
"umh,,," Ana mendesah disela ciumannya, ketika dirasa tangan suaminya mulai memainkan daerah sensitifnya, satu ******* yang membuat kabut asmara diantara mereka semakin menggebu. Andre yang kemudian mulai menurunkan ciumannya melalui leher lalu semakin turun seperti dengan sengaja merasai setiap jengkal tubuh istrinya. Sementara tubuh Ana menggeliat mengikuti setiap sentuhan suaminya, memberi respon dengan lugas, tubuhnya menginginkan lebih. Saat semakin memanas, Andre lalu melanjutkan ke bagian intinya yang membuat Ana meringis kesakitan.
"sakit?"
Ana mengangguk, Andre melakukannya dengan perlahan. Inipun yang pertama untuknya, ternyata dia baru menyadari menjadi pemain yang sesungguhnya tidak semudah seperti yang dia lihat. Striker harus bisa menyesuaikan kemana dia akan menendang bola agar tepat sasaran dan tidak membuat sang penjaga gawang terkena bola hingga kesakitan namun tetap bisa membobol gawangnya. Disamping itu diapun harus menyesuaikan perasaanya yang semakin menggebu dan membuatnya ingin cepat mendapatkan kemenangan yang telak.
****
Weni yang malam ini tak bisa memejamkan matanya mulai menerka apa yang akan terjadi di antara Andre dan Ana.
"kenapa Ana bisa ada di Singapura? mas Andre gak bilang mau ngajak Ana, apa dia sengaja merahasiakannya dariku? tidak! tidak! untuk apa mas Andre menyembunyikannya dariku?! sejak kapan Ana datang? apa dia sengaja mematikan teleponnya karena sedang bersama Ana? tidak! tidak mungkin! atau Ana yang membuat dia kematian teleponnya! ya, itu pasti dia! dasar cewek gak tau diri! lihat aja! aku akan membuat dia mengerti cuma aku yang ada di hati mas Andre!" Semakin dipikirkan semakin banyak pertanyaan yang tak bisa dia jawab. "aaarrrgggg!" Weni terduduk seketika, semakin dia memejamkan matanya semakin terbayang apa yang akan terjadi antara mereka.
"tenang Weni! tenang! walaupun kamu bukan yang pertama mendapatkannya, tapi yakinlah kamu akan menjadi yang terakhir yang memiliki mas Andre." Weni mencoba menenangkan dirinya. "iya! itu pasti! mas Andre hanya milikku, aku yakin dia hanya masih belum menyadari keberadaanku di hatinya," Dengan kata-katanya sendiri Weni menenangkan dirinya dan akhirnya dia berhasil memejamkan matanya untuk tertidur.
Pagi hari, Bandara.
Weni berjalan berdampingan bersama Ardi memasuki lobi Changi airport, Sesuai yang Andre bilang Weni akan pulang ke Jakarta dengan penerbangan pertama. Begitu subuh tiba, Sakti surga menghubunginya.
Wajah Weni yang ditekuk membuat Ardi khawatir, dia berpikir kalau Weni masih tidak enak badan. Sikap riang sekaligus dingin yang biasa diperlihatkan oleh Weni tiba-tiba menghilang.
"kamu, baik-baik saja?" Ardi memperhatikan wajah Weni dengan seksama.
__ADS_1
"hm," jawab Weni dengan malas.
"apa masih tidak enak badan?"
"aku baik-baik saja, kau boleh pulang sekarang,"
Weni sebenarnya tak ingin diantar oleh Ardi, tapi Ardi bilang Andre yang memintanya untuk menjaganya, jadi dia akan mmelakukannya sampai Weni kembali ke Jakarta. Sebenarnya walau tanpa dimintapun Ardi akan melakukannya dengan senang hati demi pujaan hatinya. Sudah sejak lama Ardi menyukai Weni, sayangnya Weni selalu bersikap dingin padanya, karena itu dia tak pernah berani menyatakan cintanya. Tapi walau begitu paling tidak Ardi sudah mengantongi restu dari Andre dan itu membuat dia sedikit punya harapan.
"aku akan pergi setelah kau cek-in," ucap Ardi sambil terus berjalan mendampingi Weni. Ardi sudah terbiasa dengan penolakan Weni, apapun yang dia lakukan sepertinya tak ada yang baik dimata garis itu.
