Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
124. Ayo pulang, An.


__ADS_3

Teh Tia keluar dari kamarnya, sebenarnya dia tak bisa tidur sejak dia mendengar pertempuran Ana dan Andre tepat di kamar sebelah, dia sudah mencoba tertidur tapi pikirannya malah melayang tak terkendali setiap mendengar ******* dan erangan yang saling bersahutan. Setelah suasana tenang dia mulai kembali tertidur namun tak lama dia dikejutkan saat tiba-tiba mendengar suara pintu tertutup dengan sedikit keras. Teh Tia mulai gugup dia mencoba berpikir dengan jernih, jam menunjukan pukul setengah tiga dini hari, bukan waktunya orang berkeliaran, dia mulai terlihat cemas. Teh Tia turun dari tempat tidurnya berjalan dengan berjinjit, dia takut yang datang adalah maling. Dia mengintip dari lubang kunci, tak ada apa-apa dan tak terdengar apa-apa akhirnya dia memberanikan diri keluar kamar, satu-satunya tempat yang hendak dituju adalah kamar Ana. tapi saat dia melihat ke kamar Ana yang terbuka dia baru sadar yang keluar adalah Ana dan suaminya.


Teh Tia sedikit lega tapi tak bisa membuatnya tenang karena Ana tak mungkin keluar rumah dengan sengaja di waktu dini hari seperti ini.


'apa terjadi sesuatu pada Ana? atau Pak Andre?" Dia menyibakkan sedikit gorden luar, berharap Ana dan suaminya segera kembali.


Dalam gugupnya Teh Tia memutuskan menelepon Dimas.


"jangan keluar rumah, aku kesana sekarang," jawab Dimas dari sebrang sana. Teh Tia kembali ke kamarnya menunggu Dimas datang.


Rumah Sakit


"maaf, saya membawa obat yang harus diminum ibu," suster yang memergoki Ana dan Andre berciuman masuk dengan sedikit canggung namun berusaha tak memperdulikannya. Andre yang masih terkejut karena tiba-tiba didorong dengan keras oleh istrinya berusaha menstabilkan duduknya lalu mengambil obat yang disodorkan oleh suster padanya untuk diminum Ana, sebelum pergi suster menyarankan untuk lrbih banyak istirahat. Setelah dipikir Ana memang belum sempat istirahat hingga setelah Ana meminum obatnya Andre meminta istrinya untuk tidur sejenak. Ana menghela nafasnya saat suster sudah keluar dari ruangannya.


"udah jangan banyak pikiran lagi, tidur, kamu belum tidur, lho,"


"astaga, kenapa hari ini harus terjadi kejadian memalukan sampe berulang,"


"hei, kita ini suami istri, kenapa harus malu?" Ana menatap tajam pada suaminya.


"udah-udah, tidur," Andre menangkupkan satu tangannya pada mata Ana untuk membuatnya menutup mata.


Sampai pagi Andre masih tak bisa memejamkan matanya, dia mantap wajah istrinya yang tertidur dengan pulas.


Tiba-tiba suara gadung membuat Ana terpaksa menarik kesadarannya kembali dengan cepat, tangannya terasa berat saat berusaha digerakan, saat membuka matanya dia melihat suaminya tertidur di sampingnya sambil memegang tangannya, dan ada dua orang perempuan yang datang, sepertinya salah satunya adalah dokter jaga yang akan melakukan pemeriksaan di pagi hari.


"maaf, diperiksa sebentar ya Bu..." suster meminta ijin.


"A, bangun..." Ana menepuk pelan tangan suaminya, tak lama Andre langsung terbangun dengan wajah yang masih setengah sadar, dengan cepat Andre menegakkan tubuhnya.

__ADS_1


"gimana Bu, ada keluhan?"


"gak ada sih, dok," dokter lalu menekan bagian bawah perut Ana, lalu menggunakan stetoskop di bagian tertentu.


"masih sakit?"


"nggak, dok" jawab Ana jujur.


"dokter kandungannya jam tujuh baru Dateng, nanti beliau yang akan menentukan boleh pulang atau tidaknya, tapi kalo dilihat sih sepertinya sudah bisa pulang," ucap dokter sedikit menerangkan.


