Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
108. Kamar Ana


__ADS_3

Hal pertama yang Andre lakukan saat sampai di rumah adalah masuk ke kamarnya yang dia tempati bersama Ana.


"apa Ana tidur disini?" mami Ambar bertanya saat melihat Andre mambuka kamar tamu.


"ini kamar kami," mami Ambar mengerutkan keningnya.


"sejak awal Ana tak mau tidur di kamar ku, jadi aku yang pindah ke kamarnya,"


Kerutan kening mami Ambar semakin dalam. "bukannya kalian berpisah kamar?"


"tidak, sejak kami sah menjadi suami istri, Ana dan aku tinggal di satu kamar, kecuali saat aku dinas keluar,"


"jadi hubungan kalian?"


"hubungan kami baik-baik saja sebelumnya," Andre masuk ke kamarnya lalu menutup rapat pintunya. Dia menatap sekeliling, ini kamar yang biasa mereka tempati tapi hari ini terasa asing dan kosong. Matanya mulai fokus melihat sebuah frame berukuran besar di sandarkan di bawah dengan posisi terbalik, Andre mengerutkan keningnya. Diapun melihat beberapa bingkai foto kecil di atas nakas seperti sengaja di tangkupkan, sejak dia tahu Ana pergi, dia minta agar tak seorangpun masuk dan mengubah apa yang ditinggalkan istrinya. Jadi Andre berpikir bahwa itu dilakukan oleh istrinya. Dia menjalankan kursi rodanya masuk lebih dalam ke kamarnya menuju frame foto paling besar yang dia kira itu adalah foto pernikahan mereka. Mata Andre membesar seketika betapa terkejutnya dia saat melihat foto pernikahannya yang sudah hanya tinggal fotonya saja, Ana merobek foto bagiannya. Dia lalu kembali menjalankan kursi rodanya menuju nakas yang terdapat bingkai-bingkai foto kecil mereka, seperti dugaannya semua fotonya hanya tinggal bagiannya saja. Andre mengencangkan kepalan tangannya. Dia masih bingung dengan sikap istrinya, apa yang telah dilakukannya hingga istrinya itu seperti sangat membencinya sekarang. Malam itu dia bahkan berani bersumpah jika dia tak melakukan apapun pada Weni, dia tak memiliki hasrat apapun pada adik angkatnya itu. Kedua tangan Andre meremas kepalanya yang masih diperban sebagian.


"aku harus mencari tahu apa yang terjadi,"


Andre lalu merogoh saku mengambil ponselnya.


truuurrrrtttttt


"halo,,,"


"dimana?"


"masih di rumahmu,"


"ke kamarku sekarang,"


tut...


"ada apa, Sak?"


"Andre menyuruhku ke kamarnya, Mam,"


"baiklah, pergilah,,,,"


Sakti berdiri lalu beranjak meninggalkan mami Ambar dan Weni yang sempet berbincang dengannya.


toktoktok


"masuk!"


Sakti membuka pintu lalu masuk mendekati sahabatnya.

__ADS_1


"apa kau sudah dapat informasi baru?" Andre bicara setelah yakin Sakti berada dekat dengannya, Sakti tahu apa yang dimaksud Andre tanpa harus bertanya detilnya.


"ya, dia tinggal di kontrakan di daerah Depok, tak terlalu jauh dari kampusnya, sebelumnya dia tinggal di rumah teh Lia, membantu menjaga Salwa," Andre mengerutkan keningnya,


"menjaga Salwa?"


"ya, kabaranya kakak ipar mu itu jatuh dan hampir keguguran, jadi dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan,"


"bagaimana keadaannya?"


"dia baik-baik saja dan sudah kembali ke rumahnya setelah hampir seminggu d rumah sakit," Andre mengusap wajahnya, tak ada yang menceritakan padanya bahkan mama Meti dan ayah Agus.


"bagaimana dengan Ana?"


"dia sudah tinggal di kontrakannya sejak kemarin teh Lia pulang ke rumahnya, dan..."


"dan apa?"


Sakti mengambil nafas dan membuangnya perlahan, Andre berbalik menatap Sakti saat masih tak ada jawaban dari sahabatnya itu.


"ada apa?"


