
Hari lamaran
Ana berdiri di sudut ruangan di dalam kamarnya, di depannya tergantung sebuah gaun berwarna
abu terang, gaun yang terlihat sederhana namun elegan, perpaduan brukat dan kain satin halus itu
terlihat sangat indah.
Masih ada beberapa jam sebelum acara dimulai, acara pertunangan yang
dilakukan dengan sederhana atas permintaannya yang sempat menjadi perdebatan pada awalnya,
karena tante Ambar ingin semua prosesi termasuk lamaran dilakukan dengan megah.
Untuk apa
diadakan dengan megah?! toh semua ini Cuma sandiwara saja, begitu pikir Ana.
Terlebih sejak malam kesepakatan itu, Ana sudah tak pernah mendapatkan chat lagi dari Andre,
“sabtu depan keluargaku akan datang untuk melamar,”
itu chat terakhir yang Ana terima, itupun
sudah sekitar 6 hari yang lalu.
Semua persiapan pertunangan dilakukan oleh mama Meti dan Tante
Ambar via telepon, termasuk gaun yang ada dihadapannya sekarang ini, tentu saja yang memilih
model dan warnanya memang adalah dirinya sendiri, karena setiap model gaun yang ditunjukan
tante Ambar padanya terlalu mewah.
Ana menghela nafas panjang, dia memutar badannya berjalan ke arah tempat tidur, duduk
ditepiannya berdekatan meja kecil, meraih ponselnya dan kembali memeriksa aplikasi chatnya. Sejak
bangun subuh dia mengecek pesan chatnya berharap orang itu akan menghubunginya, siapa lagi
kalo bukan calon tunangannya itu.
“ish, belum apa-apa aku udang dibuang,!” gumam Ana sedikit kesal.
Akhirnya Ana membalas chat
yang belum sempat dibalasnya, terutama dari Stela, sejak Ana mengatakan bahwa dia akan dilamar
minggu ini, anak itu terus menghubunginya via chat karena kebetulan dia sedang ke luar kota.
Banyak sekali pertanyaannya, Ana sampai pusing menjawabnya. Dan yang paling bikin Ana bingung
adalah mengatakan siapa orang yang akan melamarnya. Ana hanya berharap Stela lupa dengan
cerita teh Tia mengenai laki-laki yang sempat mereka bicarakan waktu itu. Atau berharap stela akan
lupa dengan wajah orang yang mereka bicarakan itu dan sempat dilihat di foto dokumentasi
kunjungan pabrik milik teh Tia.
Waktu berlalu dengan cepat, selesai shalat magrib dua orang yang siap merias dan mendandani Ana
sudah datang, Ana mewanti-wanti pada dua orang itu agar merias wajahnya dengan sederhana aja.
__ADS_1
Setelah riasan wajah selesai, Ana menatap wajahnya di cermin, Ana tersenyum ‘cantik’ pikir Ana,
tapi tiba-tiba keningya mengerut lalu menghela nafas panjang.
“akh sudahlah, sudah tak mungkin mundurkan?! Lakukan saja, semangat!” Ana mengacungkan tinju
kanannya ke udara untuk menyemangati dirinya sendiri. Tak lama terdengar suara riuh orang
mengobrol di lantai bawah, sepertinya calon tunangannya sudah datang pikir Ana.
Toktok, jegrek!
Pintu kamar Ana di ketuk lalu dibuka tanpa menunggu sang pemilik memberi jawaban.
“teh, keluarganya A Andre udah dateng tuh, “
Dini ternyata yang masuk kamar Ana.
“weis,,, teteh geulis euy! Hahaaaaa,,,,” mata Dini berbinar kagum melihat kakaknya yang terlihat
pengling walau dengan riasan sederhana.
“geulis donk! Saha heula yang produksinya, mamah Meti gitu lho,”
“hahaaaaaa,,,” Ana dan Dini berbarengan.
“ih tau gak teh, banyak bule juga, lho!”
“iyalah emang keluarga suaminya tante Ambarkan bule,”
“iya sih, aaaaahhhhh,,, beruntung banget teteh walau dijodohin tapi sama orang ganteng, heheee,,,
lumayan buat memperbaiki keturunan, hahaaaaa,,,”
memperbaiki keturunan,’ batinnya.
“tenang aja ntar kamueun yang dijodohin, ntar teteh yang nyariin jodohnya, mau?!”
