
Weni berjalan bulak balik di kamar hotelnya, dia baru kembali dari kamar tempat Andre menginap, tapi Andre masih belum pulang. Ini bahkan sudah ke tiga kalinya Weni masuk ke kamar Andre. Weni gelisah, sudah hampir jam dua belas malam dia masih tak bisa menghubungi Andre.
"kenapa mas Andre belum kembali? udah hampir tengah malam," Weni berusaha menghubungi Andre kembali.
"the number you are calling cannot be reached at the moment please try again later." Masih itu jawabannya.
"kemana dia? kenapa ponselnya mati?" Weni kembali berjalan bulak balik, dia semakin gelisah tanpa sadar dia mulai menggigit kuku jarinya.
"aargg! kenapa tadi sore aku silent ponselku? semua gara-gara si Ardi sialan itu!." Weni mengacak-acak rambutnya, 'gimana ini? jangan-jangan mas Andre marah?!'
Ardi yang merasa dititipi oleh Andre jadi dia bertanggung jawab atas Weni. Saat Weni menolak ajakannya untuk pergi jalan-jalan karena tak enak badan, dia terus menelepon Weni karena merasa khawatir. Akhirnya membuat Weni yang sebenarnya berpura-pura tak enak badan merasa kesal dan dia mematikan suara ponselnya.
Andre hanya menghubunginya sekali pada sore hari saat dia ingin meminta Weni mengantarkan berkas untuk kunjungan pabrik. Saat pertemuan, Andre mematikan suara ponselnya karena takut mengganggu. Apalagi dia bersama istrinya, tak ada yang perlu dia risaukan. "pakaian ada di sini, dia tak mungkin pulang ke Indonesia kan?!" Weni lalu mencoba menghubungi Sakti mencari tahu dimana keberadaan Andre.
"halo,,," suara serak khas orang bangun tidur.
"mas Sakti! mas Andre dimana?" Sakti yang masih belum benar-benar bangun lalu kembali tertidur setelah mengangkat telepon. Weni menunggu jawaban namun tak kunjung ada suara dari sebrang sana.
"mas saktiiiii!!!!"
"Astaga!" Sakti terkejut dan hampir membuat jatuh ponsel yang dipegangnya. Saat dia sudah stabil dia lalu melihat layar ponselnya waktu menunjukan pukul dua belas lewat 'Weni?ngapain dia telepon malem-malem?'
"halo, Wen, ada apa?"
"mas, tau gak di mana mas Andre? dia gak mungkin sudah kembali ke Jakarta kan? masa aku gak dikasih tau aku sih?!"
'kenapa dia nanyain Andre ke aku?'
"Weni kenapa kamu gak telepon dia aja, ngapain kamu telepon aku?"
"mas Sakti, kalo aku bisa hubungi mas Andre, aku gak akan telepon mas Sakti, gimana sih?! mas Andre gak balik ke hotel dari tadi siang, sampe sekarang malah gak bisa dihubungi, gak biasanya kaya gini!"
"ada urusan kali!" jawabnya santai.
"dia memang bilang ada urusan tapi masa sampe jam segini belum pulang?" suara Weni mulai terdengar gak sabar.
"kamu ini tengah malem ribut gini cuma karena Andre gak pulang??"
"ya aku khawatir mas Andre kenapa-kenapa,"
__ADS_1
"udah tenang aja, Andre udah gede, dia bisa urus dirinya sendiri, udah ya aku tidur lagi!"
tuttuttut
"aargg! mas Andre dimana sih?!" Weni semakin gelisah.
Sementara Sakti yang sekarang malah gak bisa tidur mulai kepikiran, memang tak biasa Andre seperti ini. Akhirnya dia mencoba menghubungi nomor telepon Andre dan seperti yang dikatakan Weni, ponsel Andre mati.
Sakti mengkerutkan keningnya, jika dia yang ikut dengan Andre sebagai asisten dia pasti yang mengatur semua kegiatan Andre. Tapi sekarang dia sedang ditugaskan untuk membereskan kerjaan di dalam negeri.
'kemana kira-kira Andre pergi?' Sakti berjalan mondar-mandir sambil mengetuk-ngetukan ujung ponsel ke dagunya. Sampai akhirnya dia mengingat bahwa Ana pun pergi ke Singapura menyusul Andre. 'Kemungkinan dia lagi sama istrinya,' Sakti menimang apakah harus menelepon Ana atau tidak, 'ah daripada penasaran, mending telepon aja deh, kalo ganggu paling gue kena semprot!'
