
Walaupun Ana tak tega jika harus memisahkan dua orang yang saling mencintai, tapi demi masa depannya dia harus memisahkan mereka. Dengan tekad yang kuat Ana berjalan menghampiri dua orang yang sedang bercengkrama, sebenarnya mereka hanya mengobrol biasa tapi di mata Ana malah seperti sedang bercengkrama dengan intim.
"Om, kok disini, aku nyariin dari tadi." Ana menyelipkan tubuhnya diantara Sakti dan Andre, membuat Sakti mau gak mau menggeser tubuhnya menjauh. Ana menggelendot manja di lengan Andre, Andre yang diperlakukan seperti itu sedikit terkejut.
'biarin deh mau dibilang ganjen juga, yang penting pisahin dulu dua orang ini' batin Ana.
"hai, Ana! gimana, udah baikan?" Sakti memulai pembicaraan.
"aku baik-baik aja, emangnya kenapa?" jawab Ana ketus. Nada katus Ana membuat Sakti menatap Andre, Andre mengangkat kedua bahunya. 'kapan gue nyinggung dia?' batin Sakti.
"ah, syukurlah!"
"eh acaranya udah selesai ya?! balik ke hotel yuk, aku pengen istirahat di ka-mar ho-tel" Ana menekankan kata kamar hotel di kalimatnya lalu menarik Andre menjauh. Andre dan Sakti sama-sama mengerutkan keningnya tak mengerti apa yang Ana maksud dengan menekankan kata kamar hotel dalam ucapannya.
"A Sakti, maaf ya kita duluan" Ana menoleh sebentar lalu pergi. Andre mengikuti Ana yang masih mengapit tangannya, dia melambaikan tangan tanpa melihat ke arah sakti. Sakti mengerutkan keningnya.
"ada apa dengan mereka?!" Sakti yang gak mau mengurusi urusan pengantin baru itu melengos meninggalkan ballroom untuk kembali ke kamar hotelnya. Kebetulan memang hotelnya berbeda dengan hotel yang ditinggali oleh Andre, karena hotel ini sudah di booking khusus keluarga besar mempelai.
'heh! nih anak cari mati ya, dia manggil Sakti, aa, manggil suaminya sendiri, om? ck! cewek aneh!' Andre mendelik menatap Ana walaupun begitu dia masih dengan setia mengikuti Ana yang menyeretnya keluar ballroom.
"hei!" Andre yang masih tak mengerti dengan kelakuan Ana yang tiba-tiba manja padanya memegang kening Ana layaknya sedang memeriksa suhu tubuh.
"apaan sih, Om" Ana menepis tangan Andre, dia masih tak sadar kalau dia masih menggelendot di lengan Andre.
"kamu gak demam, ada apa denganmu? baru putus cinta, cepat sekali move on nya"
"putus cinta, apaan?!"
Ana tak menghiraukan ucapan Andre, dia masih terus menyeret Andre menuju lift. Sebelum masuk lift Ana sempet melihat ke arah ballroom. 'heheee,,, dia gak ngikutin, baguslah'
Ting,,,
Suara lift terbuka
__ADS_1
"ehem, masih siang udah dempetan aja"
Seseorang yang tak lain Om Prima nyeletuk saat sadar apa yang dilakukan Ana pada Andre. Sontak membuat Ana melepaskan pegangan tangannya.
"heheee,,," Ana tersenyum canggung.
"kamu tuh, kaya gak pernah muda aja, udah gak usah didengerin, Na, tante Wina gak bisa Dateng Om Prima nya jadi sensi, heheee,,,"
Ana membalas gurauan para seniornya hanya dengan senyum canggung
Ana dan Andre masuk ke dalam lift bertukar dengan Om Prima dan Om Wisnu.
Ana mengerutkan keningnya saat mengingat kembali yang baru saja dia lakukan. Semakin diingat semakin malu rasanya, kenapa dia bisa seagresif itu.
Ana menggeser posisi berdiri menjauh satu langkah dari Andre dengan kepala tertunduk menutup wajahnya yang memerah. Andre yang juga menyadari itu hanya tersenyum. Andre menyondongkan tubuhnya mendekati Ana tanpa bergeser.