Weni berjalan meninggalkan Ardi untuk melakukan cek in. Sengaja dia melakukan cek in lebih awal, dia hanya ingin melepaskan diri dari orang yang tak disukainnya.
"dia bahkan tak melihat ke belakang, Weni, apa aku benar-benar tak punya harapan?" Gumam Ardi menatap punggung Weni yang semakin menjauh dan berlalu di balik pintu. Dia lalu menghela nafas "yah, cinta memang tak bisa dipaksakan" ucapnya dengan mengangkat kedua bahunya lalu berbalik berjalan keluar dari bandara.
'tapi aku tak akan menyerah begitu saja,' Ardi tersenyum. Selama masih belum ada laki-laki di hatinya dia masih punya kesempatan, pikirnya.
Ruang tunggu bandara
"cih! siapa dia ingin mendekatiku? dia bahkan tak bisa dibandingkan bahkan seujung jari pun dari diri mas Andre,"
'hanya dia laki-laki sempurna yang pantas mendampingiku,' batin Weni, dia menyunggingkan senyumnya saat membayangkan betapa sempurnanya pujaan hati sekaligus kakak angkatnya itu. Weni duduk dengan menumpang kaki, dia menajamkan matanya mengingat saat-saat Andre berjanji akan menjaganya selamanya.
__ADS_1
Flashback,
18 tahun yang lalu.
"Ndre, aku ninggal mbakyu, saiki wis ora duwe sapa-sapa, tulung diopeni." ( Ndre, aku titip adik ku, dia tak punya siapa-siapa lagi sekarang, tolong jaga dia) Teguh menatap langit-langit kamar rawatnya, layanan VVIP dirumah sakit yang disediakan oleh keluarga Andre untuknya bisa dia nikmati semata karena ibunya adalah seorang asisten rumah tangga di rumah neneknya Andre, Mbah Murni. Sayangnya ibunya sudah meninggal saat usia Weni masih setahun, sejak itu kakak beradik Teguh dan Weni menjadi tanggungan Mbah Murni.
"kamu jangan ngomong gitu, kamu harus sembuh! gak usah khawatir, aku pasti jaga adik mu," Andre menjawab dengan hati getir, dia tak mungkin mengatakan bahwa dokter sudah tak sanggup menangani penyakit sahabatnya itu. Semua usaha yang mereka lakukan hanya sebatas untuk mengurangi rasa sakit saja.
"ora, sanajan sampeyan ora ngomong sing bener, nanging aku ngerti apa sing kedadeyan karo awakku. Berjanjilah, ndre!" (tidak, walaupun kalian tak mengatakan yang sebenarnya, tapi aku tau pasti apa yang terjadi dengan tubuhku. Berjanjilah padaku, ndre!) Teguh memegang tangan Andre, meminta kepastian.
"aku janji! kamu juga harus berjanji, jangan menyerah, kamu harus sembuh, oke?!" Teguh mengangguk sambil tersenyum.
"alhamdulillah saiki aku lega," (Alhamdulillah aku lega sekarang,) ucapnya lalu dia berpaling pada adik kecilnya yang berdiri di samping Andre dan mengelus kepalanya.
"Wong tuwa kowe kuwi bocah sing apik, ya dadi bocah sing manut, mas Andre bakal ngganti masmu sing ngurusi kowe" (nduk kamu jadi anak yang baik ya, jadi anak yang nurut, mas Andre akan menggantikan mas mu menjagamu)
"iyo, mas!" jawab gadis itu, dia mengerti jika kakaknya sakit karena itu harus menginap di rumah sakit, hanya saja dia tak tahu bahwa kakaknya sedang sekarat.
"kita akan menjaganya bersama! kamu akan sembuh!" Andre terus memberi dorongan pada sahabatnya. Andre menatap gadis kecil yang berdiri di sampingnya, di usianya yang ke tujuh tahun dia sudah kehilangan kedua orangtuanya, bahkan sekarang kakaknya dalam keadaan sekarat. Andre kemudian mengelus kepala gadis itu yang tak lain adalah Weni.
Flashback off
__ADS_1
'aku yakin mas Andre tak akan mengingkari janjinya untuk menjagaku, itu artinya dia pasti akan menikahiku' Weni membuka matanya lalu tersenyum.