"iya, dok, terimakasih." dokter mengangguk lalu pamit keluar ruangan Ana.


"masih ngantuk ya?" Tanya Ana saat melihat suaminya mengusap wajahnya beberapa kali.


"lumayan," jawab Andre.


"aku pengen pipis," ucap Ana, Andre dengan sigap membantu Ana yang hendak ke kamar mandi.


********


Setelah salat subuh Weni membaringkan tubuhnya kembali, menatap langit-langit dengan mata kosong. Sejak dia diusir dari ruang rawat Andre saat itu, Weni tak lagi bisa bertemu dengan Andre. Weni bingung jika Andre memang sudah tahu, dari mana dia tahu? dia melakukannya dengan sangat hati-hati, bahkan bisa di bilang tak meninggalkan jejak. Instagram tentu saja dia sudah memastikan jika Andre maupun Sakti tak memiliki akun Instagram bahkan keluarganya tak ada yang memiliki. Satu-satu jalan Ana yang memberitahukan tentang foto Instagram itu, tapi dia sudah menghapus foto-foto itu, juga Weni saat itu sudah memastikan jika Ana tak mau menemui Andre, jadi Ana tak mungkin bicara terus terang pada Andre. untuk masalah dia merekayasa kejadian saat dia ruang kerja Andre, sudah jelas tak akan ada yang menyadarinya. Tapi jika alasannya bukan karena itu, lalu karena apa lagi? Andre selalu sangat sayang padanya, dia selalu mengalah untuk memanjakannya apapun yang dia mau.


Dia benar-benar ingin bertemu dengan Andre untuk mencari tahu apa yang terjadi. Tapi sekarang jangankan untuk langsung menemuinya bahkan untuk urusan perusahaan dia harus selalu melalui Sakti, Sakti juga mulai memperlihatkan sikap yang berbeda padanya, begitupun dengan Ardi yang awalnya mau membantu dia. 'oh ya, apa jangan-jangan si Ardi itu yang ngasih tahu ke mas Andre? gak mungkin! aku cuma minta Ardi untuk memoto Ana dan Dimas saja itupun sudah seijin mas Andre karena memang Ardi diminta untuk mencari informasi tentang Ana, dia tak mungkin tahu masalah Instagram, apalagi rekayasa kejadian malam itu, ah! malam itu memang sungguh kebetulan yang sangat pas,' Weni tersenyum saat mengingat Andre menampar Ana demi dirinya. 'semuanya sangat rapi dan tanpa jejak, seharusnya semua sesuai rencana, mas Andre seharusnya sudah siap dengan surat cerainya, apa yang salah sebenarnya?'


Senyum Weni kembali menghilang, berkali-kali Weni menghela nafasnya, 'aku harus bertemu dengan mas Andre,' tekadnya. Weni langsung mencari maskapai penerbangan tercepat untuk kembali ke Indonesia.


********


"sayang kita pulang ya," Andre membujuk Ana untuk kembali bersamanya, saat ini dia rasa adalah waktu yang pas, dia punya alasan membawa Ana pulang, karena tempatnya saat ini tidak bagus untuk perkembangan kesehatan janin alasannya.

__ADS_1


"inikan udah di jalan mau pulang,"


"maksudnya kita pulang ke rumah kita,"


"aku gak mau balik ke rumah itu lagi,"


"iya gak apa-apa, kita pulang ke apartemenku aja ya?"


"A Andre sejak kapan punya apartemen di Jakarta?" Andre mengerutkan keningnya.


"kamu gak tahu? bukannya dulu aku pernah cerita?"


"kapan?" Jawab Ana cepat.


"ah! aku lupa belum sempat cerita, dulu aku tinggal apartemen, cuma saat Weni datang aku ngerasa tak nyaman berada di apartemen berdua, jadi aku pindah ke mansion,"


"apartemen itu pernah ditinggalin sama dia?" Ana masih tak rela menyebut nama itu dengan bibirnya, masih sedikit menyesakkan, terlebih dia masih merasa sakit hati dengan apa yang Weni lakukan walaupun itu ternyata hanya karangan saja, tapi sudah jelas dia ingin memisahkannya dengan suaminya.


"""""""*****"""""""


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,


Makasih sekali lagi,,,

__ADS_1


__ADS_2