Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
76


__ADS_3

Satu hari berlalu Andre masih belum bisa menemukan titik terang dari masalahnya. Malam ini seperti biasa dia akan melakukan video call pada istrinya sebelum dia tidur. Ana yang masih setia dengan laptop dan beberapa buku di sampingnya tiba-tiba mendengar ponselnya berdering, dia tersenyum saat melihat nama di layar ponselnya.


“Assalamualaikum, “ sapa Ana saat mengangkat video call suaminya, dia menyimpan ponselnya di dekat laptonya dengan posisi berdiri.


“Waalaikum salam, lagi apa?” Ana memperlihatkan buku yang sedang dibacanya.


“aku pinjam buku dari perpustakaan buat referensi bikin makalah,”


“emh,,, makalah tentang apa?”


“pengaruh media online terhadap minat beli, kebetulan aku lagi bantuin temen jualan lewat media online juga, jadi aku bisa sekalian reset pasar,”


“temen yang kemaren kamu bilang mau bantuin buka pameran itu?” tiba-tiba kamera ponsel suaminya terlihat tak fokus, ternyata Andre merubah posisinya yang tadinya duduk kini berbaring dan menyelimuti dirinya.


“iya, gimana meetingnya, A, lancar?”


Andre menghela nafasnya


“masih belum ada kepastian, mareka meminta menakan harga,”


“lalu?”


“mereka bilang ada perusahaan yang mawarkan harga lebih tinggi”


“jadi”


“aku masih harus menyelidikinya, perusahaan mana yang berani menawarkan harga tinggi, aku takut itu hanya akal-akalan mereka, apalagi melihat kondisi perusahaan mereka sekarang,”


“bukannya kemaren ada beberapa dari pemegang saham yang mau menjual sahamnya,”


“iya itu juga jadi tak jelas karena isu itu,”


“ternyata susah juga ya, aku pikir tinggal jual terus beli, udah,”


“sederhananya seperti itu, tapi di lapangan apapun bisa terjadi, gimana pamerannya?”


“wah seru, baru kali ini bisa dapet duit dari jualan langsung, ya walupun bukan duitku, tapi aku jadi kepikiran buat buka usaha sendiri, atau joinan, A Andre nanam modal disana jadi nanti aku yang jalanin bagian menegement dan dia bagian lapangan, dia ternyata udah punya konveksi sendiri loh, yang jalaninnya temennya juga, walupun baru beberapa orang, tapi itu penjahit profesional kayanya,


jahitannya bagus, rapi,” Ana menjelaskan panjang lebar.


“boleh, kamu tinggal buat proposalnya, kasih Sakti nanti dia yang akan tindak lanjuti,”


“yaaaahhhhh,,, bisa gak sih kalo tanpa proposal, lewat belakang gitu!”


“bussines is bussines,”


“huh! Pelit!”


Hahaha,,,

__ADS_1


Andre tertawa melihat wajah isrinya yang sedang merajuk manja, pipinya menggembung, bibirnya yang sengaja dimajukan membuat dia malah terlihat menggemaskan.


“ck! Coba kamu lakukan itu saat kita dekat, sudah ku makan habis kau!”


“apaan sih!” Ana menutup mukanya dengan ke dua tangannya, Andre tersenyum.


“besok masih mau nungguin stand di pameran, bukannya besok kamu gak ada kuliah,”


“aku ke pameran sorean kayaknya, besok siang aku mau ke perpustakaan, mau pinjam lagi beberapa buku,”


“kenapa kamu gak ke Singapura aja, Makalah bisa kamu buat disinikan? Besok aku meeting kamu tinggal di hotel, setelah aku selesai kita bisa jalan, sekalian liat apartemen baru kita,” Ana terdiam mendengar ucapan suaminya, dia mulai menimang-nimang. 'bisa juga sih, asal makalah ku beres aja, gak ada masalah kayaknya, tapi,,,' batin Ana.


“aku udah janji bantuin temen buat nungguin stand,”


“Sayang, dua hari ini kamu udah nemenin temen kamu, lalu kapan kamu akan menemaniku?”


