Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
109. Ana bertemu Andre dan Weni


__ADS_3

Weni semakin kalut saat tak menemukan Andre di dalam kamarnya.


"Mami!!!!" dia berlari menuju ruang makan sambil memanggil mami Ambar.


"Ada apa?" mami Ambar dan Sakti berbarengan, spontan berdiri melihat Weni yang berlari sambil berteriak.


"mas Andre, mas... Andre..." Weni bicara terputus-putus diantara hela nafasnya.


"Ada apa? Weni?" Sakti langsung loncat mendekati Weni dia memegang kedua lengan Weni memaksanya bicara.


"mas Andre... hilang!"


"apa???" Sakti dan mami Ambar bicara bersamaan dan dengan serempak mereka berlari menuju kamar Andre. Benar yang dikatakan Weni tak ada siapapun di kamar Andre.


"Mungkin di kamar atas, mami cari ke kamarnya,"


"aku cari di ruang kerja,"


Saat mereka keluar kamar bersamaan Andre tiba-tiba muncul di hadapan mereka yang membuat mereka terlonjak kaget.


"astagfirullah..." mami Ambar yang langsung berhadapan dengan Andre mengelus dadanya. Bukan apa-apa melihat keadaan Andre yang sangat terpukul setelah Sakti memberi kabar bahwa Ana sudah menyiapkan berkas perceraian, mereka takut Andre akan melakukan hal-hal di luar akal sehatnya.


"ada apa?"


"Mas, kamu gak apa-apa kan?" Weni menghambur mendekati Andre berjongkok mengnelisik keadaan kakak angkatnya, matanya mulai berkaca-kaca, terlihat jelas kecemasan dalam matanya.


"aku tak apa-apa, ayo kita pergi," Andre melengos menjalankan kursi rodanya keluar rumah.


"tunggu, Mas!"


"Ndre, lu mau kemana?"


Sakti mengikuti dengan cepat, mami Ambar hanya berdiri melihat interaksi mereka beliau memang jarang ikut campur untuk urusan anak-anaknya, terkecuali mereka yang memintanya atau keadaan yang memaksa.


"lu yakin mau ke kantor sekarang? lu baru balik, Ndre, sebaiknya lu istirahat dulu, kerjaan biar gue sama Weni yang handle,"


"gak perlu, gue gak apa-apa,"


"tapi, Mas..."


"sudahlah aku baik-baik saja," Andre tak menggubris mereka, dia masih terus menjalankan kursi rodanya.

__ADS_1


"Mas!!!" Weni dengan tegas menghalangi jalan kusri roda Andre, dia benar-benar menghawatirkan keadaan Andre saat ini, dia tahu Andre akan marah padanya tapi dia mengambil resiko itu demi kesehatan orang yang dicintainya.


"Ndre, Weni bener, lu udah maksa keluar rumah sakit, dan sekarang bukannya lu cek up, lu malah mau kerja,"


"berhentilah omong kosong, aku baik-baik saja, minggir!" Andre berkata dengan dingin.


"Mas, aku mohon, jika kamu seperti ini terus bagaimana kamu bisa cepat sembuh dan berdiri seperti biasanya,"


"Ndre, mereka benar, bukannya kamu bilang ingin membuat Ana kembali, lalu bagaimana caranya jika kamu bahkan belum sanggup berdiri sendiri." akhirnya mami Ambar angkat bicara, dia agak khawatir dengan kondisi anaknya saat ini.


"sebaiknya kamu cek up ke dokter terlebih dahulu," akhirmya Andre melemahkan tatapan dinginnya. Dia harus segera pulih agar bisa lebih cepat membawa istrinya kembali.


"baiklah,"


'masih saja harus menggunakan nama itu untuk membujukmu, tak apa, hanya sebentar lagi, aku akan membuat nama itu terlupakan untuk selamanya' Weni mengepalkan tangannya sesaat kemudian dia mengambil kendali kursi roda Andre dan mendorongnya dari belakang untuk menuju mobil yang sudah siap membawanya ke rumah sakit.