Hotel MBS Singapura
Andre yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat ponsel Ana yang tiba-tiba menyala tanpa suara, dia lalu mengambilnya.
'Sakti? ngapain dia telepon malem-malem?' batin Andre.
"siapa?" Ana baru selesai mengerikan rambutnya melihat Andre mengambil ponselnya.
"Sakti," jawab Andre singkat. Ana mengerutkan keningnya.
"aku angkat,"
"aku aja!" Andre lalu menggeser tombol untuk mengangkat telepon, lalu men-loadspeaker.
"halo!"
"Ndre?"
"ngapain lu telepon bini gue, tengah malem gini?"
Seperti dugaan Sakti, Andre sedang bersama istrinya.
"gue gak bisa ngehubungi lu, makanya gue telepon bini lu, syukurlah lu baik-baik aja!"
"maksud lu?"
"si Weni nelepon gue barusan, dia sewot soalnya dia gak bisa hubungi lu,"
__ADS_1
"Weni?" Ana memalingkan wajahnya menatap suaminya, begitupun Andre membuat mereka bertemu tatap. Lalu Ana memalingkan kembali pandangannya menatap cermin di depannya. Dia berusaha tidak peduli dengan apa yang dikatakan Sakti walaupun sebenarnya itu sangat mengganggunya.
"iya, dia sewot soalnya sampe jam segini lu belum balik ke hotel katanya,"
"gue udah titip pesan sama Ardi, gue ada pertemuan mendadak sama klien,"
"entahlah, mending lu hubungi dulu dia aja, bikin repot tau!"
"ya," jawab Andre singkat lalu mematikan teleponnya.
Andre berjalan mendekati istrinya yang masih di depan cermin sambil menyisir rambutnya, dia berdiri dibelakang istrinya, lalu merangkulnya menyandarkan dagunya di bahu Ana.
"A Andre telepon Weni dulu aja, abis itu aku bantu keringin rambutnya,"
"hm, aku akan meneleponnya sekarang" sebenarnya Ana merasa kesal, tapi Andre jelas menganggap Weni sebagai adiknya jadi dia pasti tak ingin Weni khawatir. Sementara Andre merasa sedikit menyesal karena mengangkat telepon dari Sakti malah dengan sengaja dia me-loadspeaker nya. Dia tahu istrinya selalu sensitif jiga urusan Weni, bukan salahnya, dia juga merasa Weni sudah sedikit di luar batasannya. Tapi saat ini istrinya mencoba menempatkan dirinya sebagai kakak ipar yang baik, Andre tersenyum lalu mencium pucuk kepala istrinya.
"load speaker," pinta Ana, Andre mengangguk tanda setuju.
"halo,,," suara perempuan sangat dia kenal mengangkat telepon.
"Weni, kamu gak perlu khawatir aku baik-baik saja,"
"mas kamu dimana sekarang? kenapa kamu memakai telepon Ana? ini udah malem, kamu gak kembali ke hotel?" Ana merasa kesal mendengar ucapan Weni, dia mengepalkan tangan tanpa disadarinya. Tapi dia hanya membiarkannya, dia ingin tahu reaksi suaminya seperti apa.
"Aku di hotel, aku sama Ana kamu gak usah khawatir, oh aku sudah minta Sakti beli tiket untuk kamu pulang ke Indonesia, jadwal penerbangannya besok pagi." beberapa saat tak ada jawaban.
"apa aku pulang sendiri?" suara Weni terdengar lemah.
"ya, ini sudah malam sebaiknya kamu Istirahat, besok Sakti akan menghubungimu," Andre mematikan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Weni.
Ana berdiri meminta suaminya untuk duduk dia akan mengeringkan rambunya.
"kapan kita pulang?" Ana bertanya sesaat setelah Andre duduk.
"setelah kamu puas jalan-jalan, kita akan pulang,"
"puas jalan-jalan gimana, udah jelas Senin besok aku harus kuliah,"
Andre tersenyum, Ana mulai menyalakan hairdryer namun sesaat kemudian dia matikan kembali.
__ADS_1
"jadi bajunya gimana?" Andre menghela nafasnya.