"kenapa? udah gak butuh makanya dibuang?" Ana mengerutkan keningnya sesaat tanda tak mengerti. Kemudian Andre memberi isyarat dengan menggoyangkan lengannya yang tadi diglendoti Ana.
"apaan sih?" Ana memalingkan wajahnya yang terasa semakin panas.
Sesampainya di kamar hotel, Ana memutuskan untuk mandi karena merasa tubuhnya sangat lengket. Sedangkan Andre dia pamit pergi pada Ana setelah menerima telepon dari seseorang sebelum sampai di kamar hotel, dia mengatakan akan kembali sebelum makan malam.
Selesai mandi seperti biasa Ana memakai body lotion di seluruh tubuhnya. Saat dia mengoleskan body lotion di tumitnya dia baru menyadari kalo ada plester yang menempel di tumitnya. Ana mengerutkan keningnya, 'Pantas aja gak kerasa sakit ternyata ditempel plester' kerutan kening Ana semakin dalam, 'siapa yang nempelin?' Ana berpikir sejenak 'jangan-jangan?! oh, jadi waktu itu dia yang menyentuh kakiku, dia yang nempelin plester di kakiku' Ana tersenyum, dia menarik perlahan plester yang sudah basah dari tumitnya.
'ssstttt, masih sakit ternyata, aku gak nyangka makhluk super dingin itu, bisa perhatian seperti ini.
Ana memfoto plester bekas, lalu mengirim hasil fotonya pada seseorang.
'makasih' kata itu diikut sertakan sebagai caption.
Ana : sekalian beliin Betadine dan plaster sebelum naik ke atas
'cuma dibaca doank?!'
__ADS_1
Sampai waktu makan malam hampir terlewat, Andre belum juga sampai di hotel. 'kalo aku nungguin dia, aku bisa mati kelaparan' Akhirnya Ana memutuskan untuk pergi ke restoran di hotel itu sendiri.
Restoran masih terlihat ramai, seperti masih banyak orang yang terlambat makan malam. Selesai memesan Ana menengok ke kanan dan kiri mencari, mungkin ada orang yang dia kenal yang juga terlambat makan malam. Sepertinya tak ada yang dia kenal, tiba saat dia memalingkan wajahnya ke arah belakang di kursi sudut dekat jendela, Ana memicingkan matanya dia melihat seseorang yang sangat dia kenal duduk bersama seorang wanita sedang mengobrol dan makan malam.
'ck! aku nunggu hampir kelaparan di kamar hotel, dia malah kencan sama adiknya yang ganjen itu!' Ana cemberut melihat Andre yang sedang makan bersama Weni. Ternyata perempuan yang menelepon Andre sebelum masuk ke kamar hotel adalah Weni.
Tanpa menghiraukan mereka akhirnya Ana menyantap makanannya sendiri, dia memainkan ponselnya, membuka aplikasi Instagram.
Hampir satu jam waktu yang digunakan Ana hanya untuk makan sekaligus stalkin status orang lain.
kriiiiiinnnggg,,
Ana yang sedang asik memainkan ponselnya, melonjak kaget, saat ponselnya tiba-tiba berdering.
Om memanggil...
"sialan!" Ana mengumpat karena ponselnya hampir saja lepas dari tangannya.
'Huft!' sekarang baru inget sama bini yang hampir mati kelaparan ini!' Ana me-reject telepon dari Andre, tapi tak berapa lama teleponnya berbunyi lagi, begitu terus sampai Ana mendapat pesan dari Andre
Andre : angkat!
'Idih, maksa!' kemudian ponsel Ana berdering kembali, lagi-lagi Ana me-reject telepon Andre lalu mengirim pesan.
Ana : lagi makan!
Deg
Andre lupa memberi tahu Ana kalo dia tak bisa makan bersama dengannya, karena tiba-tiba Weni meminta di antar ke suatu tempat.
'sial! aku lupa, aku memintanya menunggu untuk makan malam bersama tadi!'
Andre : dimana?
__ADS_1
'gak dibaca? semoga dia gak marah' pikir Andre lalu memutuskan untuk mencari Ana di restoran hotel.