*****


"Gemes banget sih liatnya," Ana melihat sambil mengusap print foto hasil USG kandungan teh Tia, sementara teh Tia hanya tersenyum hambar tanpa berkata apa-apa. Ana yang akhirnya menyadari bahwa ada yang tak beres dengan teh Tia mulai melihat ke arahnya. Teh Tia terlihat seperti tertekan, dia menatap dua orang suami istri yang bercanda di depannya sambil melihat print foto bayi dalam kandungan istrinya, betapa bahagia saat mereka menantikan buah hati mereka hadir ke dunia ini. Ana menghembuskan nafas perlahan, seperti apapun teh Tia menyembunyikan perasaannya pada akhirnya dia akan kalah saat itu menyangkut tentang kehamilannya, anak dalam kandungannya. Anak itu tak bersalah tapi dia yang akan menanggung kesalahan orang tuanya, dia akan dilahirkan tanpa mengenal ayahnya. Bahkan saat seperti ini, saat-saat dia membutuhkan dukungan seorang suami teh Tia tak bisa mendapatkannya, setetes air mata jatuh tanpa menunggu aba-aba sang pemilik.


"Teh, aku laper..." teh Tia masih tak bergeming.


"em? kenapa, Na?" teh Tia menghapus air mata dengan jarinya.


"aku laper,"


"hah? laper? kantin jauh kali, Na, nantilah tunggu kita beres ngambil vitaminnya baru makan, ya?!"


Ana menghembuskan nafasnya, paling tidak itu bisa mengalihkan perhatian teh Tia walau cuma sedikit.


"ya udah, masih lama gak sih?"


"sebentar lagi, tuh tinggal nunggu tiga antrian,"


Teh Tia menunjuk sebuah layar monitor yang memperlihatkan nomor antrian mereka.


******


"Mas, mau makan dimana?"


"kita makan di rumah aja," Weni masih setia mendorong kursi roda, mami Ambar pamit lebih dulu setelah menerima telepon dan memastikan hasil cek up Andre baik-baik saja. Sedangkan Sakti dia tak ikut menemani mereka cek up, dia langsung ke kantor untuk kembali mengurusi masalah pekerjaan.

__ADS_1


"yah, kita udah lama gak makan di luar, yuk?! pliss,,," Andre menghembuskan nafasnya, akhir-akhir ini terlalu banyak yang terjadi dia bahkan tak sempat memperhatikan adik satu-satunya itu lagi, terlebih setelah dia menikah dengan Ana dia selalu menomorsatukan istrinya. Setelah kejadian malam itu, yang melibatkan Weni dalam masalah rumah tangganya, dia agak sedikit merasa bersalah. Sekarang Weni dianggap selingkuhannya oleh Ana karena kesalahannya, seberapa mengantuknya dia sampai menganggap Weni sebagai Ana lalu menariknya ke dalam pelukannya. Andre kembali menghela nafas berat.


"baiklah, kita akan makan di kafe sebrang,"


"oke!" Weni menjawab dengan nada riang.


*****


"makan apa? teteh yang traktir,"


"kok gitu?"


"ya itung-itung kompensasi karena udah nemenin teteh USG kali ini,"


"kayak baru kali ini aja,"


"ya udah kalo gak mau,"


"mau, mau, mau,,," Ana langsung mengiyakan, lumayan bisa ngirit satu kali uang makan siang pikirnya. Ana bukan orang yang kekurangan, tapi sebentar lagi dia akan bercerai, seluruh biaya hidup dan kuliahnya secara otomatis akan menjadi tanggung jawabnya, dia merasa malu jika harus kembali membebani orang tuanya. Terlebih dia sudah menginvestasikan sebagai besar uang yang dia punya, dan keuntungannya tak akan kembali dengan cepat, jadi dia harus lebih meminimalkan pengeluaran. Tapi paling tidak dia sudah punya pegangan untuk ke depannya, juga, dia ikut terjun langsung dalam mengembangkan investasinya pada bisnis pakaian yang dibangun oleh temannya, Dinar.


"Ana,"


Deg!


Suara itu, suara yang tak asing di telinganya, suara yang sangat dia rindukan, spontan Ana berbalik, sungguh dia kecewa dengan apa yang dia lihat. Ana mengeratkan pegangan tangannya pada salah satu pegangan kursi lalu berdiri, detak jantungnya berdegup tak beraturan. Ana mencoba menenangkan detak jantungnya lewat hembusan nafasnya, dia harus menguasai emosinya, pikirnya.


"wow, sepertinya pasangan tuan muda dan nyonya muda kita sudah tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya untuk segera hidup bersama, selamat!"


Andre membelalakkan matanya mendengar ucapan istrinya.


""""""*****"""""


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,


Makasih sekali lagi,,,

__ADS_1


__ADS_2