
Keesokan harinya teh Tia mengundurkan diri dengan dibantu Dimas, sesuai prosedur seharusnya pengajuan resign akan dilakukan sebulan sebelumnya, tapi karena alasan sakit dan diperkuat dengan surat-surat dari dokter akhirnya pihak perusahaan meng-acc nya dan teh Tia masih mendapatkan haknya sebagai karyawan, tentu saja kondisinya yang sedang hamil tidak disertakan dalam surat dokter.
Dimas masuk ke ruangan atasannya, dan memberikan beberapa berkas.
"bagaimana keadaan kakak mu?"
Dimas terkejut, dia tak menyangka kalau atasannya itu akan tiba-tiba menanyakan keadaan teh Tia, 'apa dia tau masalahnya?' batin Dimas ragu.
"ya, dia sudah semakin baik, terimakasih, mbak Weni,"
"syukurlah,,, " Weni bicara tanpa menatap Dimas. Dimas sudah biasa dengan hal itu, Weni terkenal dingin dan sadis dalam hal pekerjaan dia sangat cerdas profesional. Dia hanya akan bersikap seperti sesuai usianya saat berada di dekat Sakti, sedangkan dia justru akan terlihat dewasa dan elegan saat bersama Andre. Dia tahu kalau Andre sangat suka pada perempuan dewasa dan elegan, sehingga dia berusaha menjadi apa yang diinginkan oleh orang pujaannya itu.
Seminggu kemudian
Teh Tia akhirnya keluar dari rumah sakit, Ana memapahnya berjalan menuju parkiran. Ana meminta ijin menjemput teh Tia pada Andre, sebenarnya Andre setengah hati mengijinkannya, karena dia ingat Dimas pun pasti ada disana. Akhirnya Andre mengalah setelah rengekan kesekian yang dilakukan istrinya dengan syarat dia akan ikut.
"Teh kalo ada apa, kabarin ya,,," Ana merangkul lengan teh Tia.
"astaga, senengnya punya ibu bos yang baik,,,"
"lebay ih,,," teh Tia tertawa melihat reaksi Ana, Ana hanya tersenyum lalu mereka terdiam. Sebenarnya Ana ingin sekali bertanya bagaimana dia akan menceritakan semuanya pada orangtuanya, tapi dia tak berani. Andre berjalan di belakang bersama Dimas, hanya keheningan diantara mereka. Jika bukan karena istrinya Andre malas bertemu dengan Dimas, tapi dia juga tak mungkin membiarkan Dimas dan Ana hanya bertiga bersama teh Tia saja.
"baiklah, aku harus pergi, makasih, Na, makasih banget," teh Tia pamit setelah Dimas memasukan tas nya kedalam bagasi mobil, mereka saling berpelukan sebelum saling melepaskan.
"Hem, jaga diri baik-baik ya teh, inget kalo ada apa-apa, kabarin ya,,," teh Tia mengangguk, lalu matanya beralih ke arah big bos nya berada.
"terimakasih, Pak, maaf sudah merepotkan." teh Tia merengkuh kan tubuhnya tanda hormat, Andre mengangguk menanggapi, setelah itu barulah teh Tia masuk ke dalam mobil.
Dimas menyodorkan tangannya pada Andre, sebelum Andre menyambutnya dia menatap wajah Dimas dengan tajam. Ana menyenggol lengan Andre agar mau menyambut tangan Dimas, walaupun merasa terpaksa akhirnya Andre berjabat tangan dengan Dimas.
__ADS_1
"terimakasih, saya harap keadaan kakak saya cukup hanya kita saja yang tau," ucap Dimas terdengar seperti sebuah sindiran, Andre menyipitkan pandangannya. Dimas melakukan itu karena dia mengira Weni tahu teh Tia sedang hamil itu dari Andre karena Andre adalah kakaknya, untuk Ana, Dimas yakin Ana tak mungkin membocorkannya.
"ck! kamu pikir aku punya waktu untuk mengurusi urusan orang lain?"
Ana sebenarnya agak sedikit terganggu dengan apa yang dikatakan Dimas tapi dia hanya diam, tak ingin terjadi konflik apalagi dengan tempramen Andre yang gampang berubah.
