
Sarapan pagi yang menjadi ajang pertemuan para kerabat pagi ini nampak sepi, walau begitu keluarga inti masih tetap berkumpul. Candaan disela sarapan pagi ini membuat suasana semakin hangat. Kali ini Ana tak banyak merespon, lebih banyak diam. Dia masih malu atas apa yang terjadi saat bangun tidur, mukanya yang memerah sejak tadi membuat semua orang yang ikut sarapan jadi tersenyum.
"Ndre, lu apain bini lu, mukanya udah kaya udang rebus gitu?" Sakti bertanya setengah berbisik.
Andre menghela nafasnya tanpa menjawab pertanyaan Sakti.
"jangan-jangan! heheeee,,, " Sakti tertawa kecil.
"lu kalo gak mau mati! diam!"
"ups! hahaaaaaa..." Andre melotot ke arah Sakti yang disuruh diam malah tertawa lepas.
"lagi cerita apaan sih, Sak! kok kita gak dibagi?" Om Wisnu kepo.
"ada deh om, rahasia anak muda, hahaaaaa..."
"eh, sakti! emang rahasia anak muda sekarang sama anak muda jaman dulu beda ya?!"
"hahaaaa..." Sakti tertawa semakin jadi.
Andre menanggapinya dengan santai sambil memakan sarapannya, sementara itu Ana malah jadi tegang, dia takut Andre akan menceritakan apa yang terjadi tadi pagi. 'apa si om cerita sama Sakti ya masalah tadi pagi! gila aja masa yang kaya gitu diceritain!' Ana menutup mukanya dengan kedua tangannya. Sontak membuat semua yang hadir sedikitnya mengerti kenapa Sakti tertawa. Mereka bisa menebak bahwa itu pasti cerita tentang pengantin baru.
"hahaaaaaa... sepertinya ini rahasia pengantin baru kita," Om Wisnu tertawa lepas diikuti yang lain.
uhuk! uhuk!
Andre yang tadinya santai malah tersedak saat mendengar ucapan om Wisnu.
Ana yang tadinya tegang dengan muka memerah sekarang malah jadi pucat.
"hei, hei,, sudah, sudah! kaya gak pernah jadi pengantin baru aja! kasian tuh liat pengantin barunya jadi tegang gitu, gara-gara diketawain, hahaaaaa," yah papi Steve malah ikut ngetawain, diikuti oleh yang lain tentunya.
Sementara yang lain sedang beradu argumen masalah pengantin baru, Andre menyadari reaksi Ana yang terlihat pucat langsung mengambil ponselnya.
Andre : Ana, pergilah ke toilet jika kamu tidak nyaman.
Ana : apa om cerita sama a Sakti tentang yang tadi pagi?
Ana membalas pesan Andre dengan sebuah pertanyaan. Wajah Andre berubah dingin saat membaca pesan Ana. 'a Sakti?' batin Andre.
Andre : haruskah kamu memanggil laki-laki lain dengan sebutan intim seperti itu?
'hah?' Ana mengerutkan dahinya membaca pesan Andre 'sebutan apa? intim? laki-laki lain?' Ana tak mengetahui maksud Andre. 'kok jadi ngelantur sih?'
Ana : maksudnya apa sih? kok jadi ngelantur? sebutan intim apa? laki-laki lain apa?
Andre yang menerima pesan dari Ana wajahnya semakin terlihat suram, dia menyimpan ponselnya tanpa membalas pesan Ana, lalu pergi juga tanpa menghabiskan sarapannya.
__ADS_1
'sial! sebenarnya dia anggap apa aku ini?!'
Ana menghela nafasnya 'mulai lagi! nih orang sensinya kebangetan!' Ana menggelengkan kepalanya sambil melipat tangannya di dada, akhirnya dia lupa dengan topik pembahasan di meja makan yang sempat membuatnya malu, kini raut mukanya kembali normal.
Weni yang sejak tadi memperhatikan Ana dan Andre secara bergantian dengan intens merasa panas di sekujur tubuhnya. 'apa sebenarnya yang terjadi pada mereka?' Weni terlihat gelisah sesaat 'tidak! mas Andre tak mungkin menyentuh wanita yang tak dicintainya! aku yakin itu! tenang Weni! tenang!' Weni menghembuskan nafas panjang mencoba menenangkan hatinya yang terasa tak karuan.
Selesai sarapan Ana langsung kembali ke kamar. Karena masih pagi, MUA belum datang jadi dia memutuskan kembali ke kamarnya, berharap Andre ada di sana juga. Sayangnya dugaan Ana salah, Andre tak kembali ke hotel.
