Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
84


__ADS_3

Weni mulai mengambil sesendok penuh es krim lalu melahapnya, sekali lagi dan lagi. Dulu setiap hari Minggu Andre akan mengajaknya menonton di bioskop, shopping atau hanya sekedar jalan-jalan lalu mereka akan menyempatkan diri untuk makan es krim di toko ini.


Weni merindukan saat-saat itu, tapi setelah Andre mulai mengenal Ana dia seperti mengabaikannya, tak lagi memperhatikan seperti dulu. Weni selalu merasa kesal setiap dia mengingat itu, dia mulai mengetuk-ngetuk sendok dengan keras pada es krim di mangkuk kertasnya membuat es krimnya berbentuk tak beraturan. Dia kembali menyuapkan sesendok penuh lalu mengetuk-ngetuk dengan keras beberapa kali. Dia sedih, dia ingin marah tapi tak tahu harus marah pada siapa.


bruk!


"ah!" Weni bertabrakan dengan seseorang saat hendak berjalan menuju pintu keluar membuat bajunya belepotan dengan es krim. Weni kaget spontan dia melihat ke arah bajunya sendiri tanpa melihat siapa yang menabraknya.


"ah! sial!" Weni merutuk kesal, sambil menepis jijik es krim yang menempel pada gaunnya.


"maaf, maaf, saya gak sengaja, apa anda baik-baik saja?" Sapa seorang laki-laki yang menabraknya, Weni mengangkat kepalanya dia ingin sekali memaki orang yang sudah menabraknya.


"Mbak Weni?" tepat saat Weni mengangkat kepalanya, orang itu ternyata mengenalinya.


"Pak Dimas?"


"Mbak Weni, maaf, saya benar-benar tak sengaja," Dimas mengambil beberapa lembar tisu dengan cepat dari atas meja di sebelahnya dan memberikannya pada Weni. Weni terdiam dan menghela nafasnya, Dimas menunggu Weni untuk mengambil tissue di tangannya, tapi Weni hanya terdiam, karena hatinya yang sedang kesal dia mencoba mendinginkan dengan mengambil nafas perlahan beberapa kali lalu membuangnya. Dimas bingung 'apa dia menungguku untuk membersihkan es krim di bajunya, bukannya itu gak sopan?!' batin Dimas mencoba menerka situasi karena Weni hanya diam. Dengan canggung Dimas mencoba mendekati Weni untuk membersihkan es krim di gaunnya.


"hei! apa yang kau lakukan?!" Weni marah saat tangan Dimas tiba-tiba menjulur ke arah tubuhnya, dia menepisnya dengan kasar.


"i-itu,,, aku,,, eh, saya,,,!" Dimas jadi gelagapan.


Weni merampas tisu di tangan Dimas lalu pergi begitu saja.


hhhh,,, Dimas membuang nafasnya,


"apa aku yang salah paham?! ah! sudahlah," Dimas berbalik menuju kasir dan ternyata Mbak kasirnya sudah di belakangnya dengan beberapa perangkat pembersih lantai.


"ini, mbak, maaf!"


"gak apa-apa, kak, biar saya yang bersihkan," ucap gadis itu, Dimas melangkah mundur beberapa langkah memberi tempat untuk mbak kasir membersihkan lantai tempat es krimnya jatuh. Dimas kembali berjalan melalui jalan yang berbeda menuju kasir, lalu membeli lagi varian es krim yang tadi terjatuh dan dua minuman yang akan diberikan pada mbak dan mas kasirnya untuk permintaan maaf.


"kok lama?" seorang wanita menyambutnya di luar toko.


"tadi nabarak orang, jadi es krimnya jatuh, ya aku beli lagi,"

__ADS_1


"oh!" Dimas memberikan es krim cone yang di pegangnya.


"yuk!" Mereka berjalan menyusuri jalan setapak di antara toko-toko makanan di ke dua sisi nya.


******


Weni menghela nafas sambil memilih baju di sebuah butik. Hari ini dia terus memikirkan Andre dan Ana membuatnya kehilangan konsentrasi, setelah bertabrakan dengan Dimas, dia lalu sempat salah masuk toilet, dan sekarang dia memasuki kamar pas yang sudah ada orangnya.