Setelah mereka pergi Ana merangkul tangan suaminya manja dan berjalan menuju mobil mereka.
"Kenapa? tumben rangkul-rangkulan kayak gini?" Andre menggoda Ana karena tak biasanya istrinya itu akan manja seperti itu padanya, biasanya justru dia yang menggenggam tangan istrinya.
"gak mau, ya udah,,," Ana melepaskan rangkulan tangannya pada lengan suaminya, lalu melengos berjalan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"ck! gitu aja marah," Andre tersenyum sambil berjalan dengan santai menuju mobil yang sudah berada istrinya disana.
toktoktok
Andre mengetok kaca jendela dari luar, Ana menurunkannya tanpa memandang suaminya.
"marah?"
"gak!" jawab Ana ketus masih tak mau menoleh ke arah suaminya, Andre tersenyum melihat wajah cemberut istrinya, sebelah tangannya meraih dagu Ana agar melihat ke arahnya, Ana mengikutinya dengan luwes.
"umh!" Andre mencium bibir istrinya dengan paksa, Ana memukul tangan Andre yang memegangi dagunya, Ana kembali memukul lengan Andre setelah Andre melepaskan tautannya, dia menoleh ke kanan dan kiri.
"ih! gimana kalo ada orang?!" Ana melotot menatap suaminya.
"makanya jangan cemberut," Andre berjalan mengelilingi mobil untuk masuk ke dalam mobil melalui pintu sebelahnya.
Beberapa jam kemudian
__ADS_1
Bugh!
Bugh!
Bugh!
brak!
Seorang pria berusia sekitar hampir kepala empat terjungkal tanpa bisa menghadang tinju yang sudah beberapa kali mendarat di badan dan mukanya, sebuah pot pecah tertimpa tubuhnya. Mendengar suara berisik dari luar, seorang perempuan berkerudung bertubuh gempal keluar.
"astagfirullah,,, Aa!!!!!" perempuan itu berteriak histeris saat melihat suaminya terkapar diantara pot bunga dan bersandar pada dinding teras rumahnya. Perempuan itu menghampiri laki-laki yang di wajahnya penuh lebam sudut bibirnya sobek dan mengeluarkan darah segar, ternyata laki-laki itu adalah suaminya.
"hei! kamu siapa? kenapa mukulin suami saya?"
Dimas menyunggingkan senyum meremehkan.
"sebaiknya Anda tanya pada suami Anda, siapa saya?!" Dimas menepis beberapa kali pundak bajunya yang sebenarnya tak berdebu, dia lalu berjalan mendekati sang laki-laki yang ternyata adalah pak Nara. Dimas menginjak tubuh pak Nara yang sudah tak bisa apa-apa, lalu berjongkok dihadapannya. Istrinya tentu saja berusaha mencegah, tapi tak dihiraukan oleh Dimas.
"aku tak sudi keponakanku punya ayah bajingan seperti Anda, untunglah dia tak akan pernah mengenal ayahnya." Setelah mendengar apa yang dikatakan Dimas, perempuan itu mengernyitkan keningnya dia berusaha mencerna kata-kata Dimas. Dimas berdiri, berlalu dibalik pintu pagar yang menjulang tinggi.
Walaupun dia masih belum merasa puas tapi dia tak mungkin terus memukuli pak Nara, kalau tidak pria itu akan benar-benar mati di tempat. Paling tidak kekesalannya sudah terlampiaskan walaupun hanya sedikit, pikirnya. Dimas mengingat kembali saat ayahnya mengamuk ketika teh Tia mengatakan bahwa dia sedang mengandung, sedangkan ibunya menangis sambil memeluk teh Tia yang bersujud di kaki ayahnya. Dimas mengeratkan pegangan tangannya pada setir mobilnya.
"sial! sial! sial!" Dimas memukul stir mobil dengan keras.
*******
Author masih terus bilang makasih banget sama yang masih setia baca, yang masih setia like, masih sempet komen buat nyemangatin,
Jangan lupa vote, sama subscribe nya juga ya,,,
__ADS_1
Boleh donk hadiahnya juga🙈🙉🙊
Makasih sekali lagi,,, 🙏🙏🙏