
Teh Tia tersenyum, Ana mendapatkan laki-laki yang baik sebagai pendampingnya walaupun awalnya tak ada cinta di antara mereka malah terjadi salah paham. Dan pada akhirnya mereka bisa saling mencintai dan menerima satu sama lain bukanlah sesuatu yang mudah, kesalahpahaman yang terjadi terakhir kali sudah cukup menguras hati, pikirkan dan air matanya tentu saja, sekarang sudah waktunya Ana pulang dan menjalani kehidupan rumah tangganya yang bahagia.
"kalo gitu, mohon pengertiannya dari Bu bos kita ya, aku gak akan sungkan lagi tinggal disini, heheee..."
"iya, disini sudah cukup aman, mudah-mudahan terus aman ya, istrinya pak Nara bener-bener keterlaluan, padahal..."
Teh Tia memegang tangan Ana, membuat Ana menghentikan ucapannya.?
"bukan salah dia, Na, dia cuma berusaha mempertahankan apa yang seharusnya jadi miliknya, semua salahku," ucap teh Tia getir membuat Ana tak enak hati, sepertinya dia salah bicara.
Toktoktok...
Teh Tia mengalihkan pandangan pada asal suara, Dimas yang mengetuk pintu walaupun pintunya terbuka itu dianggap sebagai etika sebelum masuk ke ruangan atau kamar orang lain.
"Na, syukur kamu baik-baik aja, selamat ya, udah mau jadi ibu," Ana tersenyum dengan tangan yang? memegang perutnya secara refleks.
"makasih..."
"Teh, aku balik dulu ya, aku harus ke kantor soalnya," teh Tia menganggukan kepalanya, Ana membalas dengan lambaian tangannya.
"Na, aku balik ke kamar ya, takutnya suami kamu mau ngobrol sama kamu,"
"gaklah, dia lagi kerja, banyak kerjaan katanya, lagian aku juga mau istirahat, masih ngantuk,"
"ya udah, sok atuh istirahat..." Teh Tia keluar kamar dan menutup sedikit pintu kamar Ana, sementara Ana membaringkan tubuhnya mencari posisinya nyaman untuk istirahat. Tak lama Andre masuk dengan laptop dan berkas yang tadi dibawa keluar olehnya.
"gimana? ada yang kerasa gak enak?" Andre menyimpan laptop di meja kecil di atas lantai, lalu menghampiri Ana yang sudah dalam keadaan posisi nyaman untuk tidur.
__ADS_1
"aku ngantuk," ucap Ana lemah dengan mata tertutup, Andre menyeka keringat di dahi istrinya, kontrakannya memang masih terasa panas walaupun kipas angin terus menyala. Andre mengecup kening istrinya sebelum kembali duduk bersila menghadap meja kecil yang terdapat laptop di atasnya. Satu jam berlalu, beberapa kali ponselnya bergetar saat mendapat panggilan dari Weni, tapi Andre tak menghiraukannya.
Beberapa hari kemudian
Sejak Ana pindah ke apartemen lama Andre, dia merasa menjalani kehidupan keluarga kecil yang sebenarnya, pagi-pagi sebelum pergi ke kampus dia akan membuatkan sarapan untuk dia dan suaminya. Saat pulang kerja suaminya dia akan memasak hidangan sederhana untuk makan malam mereka, semua terlihat sempurna hanya saja Ana tak melakukan pekerjaan rumah yang lain seperti bersih-bersih. Untuk pekerjaan itu Andre tetap meminta art yang melakukannya, dia takut akan membuat Ana terlalu lelah, itu akan berpengaruh pada kandungannya.
Siang hari di kantor Andre
Andre baru selesai meeting bersama beberapa perwakilan perusahaan yang ingin mengajukan kerjasama dengannya, hampir empat jam mereka membahas proposal pengajuannya.
"Mas,.." Weni berdiri saat melihat Andre yang berjalan menuju ruangnya diikuti Sakti sebagai asisten dan Riana sebagai sekretarisnya. Andre terkejut saat melihat Weni menghampirinya, pandangannya mendingin seketika.
