
Mereka kini berada di salah satu resto di dalam sebuah mall. Ana duduk bersebelahan dengan Stela, sedangkan Andre tentunya dengan Weni.
"Steak Wagyu USA, medium, mushroom sauce!" Ana yang terakhir memesan.
"Sayangnya makan steak tidak bisa dicampur kuah cabe, benarkan?!" Andre menatap Ana sambil menyunggingkan seulas senyuman.
Dia mengingat saat pertama mereka makan bersama yang berakhir dia memakan kuah cabe.
Sepersekian detik, Ana terpaku menatap senyum indah itu, yang selalu saja membuat jantung Ana bergetar, tapi kata-katanya membuat Ana mengerutkan keningnya, mencoba mengingat sesuatu 'kuah cabe?' Ana memperdalam kerutan keningnya sampai akhirnya mengerti apa yang dimaksud oleh calon suaminya itu.
"Ahahaaaaa,,,,," Ana tertawa lepas saat mengingat dimana dia sudah berhasil membuat tuan dingin dan cuek ini memakan satu sendok kuah cabe tanpa campuran.
"Sudah puas tertawa?!"
"Belum!" jawab Ana singkat sambil meneruskan tawanya. Andre menajamkan tatapannya saat mendengar jawaban spontan calon istrinya.
"Ah! Ehem! Maaf!" Ana menghentikan tawanya ketika tersadar semua mata tertuju padanya, bukan hanya tiga orang yang sedang ikut makan satu meja dengannya, penghuni meja sampingpun sempat melirik ke arahnya.
"Ehem! Sayang sekali, padahal seingatku anda sangat menyukai makanan berkuah cabe, benar begitu?!" Ana tersenyum puas, Andre menatap Ana dengan tajam, betapa dia tidak akan melupakan penderitaannya saat itu.
"Siapa? Mas Andre?" Weni ikut menimpali Ana. "Aku rasa kamu salah, mas Andre sangat anti dengan makanan pedas, benarkan, mas?" Weni melanjutkan, dia tersenyum sambil menatap Andre. Andre masih tak bergeming, dia terus menatap Ana dengan tajam. Itu membuat Weni sedikit tidak nyaman.
"Tuan sebaiknya anda tidak manatapku terlalu lama, atau anda akan jatuh cinta," Ana menyunggingkan senyuman licik di wajahnya.
Dia tidak bisa terus kalah, dia juga harus belajar mengendalikan degup jantungnya yang mulai sering tidak beraturan. Ucapan Ana jelas membuat Weni dan Stela melotot.
'astaga! Berani sekali perempuan ini menggoda kakakku, huh! Selamat! Kau sudah berhasil membuat kakakku ilfill' batin Weni.
__ADS_1
'astaga! Siapa dia? Apa dia benar-benar Ana, sahabatku?!' batin Stela menatap Ana tak percaya. Ana yang dikenalnya biasanya akan merasa malu saat ditatap oleh lawan jenis, apalagi harus mengeluarkan kata-kata seperti itu.
"Kenapa? Bukannya wajar jika aku jatuh cinta pada istriku sendiri?!" Andre berbicara dengan santai, sambil manggapai tangan Ana dan menyentuhnya. Sontak Ana menarik tangannya dengan cepat, 'sialan! Lagi-lagi aku kalah!'. Andre tersenyum puas ketika melihat semburat merah di pipi Ana.
'astaga! Aku pikir Seharusnya aku gak disini, kenapa mereka saling menggoda di depan umum seperti ini, bikin malu yang liat aja, njir asa hayang ngaliang, hiks!' batin Stela sambil menundukkan kepalanya yang juga merasakan hawa panas saat mendengar rayuan Andre pada Ana. Bukan hanya Stela, Weni pun merasa panas di seluruh bagian tubuhnya. 'apa? Mas Andre menggoda perempuan? Apa tidak salahkan?!' Weni yang tadi sempat memandang remeh Ana kini menunjukan wajah tak percayanya, Andre yang selama ini terkenal dingin pada perempuan sekarang dia sedang merayu perempuan?! 'apa mas Andre benar-benar tergerak hatinya?! Tidak! Tidak bisa! Mas Andre hanya boleh menjadi milikku, hanya milikku!' batin Weni seperti menegaskan.