'ah, sudahlah!' Ana mengambil ponselnya dan mulai mengetik.
Grup chat SMA
Ana : oy! pada Dateng gak?
Ana mengirim pesan karena ingin menghilangkan jenuhnya, dia menyebarkan undangan lewat group ke beberapa grup temannya, SD, SMP, SMA dan universitas.
Satu-satu teman-temannya mulai menyahut.
Sesekali Ana tersenyum menanggapi celotehan mereka.
Terakhir Ana mengirim chat ke grup trionya.
Ana : haihaaiiiii,,, mau pada dateng jam berapa nih?
Stela : mulainya jam sepuluhkan?!
Stela : ho-oh, sama siapa lagi emang!
Ana : kali ma gebetan.
Stela : gue kapok punya pacar, mending kayak lu aja, Na! langsung merried!
Ana : kalo mau kayak gue, jangan lupa tanya dulu, gay, bukan?! hahaaaaa,,,
Stela : wkwkwkwk, pasti! kesian duren si gue, hahaaaa
Ana : hahaaaaaa,,, ngenes ih!
eh teh Tia kemana? sepi gini,
Stela : ke salon kayaknya,,,
males catokan sendiri! 🤣
Ana : lu gak ke salon, cul?
Stela : gue mah ek nebeng catokan didinya we, hahaaaa
__ADS_1
Ana : hahaaaaaa,,, mayarnya, mahal nyaho🤣
Stela :😠jahara iyey ih! ma'nya ekeu kudu mayar!
Ana : wkwkwkwk, geuleuh ih! kamana teh Tia ih! ek curhat yeuh.
teh Tia : hadir, hadir! ntar aja, Na, langsung aja pas ketemuan.
Ana : wah ribet teh, banyak orang gera!
teh Tia : teteh pengen denger langsung kalo di chat banyak mis nya.
Stela : ho-oh bener, wajib Carita ntar ketemu, soalnya lu kan mau langsung ke Jakarta, Na, kapan lagi coba,
Ana : iya juga sih, tapi kan gue juga pasti balik, cul!
Stela : Lila kneh ah, can riweuh Jeung kuliah
Ana : cul, neangan gawe jeng urang we, yuk! erek moal?
Stela : moal mungkin ayeuna mah, Na! salila teh Aneu can pulih mah, urang moal bisa kamana-mana.
cklek
Pintu kamar dibuka dari luar. Ana mengalihkan tatapannya pada seseorang yang baru saja masuk.
"dipanggil mami, MUAnya udah dateng." Andre yang baru masuk langsung menginstruksikan agar Ana naik untuk di make-up dan berganti pakaian. Ana membalasnya dengan anggukan, dia lalu bersiap untuk keluar, masih sambil membalas chat Stela, Ana berjalan menuju pintu keluar kamar tanpa mempedulikan Andre.
Andre yang hanya melihat Ana yang tak menghiraukannya menghela nafas panjang.
"An, selesai acara kita langsung ke Jakarta, besok aku harus udah masuk kerja," Ana menghentikan langkahnya,
"hm," Ana menjawabnya dengan berdehem disertai anggukan, tanpa melihat Andre lalu meneruskan berjalan. Andre mengepalkan tangannya melihat sikap Ana yang acuh tak acuh.
"Ana! bisa kamu dengarkan aku bicara sampai selesai," nada bicara Andre meninggi.
Ana menghentikan langkahnya yang hampir sampai di pintu keluar, lalu berbalik.
"hm, lanjutkan!" Ana mempersilahkan Andre melanjutkan bicaranya dengan mengangkat satu tengan ke arah Andre kemudian melipat keduanya di dada.
"lupakan! pergilah!" Andre yang mulai emosi dengan tingkah Ana lebih memilih tak melanjutkan bicaranya.
Ana mengerutkan keningnya kemudian mengangkat kedua tangannya tanda tak peduli, lalu keluar kamar melanjutkan langkahnya.
bugh!
Andre memukul dinding dia sebelahnya, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
'Huh! dasar egois! maunya didengerin, ngedengerin gak mau!' Ana bukan tak tau jika Andre emosi karena tingkahnya, dia cuma ingin agar Andre tak seenaknya padanya. Saat dia ingin perhatian padanya, maka dia akan perhatian, begitu pula saat Andre tiba-tiba bersikap dingin padanya, dia akan bersikap dingin tanpa alasan.