
Kontrakan Ana, malam hari.
Kriiiinnngggg...
Teh Tia mengangkat teleponnya tanpa membuka mata.
"Halo," suara serak khas bangun tidur.
"Tia, saya Andre, apa Ana bersamamu?" Seketika teh Tia membuka matanya, spontan dia duduk dengan cepat yang membuatnya meringis tak bersuara merasakan tegang di perut bagian bawahnya, karena duduk dengan terburu-buru sehingga dia lupa untuk memiringkan badannya sebelum bangun.
"Pak Andre?"
"Ya, apa Ana bersamamu?"
"Ana tidur di kamarnya," jawabnya kaku.
"Bisa tolong lihat keadaannya," teh Tia beranjak dengan segera menuju kamar Ana.
"Ana sedang tidur, Pak, apa perlu saya bangunkan,"
"Tidak perlu, kamu tolong buka pintu rumah saja, aku tak bisa masuk karena di kunci,"
"Hah?"
"Buka pintunya," Andre mengulang perintahnya.
Dengan cepat teh Tia masuk ke kamarnya untuk mengenakan kardigan lalu keluar menuju pintu masuk utama untuk membuka kunci dengan tanpa melepas ponsel yang dia tempelkan di telinganya, padahal Andre sudah memutuskan hubungan teleponnya.
Ceklek
"Pak," Teh Tia membuka pintu lalu menyapa mantan big bosnya dan menyuruhnya masuk. Teh Tia tentu sadar mantan big bosnya itu lebih punya hak tinggal di tempat itu. Andre masuk ke dalam, dia berjalan menggunakan tongkat untuk menopang kaki sebelah kanannya yang masih belum pulih seutuhnya.
__ADS_1
"Dimana kamar Ana?" Tanpa basa-basi teh Tia langsung menunjuk arah kamar tempat Ana berada. Walau Andre sudah bukan bosnya lagi, tapi tekanannya hampir sama seperti dia masih menjadi bawahannya. Andre berjalan menuju kamar Ana, membuka pintunya dengan hati-hati, dia tak ingin membangunkan tidur istrinya yang akan membuatnya berakhir dengan pengusiran dirinya. Itulah yang membuat dia memutuskan untuk datang tengah malam saat istrinya tidur lelap.
Andre masuk kamar dengan perlahan, begitupun saat menutup pintunya dilakukan dengan sangat hati-hati.
Dia melihat posisi istrinya yang tidur dengan miring ke arah luar, hingga dia bisa menatap wajahnya dengan leluasa. Kedua telapak tangan Ana disatukan untuk menjadi salah satu bantalan sisi wajahnya. Andre tersenyum melihatnya, ingin rasanya mengecup walau sedikit wajah istrinya tapi tentu tak dia lakukan, dia tak mau ambil resiko dan membuatnya diusir lagi. Andre menyibakkan selimut dengan hati-hati, dia hendak tidur di sisi istrinya, ternyata sangat sulit terutama ranjangnya menempel di salah satu dinding kamar, hingga dia harus melangkahi tubuh istrinya untuk berada di sisi lain tempat tidur. Andre melangkah lebar sambil menahan nafasnya, seandainya itu membuat istrinya bangun maka habis sudah riwayatnya, dia akan sulit untuk mendekati istrinya di kemudian hari. Diapun harus menahan rasa ngilu pada kakinya yang dipaksakan untuk menjadi tumpuan saat melangkah. Setelah berhasil,a Andre mengusap dadanya sambil menghembuskan nafas perlahan, dia lalu membaringkan tubuhnya di sisi istrinya, ranjangnya sangat sempit hingga dia hampir menyentuh tubuh istrinya. Demi keamanan dia lebih memilih menempelkan badannya pada dinding, lumayan bisa bikin tubuhnya sedikit sejuk. Kontrakan Ana tak memiliki Ace hanya menggunakan kipas angin kecil hingga merasa hawa di dalam sangat panas.
Semua seperti kembali ke awal, saat dia harus seperti seorang maling yang mengendap-endap demi tidur dengan istrinya, sekali lagi Andre menghela nafasnya perlahan.
Andre menatap punggung istrinya, jika dulu dia berani memaksa untuk memeluknya kali ini karena dia tahu semua salahnya dia sedikit merasa takut dengan penolakan istrinya.
Pagi hari.