"Permisi mbak, mas,,," waiters datang membawa makanan yang mereka pesan, menatanya satu persatu di atas meja. Adegan yang biasa saja, tapi cukup membuat ketegangan mencair di antara mereka. 'aku harus membuat mas Andre tetap memandangku, hanya aku satu-satunya wanita yang dekat dengannya, hanya boleh aku!' batin Weni.
"Mas, abis ini aku pengen nonton, boleh gak?! Ada film yang pengen aku tonton," Weni membuka suara lebih dulu setelah waiters kembali.
"Hem, kamu mau nonton apa?"
"Apa aja sih, yang penting mas suka juga, jangan kaya nonton terakhir kali, mas malah tidur, sebel tau," Weni menyenggol lengan Andre manja. Ana dan Stela saling pandang, merasa aneh. Meski begitu Weni masih terus saja mengajak Andre berbicara walau Andre menanggapinya tidak dengan serius dan bahkan lebih banyak kata "Hem," yang keluar dari mulutnya, sesekali dia memandang ke arah Ana yang sedang asik memakan makanannya tanpa bicara, begitupun Stela, dia jadi malas berbicara karena suara Weni lebih mendominasi, yang kadang tertawa kecil ketika menceritakan betapa seringnya dia jalan berdua dengan Andre, betapa Andre memanjakan dia dengan selalu menuruti keinginannya, bahkan saat sibuk sekalipun.
"Na, langsung balik?" Stela setengah berbisik setelah suapan terakhir lenyap di mulutnya.
"Mau kemana?" Andre yang mendengar percakapan Ana dan Stela, langsung memotong omongan Weni, membuat Weni terdiam.
"Ah, silahkan dilanjutkan makan siangnya tuan, nyonya, saya ada urusan yang harus dikerjakan," Ana berdiri mengambil tasnya dan menggapit tangan Stela. Andre mengerutkan keningnya saat mendengar panggilan yang diberikan Ana padanya dan Weni.
"Tunggu!" Andre menghentikan langkah Ana dengan memegang tangannya.
"Kamu mau kemana? aku antar!"
"Mas, waktu kita cuma sebentar, kalo nganterin mereka nanti keburu malam,"
Ana mengangkat kedua bahunya mendengar ucapan Weni, lalu menepis tangan Andre dan melanjutkan berjalan, baru dua langkah, Ana kembali berbalik.
__ADS_1
"Ah, terimakasih traktirannya, tuan!" Ana sedikit ketus, balik badan dan berjalan menjauh.
Andre terdiam menatap kepergian Ana. 'apa dia marah?!' batin Andre.
"Mas, terusin donk makannya! Jadwal tayang filmnya bentar lagi,"
Andre tak meneruskan makanannya,
"Weni, cepat selesaikan makannya, kita kembali ke Jakarta sekarang,"
"Lho, mas, kita kan belum jalan-jalan, katanya abis magrib baru pergi". Andre tak menjawab, dia mengangkat tangannya memanggil waiters.
"Bill!" Andre mengisyaratkan pada waiters agar dia menghampiri mejanya sekalian membawa tagihannya.
Di luar cafe.
Ana dan Stela berjalan disekitaran,
"An, naha asa anehnya?" (An, kok aneh ya?) Stela.
"Bodo, ah! Lain urusan," Ana menjawab seperti mengerti apa yang ingin ditanyakan Stela, dan tentu saja Stela masih penasaran dengan jawaban Ana.
"A,,," baru Stela membuka mulutnya.
"Ssstttt," Ana langsung membungkam mulut Stela.
"Gak usah dibahas, oke!" Ana sedikit tegas, sebenarnya Ana pun merasa ada yang aneh dengan sikap Weni pada Andre, kemungkinan besar itu yang Stela pikirkan juga.
__ADS_1