Sakti tergagap dan memegang tengkuknya, dia bingung cara menjelaskan pada sahabatnya terang istrinya yang sering berhubungan dengan mantan kekasihnya.


"ada orang yang sering datang ke kontrakannya"


'Dimas? dia benar-benar menggunakan kesempatan dengan baik,' batin Andre.


Sakti menyodorkan ponselnya pada Andre dan Andre menerimanya, dia melihat dengan seksama foto-foto dalam ponsel Sakti, begitu banyak foto saat Ana dan Dimas bersama, hanya dengan memikirkannya saja hatinya terasa sakit terlebih sekarang dia harus melihat foto mereka. Kening Andre berkerut saat melihat laki-laki lain dalam foto diantaranya.


"itu..." Andre mengalihkan pandangan dari foto ke arah sahabatnya yang terlihat semakin gugup.


"itu pengacara yang ditunjuk Ana untuk mengurus perceraian kalian,"


Deg-deg


Mata Andre terbelalak, dia tak percaya apa yang dia dengar.


'bagaimana bisa masalahnya jadi sebesar ini?' Andre meremas baju yang melekat di dadanya, terasa sangat sakit


"Ndre, lu gak apa-apa kan?!" Andre berbalik memunggungi Sakti saat tiba-tiba air matanya jatuh di salah satu sudut matanya.


"Ndre?"


Andre menghela nafas berat.

__ADS_1


"sebenarnya apa yang terjadi?" Sakti bertanya, dia sudah ingin menanyakannya sejak awal, sayang dia tak punya kesempatan itu.


Hening


"awalnya beberapa kali Ana tiba-tiba bertanya tentang hubunganku dengan Weni? aku mengabaikannya, lalu terakhir kali..." Andre menceritakan kejadian Weni yang tiba-tiba berada dalam pelukannya di ruang kerjanya (kejadian di eps 97-98)/


Sakti mengerutkan keningnya sesaat.


"apa kata Weni?"


"dia bilang, aku menariknya ke dalam pelukanku saat dia berusaha menyelimutiku, sebelum sempat dia menolak Ana tiba-tiba masuk, itu yang dia katakan"


Kerutan kening Sakti semakin dalam.


"aku benar-benar gak tau apa yang terjadi, malam itu aku ngantuk berat, seharusnya aku..."


'seharusnya aku tak memaksakan diri untuk menyelesaikan kerjaku malam itu,,,' Andre mengepalkan tangannya.


Setelah membagi bebannya dengan Sakti, pundaknya sedikit terasa ringan, dia lalu menjalankan kursi rodanya mendekati tempat tidur setelah Sakti keluar. Andre mengusap tempat tidurnya, setiap kali dia pulang ada istrinya disana, hanya dengan melihat senyumnya lelahnya terobati. Andre menggunakan tangannya untuk menyangga tubuhnya lalu duduk di pinggiran tempat tidur. Dia merebahkan tubuhnya, semuanya masih penuh dengan aroma tubuh istrinya, Andre menggulung selimut lalu memeluknya dan menciumnya. Sungguh dia merindukan istrinya.


'Ana,,,' dia ingat malam itu istrinya menangis kencang dalam kamar, hatinya masih terasa teriris setiap mengingat kejadian itu.


Semakin malam Andre melarutkan rasa rindunya lewat wangi tubuh istrinya yang tersisa.


Pagi hari, semua orang sudah menunggu Andre untuk sarapan tapi sudah setengah jam masih belum ada pergerakan dari kamar yang Andre tempati tadi malam. Mama Meti dan ayah Agus sejak malam sudah kembali ke rumah teh Lia diantar oleh mang Imam.


Tak seorangpun bicara, suasana terasa sangat dingin. Tiba-tiba mami Ambar menghela nafasnya.


"sudahlah biar mami yang ke kamar Andre,"


Weni mengeratkan kepalan tangannya.


"biar aku aja, Mam," Weni berdiri lalu beranjak mendahului mami Ambar menuju kamar Andre.


toktoktok


"Mas..." Weni tak mendengar jawaban, lalu kembali mengetuk pintu sekali lagi, masih tak ada jawaban, dia gelisah lalu tanpa pikir panjang dia membuka pintu kamar.


"""""*****"""""


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,

__ADS_1


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,


Makasih sekali lagi,,,


__ADS_2