Ana merenggangkan tubuhnya, tiba-tiba saja tempat tidurnya terasa sempit. Ana mencoba membalikan badannya namun terasa berat, Ana berpikir sejenak perasaan ini sama seperti saat dia bangun disamping suaminya, ada sedikit harapan dalam hatinya, mungkin karena dia merindukan suaminya jadi dia memimpikan tidur dalam pelukan suaminya. Seketika Ana mencium wangi maskulin yang sangat dia kenal, detik berikutnya Ana membuka mata dan melihat sebuah tangan melingkar di pinggangnya, tidak mungkin dia benar-benar tidur dalam pelukan Suaminya. Ana terdiam dia tak berani menengok ke belakang, hembusan nafas teratur manyapu tengkuknya membuatnya merinding. Tiba-tiba tubuh Andre bergerak semakin mengeratkan pelukannya, sudah sangat lama dia tak tidur dengan nyenyak, sungguh membuatnya lelah. Sekarang Ana semakin yakin jika dia benar-benar tidur dalam pelukan suaminya. Ana bingung apa yang harus dia lakukan, sejujurnya dia masih ingin menikmati pelukan suaminya, tapi saat dia mengingat apa yang telah suaminya lakukan, sakitnya terasa kembali dalam hitungan detik. Ana menghentakkan tangan Andre kasar dengan sekuat tenaganya, membuat Andre melenguh.
"sayang kamu udah bangun?" Andre mengerjapkan matanya menatap Ana yang kini sudah berdiri menjauh darinya, barulah Andre tersadar bahwa dia sedang dalam proses meluruskan masalah. Andre spontan terduduk, sedikitnya dia merasa takut istrinya akan mengamuk.
"apa satu masih kurang memuaskan anda, sampai Ana mencari wanita lain untuk menemani tidur?" Andre membelalakkan matanya, kata-kata istrinya memang terdengar pedas tapi memang semua salahnya. Ana hendak keluar dari kamarnya dengan perasaan panas karena marah. Andre menarik tangan Ana hingga Ana terjatuh di pangkuannya, Andre memeluknya dengan cepat, dia menenggelamkan wajahnya di leher istrinya, dia harus berhasil bicara dengan istrinya, begitu pikirnya.
"gak! Ana, aku dan Weni benar-benar tak punya hubungan apa-apa, aku bersumpah," Ana menghela nafasnya.
"apa mau mu?"
"ayo pulang,"
"ini rumahku,"
"baiklah kalau begitu, jangan usir aku,"
"Tuan Anda punya rumah sendiri, mungkin istri Anda sedang menunggu Anda pulang,"
"apa kamu menungguku pulang,"
__ADS_1
"jangan bercanda, lepaskan!"
"baiklah aku akan lepaskan, tapi paling tidak lihat dulu video ini," Andre mengeluarkan ponsel dari sakunya, membuka sebuah video untuk diperlihatkan kepada Ana. Awalnya Ana tak peduli, sungguh tak ada kerjaan pikirnya, tapi semakin dia melihat semakin dia penasaran, Ana mengambil ponsel dari tangan suaminya. Dia memutar kembali video itu dari mulai pertama sampai Video terakhir, Ana membelalakkan matanya tak percaya.
"ini cctv rumah kita, aku harap ini bisa membuatmu percaya bahwa aku tak punya hubungan apa-apa dengan Weni atau wanita manapun." Ana menghela nafasnya, lalu bagaimana dengan yang lain, mereka sering melakukan perjalan bisnis bersama, pikir Ana. "foto-foto Instagram itu, jujur aku tak tahu bagaimana bisa dia memiliki foto itu, tapi sepertinya dia mengambilnya saat aku tidur, salahku aku terlalu percaya padanya hingga tak pernah mengunci pintu kamarku." Ana terdiam mendengarkan ucapan suaminya.
"lalu bagaimana dengan anak di perut Weni?"
"aku tak tahu dia benar hamil atau tidak, yang pasti aku bersumpah aku tak pernah menyentuk perempuan selain kamu," Andre bicara dengan masih meletakan dagunya di bahu istrinya.
"bagaimana dengan pesan itu?"
"pesan?" Andre menegakkan kepalanya, keningnya berkerut dalam.
"pesan yang mana?" Ana mencoba berdiri saat pelukan suaminya melonggar sayangnya Andre kembali mengeratkan pelukannya, dia kembali menenggelamkan wajahnya di leher istrinya.
"lepasin dulu ih,"
"gak mau," Andre benar-benar tak memberikan kesempatan untuk istrinya kabur lagi.
"aku mau ngambil ponselku, bukannya kamu tadi nanya pesan yang mana?" Ana memang tak menghapus pesan Andre, pesan itu adalah senjatanya untuk membuatnya sadar bahwa selama dia bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa bagi suaminya, dan pesan itu juga yang dia gunakan untuk menggugat cerai suaminya.
"""""""'"*****""""""""
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...
Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏
Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,
kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,
__ADS_1
Makasih sekali lagi,,,