“idih ogah! Aku mah mending nyari sendiri we, kaya yang gak laku aja, hahaaaaaa,,,” jawaban Dini
disambut dengan cebian bibir Ana, ‘liatkan, adikku aja gak mau dijodohin,’ batin Ana sambil
menghela nafas berat.
Tak lama teh Lia menyusul ke kamar Ana.
“hei, ayo cepetan, kalah ngorol! Itu udah ditungguin di bawah, udah mau mulai acaranya” teh lia
yang tiba-tiba masuk langsung nyeroscos.
“kalo aku disini aja, boleh gak, teh?” tanya Ana dengan sorot mata memohon.
“gak bisa! Kan nanti ada sesi tanya jawab calon juga,”
“hah, maksudnya?”
“aduuuh udahlah, nanti juga kamu tau, ayo cepet yang penting sekarang turun dulu, udah
ditungguin.”
Akhirnya ketiganyapun turun menuju ruang tamu yang sudah di dekorasi engan sederhana.
Dari ujung anak tangga paling atas Ana memberanikan diri melihat sekilas ke ruangan utama, walau
__ADS_1
hanya sekilas Ana tahu bahwa semua mata sedang tertuju padanya, padahal Ana pikir dengan rgaun
sederhana dan riasan yang tidak mencolok, mereka tidak akan menyadari keberadaannya. Tapi Ana
lupa bahwa hari ini adalah hari dimana dia menjadi pemeran utamanya.
Langkah kaki Ana teras berat, jantungnya terasa mau pecah. Bahkan setiap satu anak tangga yang
dia lewati membuat intensitas detak jantungnya semakin meningkat, debarannya terasa seperti
menggetarkan seluruh tubuhnya. Ana meremas tangannya yang sudah mendingin sejak tadi, dia
bahkan tak berani mendongakkan kepalanya selama berjalan menuju ruangan utama.
Saat tiba di ruangan utama Ana disambut mamah Meti, Ana tersunyum lalu duduk di sampingnya.
Sementara teh Lia dan Dini memisahkan diri memeilih duduk dikursi belakang bersama keluaga yang
lain. Ana duduk di kursi depan dengan posisi berhadapan langsung dengan sang calon suaminya,
ruang kosong yang memisahkan mereka seperti tak ada gunanya. Membuat mereka bisa saling
melihat tanpa penghalang apapun. Saat Ana melihat ke depan tatapan mata beradu langsung
dengan mata Andre, beberapa detik yang membuat jantungnya berdegup kencang, kemudian Ana
memalingkan wajahnya menatap calon ibu dan ayah mertuanya yang melempar senyum dan
anggukan ke arahnya, disambut senyuman hangat Ana.
“alhamdulilah, calon wanitanya sudah datang, kita mulai aja ya acaranya, biar tidak terlalu malam,,,”
Mang Endang yang ditunjuk sebangai juru bicara acara memulai acara sesaat setelah Ana duduk.
Mang Endang adalah adik dari ayah Agus, mamangnya Ana.
“bismillahirrohmaanirrohiim,,, Assalamualaikum warrohmatullohi wabarokaatu,,,” mang Endang.
“waalaikumsalam,,,” hadirin.
“Alhamdulillah wassalatu wassalamu ala Rasulillah wa'ala alihi wasahabihi ajma'in amma ba'ad.
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam yang telah memberikan berbagai macam nikmat kepada kita
salah satunya adalah nikmat sehat, yang membuat kita bisa berkumpul dan bertemu di sini di acara
lamarannya neng Ana Azzahra dan A Andre,,,” mang Endang berhenti dan terlihat seperti membulak balik
sebuah catatan,
“oh,,,” berhenti lagi dengan kening berkerut
“ A,,, Muhammad,,, Andrean,,, Dave,,,
Colin,,, waduh namanya keren ya, hahaaaa,,,” tawanya mang Endang diikuti tawa pecah pada hadirin.
“A
Andre aja we yah, kepanjangan, heheeee,,,” lanjutnya. “shalawat serta salam senantiasa terpanjatkan
kepada uswatun hasanah kita Rasulullah”
“shalallahu ‘alaihi walah sallam,,,” mang Endang dan semua hadirin.
__ADS_1
‘astaga, bahkan aku sendiri kaget ngedenger nama asli calon suamiku sendiri, huft!’