"salah sendiri! kenapa masuk kamar pas gak di kunci!" Weni menyalahkan orang lain atas kecerobohannya, padahal orang itu masuk sesaat sebelum Weni masuk, dan diapun sebenarnya melihatnya.


"akh! dasar sial! semua gara-gara si Ana! sejak dia datang, hidupku jadi berantakan!"


Setelah mengganti gaunnya dia keluar dari butik.


"kak, maaf ini bajunya ketinggalan," seorang pramuniaga butik berlari mengejar Weni. Weni berbalik, "gak apa-apa, Mbak, buang aja!" Weni kemudian kembali berbalik dan meneruskan jalannya. 'anggap aja buang sial' batin Weni.


Weni berjalan tak tentu arah di dalam mall, dia bingung mau ngapain.


kriiiinnngggg,,,,


"mas Sakti? apa mas Andre udah balik?" gumam Weni, dia mengangkat telepon Sakti dengan semangat barharap kalau Sakti akan mengabari dirinya tentang Andre yang sudah kembali.


"halo mas Sakti,"


"kamu lagi ngapain?"


"hah?!" Weni bingung dengan pertanyaan Sakti.


"aku di arah jam tiga," Weni menoleh ke arah yang di sebut Sakti, Sakti melambaikan tangan sambil tersenyum.


Weni melemaskan tubuhnya, berjalan gontai menghampiri Sakti, tubuhnya lemas karena ternyata Sakti meneleponnya bukan untuk mengabarinya tentang Andre. Sebenarnya Weni sangat ingin tahu Andre sedang apa dan ngapain aja, tapi dia tak berani menelepon kakak angkatnya itu. Cukup dengan sikap Andre semalam sudah membuatnya tahu ketidak inginan Andre untuk di ganggu, Weni sangat mengerti sifat kakak angkatnya itu.


"hai, Wen! apa kabar?" Sakti ternyata membawa Maria untuk shopping.


"hai mbak, aku baik! cieeeee udah baikan ternyata,,," Weni mengubah ekspresi nya dengan cepat, dia tak ingin Sakti tahu tentang perasaannya pada Andre.

__ADS_1


"dari dulu juga kita baik, Wen," Sakti menjawab.


"baik tapi yang satu selingkuh yang satu balas dendam, satu insyaf satunya masih gendeng juga, kalian bener-bener luar biasa." Weni mengacungkan kedua jempolnya.


"liatkan anak kecil aja sampe tau, masalah kita!" Sakti menanggapi.


"itu karena kamu, yang suka curhat sama anak kecil!" jawab Maria cepat.


"aku gak pernah curhat sama dia, dia aja yang Kobe!" balas Sakti.


"lalu kamu curhat sama siapa? sama selingkuhan kamu itu?"


"astaga, ay, itu udah sangat lama, dan aku gak pernah selingkuh lagi, ok! walaupun kamu masih terus selingkuhin aku!"


"oh jadi sekarang aku yang salah?" Maria jadi sewot.


"bukan gitu, aku,,,"


"stop!" Weni setengah berteriak untuk melerai sepasang kekasih yang setiap ketemu pasti berantem, kalo jauh kangen-kangenan seperti dunia milik berdua.


"dengar ya! pertama aku bukan anak kecil! ke dua! pliss dong! jangan berantem di mall, malu! kalo mau berantem, balik dulu aja, sana!"


"hmpt!" Maria membuang muka saat dia sempat saling bertatap dengan kekasihnya itu.


Sakti membuang nafasnya perlahan.


"ay, ayo dong, jangan marah ya, iya, aku yang salah, aku salah, aku minta maaf ok! kita baru ketemu, masa mau berantem lagi sih, katanya mau nonton!" Sakti memegang tangan Maria agar mau kembali menatapnya, dia menaik-turunkan alisnya menggoda kekasihnya.


Maria menghembuskan nafasnya.


"baiklah, ayo Wen, kita nonton!" Maria menarik tangan Weni untuk mengikutinya.


"lho! ay! kita kan mau ngdate, masa bawa anak kecil?" Sakti bengong melihat Maria menggandeng Weni dan meninggalkannya.


"hei, aku bukan anak kecil!"

__ADS_1


__ADS_2