sial!'