"aku tak ingin bertemu dengannya,"
"baik, Pak." jawab Riana lalu bergegas menghampiri Weni sementara Andre dan Sakti meneruskan jalannya masuk ke dalam ruangan. Weni yang melihat Andre yang tak menghiraukannya berusaha memanggilnya.
"maaf, Mbak Weni, Pak Andre sedang sibuk saat ini, tidak bisa ditemui, silahkan Mbak Weni kembali lain kali," sapa Riana menjelaskan dengan hormat, karena bagaimanapun Weni adalah atasannya dan juga adik dari bos besarnya.
"apa maksudmu?! mas Andre itu kakak ku, sesibuk apapun dia pasti mau bertemu denganku!" Weni bicara dengan nada tinggi pada Riana.
"maaf, Mbak, Pak Andre,..."
"diam!!!" Weni mendorong Riana dia lalu membuka paksa pintu ruangan Andre, lalu menghambur masuk ke dalam ruangan.
"mas, kamu kenapa sih? ada apa sebenarnya? kenapa kau terus menghindar dari ku?"
Weni langsung memberondong Andre dengan pertanyaan yang selama ini ingin dia tanyakan.
__ADS_1
"dengar Weni, seharusnya kamu mengerti..."
"Sakti, tinggalkan kami," Andre memotong ucapan Sakti, dia awalnya ingin mengusir Weni akhirnya dengan berat hati terpaksa meninggalkan mereka berdua. Sebelum keluar Sakti mengalihkan pandangannya pada Andre yang sedang duduk di kursi kebesaran, lalu berlalu di balik pintu.
'liat aja kalo sampe ada yang aneh-aneh lagi, gue unyeng-unyeng tuh cewek,' batin Sakti sambil mengepalkan tangannya.
Sakti masih tak menyangka bahwa Weni berani melakukan sesuatu yang di luar batas hingga hampir membuat Andre bercerai dengan Ana. Sakti memang tak mengenal Weni dengan baik, selama ini Weni selalu terlihat polos dan apa adanya saat berama dengannya, hingga dia lebih percaya ucapan Weni dari pada Ana pada saat itu. Tapi akhirnya apa yang dia lihat dan dengar tak selalu apa yang sebenarnya terjadi.
"ada apa?" Andre bicara dengan nada dingin, Weni sedikit tersentak, ini pertama kalinya Andre menggunakan nada bicara seperti itu padanya.
"mas, sebenarnya ada masalah apa? kenapa kamu jadi menghindari aku, apa aku punya salah? tolong katakan salahku apa?" Andre menghela nafasnya, dia memejamkan matanya sesaat.
"seharusnya kamu lebih tahu kenapa aku melakukan ini?"
"aku? ah! pasti kamu udah ketemu sama Ana kan?! dia pasti udah ngomong yang bukan-bukan tentang aku kan?! mas! dengarkan aku! aku gak pernah melakukan yang dituduhkan dia! dia yang memaki aku! bahkan menuduhku tidur dengan mu! jelas-jelas aku hanya..."
"diam!!!!!!" Andre benar-benar tak habis pikir dengan adik angkatnya itu, dia kira Weni datang padanya untuk mengaku dan meminta maaf, jika Weni melakukannya mungkin dia akan memaafkannya untuk kali terakhir. Bagaimanapun dia sudah menganggap Weni sebagai adik kandungnya, dia menyaksikan Weni tumbuh dari saat umurnya menginjak satu tahun. Dia menggendong Weni dalam pelukannya saat menangis karena merindukan ibunya yang sudah tiada, dia bahkan menyuapi dan menidurkannya, Teguh yang saat itu masih terpukul karena kehilangan pegangan hidup satu-satunya, hanya menangis tanpa bisa menenangkan Weni, hingga Andre yang menggantikannya. Apa yang Weni lakukan membuatnya merasa dikhianati oleh orang paling dia sayangi dan percayai. Dan sekarang bukannya meminta maaf dia malah menyalakan Ana atas semua kesalahannya, seandainya Andre tak punya bukti bukan tak mungkin dia akan percaya pada ucapan Weni.
"""""'''******"""""""
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...
Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏
Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,
kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,
__ADS_1
Makasih sekali lagi,,,