“lebay ih, perasaan nanti kamu balik juga kita ketemu,”


“kamu itu, ya udah aku mau tidur!”


Tut, video call terputus begitu saja.


“astaga! Ngambek ceritanya,” Ana hampir saja tertawa karena kelakuan suaminya. “manja banget sih!" Hela nafas "Aku telepon aja kali ya, bisi ngambek terus,”


Trrruuuuurrrrtttttt,,, truuuuuuurrrrrtttt,,,


“halo,,,” suara perempuan yang tak asing di telinga Ana.


“Weni?”


“mas Andre lagi di kamar mandi, nanti aku bilang kalo kamu telepon,”


Tuttuttut,,,


Ana terdiam, dia bahkan belum berbicara apa-apa dan teleponnya sudah diputus begitu saja.


“kenapa Weni bisa angkat telepon A Andre?” Ana melihat jam dinding, jam menujukan hampir pukul dua belas malam. ‘sedang apa Weni di kamar A Andre?’ Ana lalu meneleponnya lagi, dia merasa sedikit tak tenang. “kenapa?” kali ini Andre yang mengangkatnya.


“Weni di situ?”


“oh, iya, dia tadi ngambil berkas yang harus dia copy untuk meeting besok,”


‘semalam ini?’ batin Ana.


“halo, An?” Andre memanggil istrinya karena tidak terdengar suaranya.


“kamu gak tidur satu kamar sama Weni kan A?”


“ngomong apa sih kamu ini, An, sebaiknya kamu tidur sekarang, bukannya besok kamu banyak acara?” Ana menghela nafasnya saat mendengar ucapan yang lebih ke sindiran dari suaminya, ‘masih marah ternyata,’

__ADS_1


“jangan marahan dong, kita lagi jauhan, suka gak enak hati tau!”


“baiklah aku gak marah, tidurlah sudah terlalu malam, aku juga mau istirahat,”


“hm, malem,”


“malem, i love you,,,”


“too,,,”


Keesokan paginya, setelah menimang-nimang ucapan suaminya juga hatinya yang merasa gelisah saat Weni tiba-tiba menerima telepon darinya di tengah malam akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke Singapura.


Selepas salat subuh Ana langsung menelepon Andre, dia memberitahukan rencananya untuk pergi ke Singapura siang ini, hanya saja Ana masih harus ke perpustakaan dulu sebelum pergi, dia masih harus mencari buku untuk referensi pembuatan tugasnya.


Tiket pesawat sudah dibantu Sakti untuk mengaturnya, keberangkatan jam sebelas lewat lima belas menit, setidaknya dia harus sampai di bandara sekitar satu jam sebelum keberangkatan.


Setelah sarapan Ana menyiapkan baju yang akan di bawa ke Singapura, dia hanya membawa dua setel pakaian dan dimasukan ke tas ranselnya. Dia bergegas pergi ke kampus dan seperti biasa dia akan di antar oleh mang Imam.


*****


Wellcome to Singapore Changi Airport


Andre tersenyum saat melihat istrinya berjalan ke arahnya. Belum sampai dua hari Andre sudah sangat merindukan istrinya, dia melepas rindu lewat pelukan.


"aku laper A," ucap Ana saat masih dalam pelukan suaminya.


"baiklah, ayo kita makan," Andre melonggarkan pelukannya lalu memegang tangan Ana berjalan keluar dari bandara menuju parkiran.


"meeting nya udah selesai?"


"hm, tadi sebelum jam makan siang,,," Andre membuka pintu mobil untuk istrinya.


"Weni gak ikut?"


"gak," Andre menjawabnya singkat, dia masih fokus melihat jalanan. Ana mengerutkan keningnya, lalu jika hanya berdua apa Weni menunggunya di hotel.


"kenapa gak diajak, kasiankan dia nungguin di hotel,"


Andre tersenyum, 'mana ada orang kencan bawa adiknya?!' batin Andre.


"kenapa senyum?"


"aku bilang padanya hari ini aku ada acara, aku menyuruh Ardi menemaninya selama di Singapura,"


"Ardi?"


"hm, dia temanku, orang sini,"


"oh,"

__ADS_1


__ADS_2