Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
Anggap Dia Anak Kecil


__ADS_3

Andre duduk di tepian tempat tidur, matanya mengedarkan pandangan ke setiap inci kamar Ana. Ini kedua kalinya dia memasuki kamar Ana. Pertama kali dia masuk, dia sempat menjahili Ana hingga pipinya merona. Dan sekarang dia memasuki kamar ini dengan status sebagai suaminya. Andre tersenyum mengingat kejadian pertama kali dia masuk ke kamar ini "kamar perempuan kek begini? bedcovernya aja bola, ckckck!" Andre berdiri berjalan menuju jendela yang terbuka, ada gitar yang disenderkan ke pinggiran lemari, Andre mengambilnya dan memainkan beberapa kunci, "suaranya masih bagus" gumamnya.


Andre lalu menghampiri meja belajar, menyentuh beberapa buku yang tertata dengan rapih, mengambil salah satu dan membukanya, tulisannya gak terlalu rapi. Lalu dia melihat banyak pernak pernik beratribut bola disana, sesuatu yang tertutup beberapa pajangan menarik perhatiannya. Andre mengambilnya, foto dengan bingkai berwarna perak berukuran pas foto, dia tersenyum saat mulai menyadari, itu foto Ana kecil, gadis kecil dengan rambut model bob memakai dress warna merah, berdiri di depan sebuah kios, Andre membuka bingkainya dan mengeluarkan fotonya lalu menyimpannya dalam dompet sedangkan bingkainya dia simpan di laci bawah meja belajar, berharap Ana tak menyadarinya.


Di sudut dinding beberapa foto Ana bersama teman-temannya dengan bingkai kain planel digantung memanjang "dia pakai jilbab? cantik" gumamnya. Setelah puas mengenali kamar istrinya, Andre kembali ke tempat tidur membuka laptopnya menunggu Ana kembali. Hingga dia tenggelam dalam berkas-berkas pekerjaan yang dikirim via email oleh sakti. Karena terlalu fokus dia tak menyadari Ana meneleponnya beberapa kali.


******


"gimana teh mau ambil ukuran apa?"


"ukuran apa ya? susah banget ih, gak di angkat-angkat, lagi ngapain sih dia?!"


"coba liat itu ada ukuran apa aja?"


"xxxl sama l" jawab Dini.


"beli aja dua-duanya, biar cepet!" Ana mengambil dompet Andre, dan membukanya.


'wow, cashnya banyak, heheeee,,,' batin Ana.


"Din, beli cemilannya aga banyakan gih, kita rampok dompet bapak CEO."


"ih si teteh ka salaki teh Kitu, gak bilang dulu teh?"


"dia mah orang kaya, duit segini mah receh doank buat dia, cepet ih!" dengan tanpa basa-basi Dini kembali ke rak makanan dan minuman, dia dengan sigap mengambil beberapa keranjang belanja lagi dan memenuhinya, 'lumayan buat stok seminggu, heheeee,,,'


*******


Saat kembali Ana justru tak menemukan suaminya di kamarnya.


"kemana lagi tuh orang, katanya malu keluar kamar" Ana lalu masuk menyimpan dompet dan pesanan suaminya di meja.


Saat Ana hendak mencari suaminya keluar tiba-tiba Andre muncul di depan pintu Ana dengan wajah pucat.


"kenapa?" baru Ana bertanya Andre sudah kembali berjalan dengan cepat menuju kamar mandi. Ana yang merasa aneh mengikutinya dari belakang.


uweeekkkkkk,,,

__ADS_1


"Om, buka pintunya," pinta Ana saat mendengar suara orang muntah, 'muntah? hamil?' Ana menepuk kepalanya dengan kepalan tangan, 'bego! dia itu laki Ana, mana bisa dia hamil, sebenarnya siapa sih yang berperan jadi ceweknya, dia atau sakti ya?! siapapun yang jadi ceweknya tetep aja gak bakalan hamil'


Andre membuka pintu kamar mandi.


"muntah?" Andre mengangguk lemas. Ana menempelkan tangannya di kening Andre.


"gak demam kok" gumam Ana.


Andre berjalan gontai kembali ke kamar sementara Ana mengambil air minum dan menyuruh Dini membeli bubur.


"dipisah Din topingna"


"eunya," jawab Dini sambil berjalan keluar rumah.


"ya udah neng, kamu balurin a Andre aja sana, biar mama yang bikin teh manis, mag eta teh, telat makan, da tadi titah dihudangkeun sarapan heula, ntar ntar wae, udah sana!"


"iya ini Ana bawa dulu air putih, mau disuruh minum obat mag dulu,"


Ana kembali ke kamarnya, Andre merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya dengan posisi terlentang dan lengan yang diangkat menutupi keningnya.


"minum obat dulu a," ana menyimpan air minum di atas nakas, "kok belum dipake?" Ana bertanya saat sadar Andre masih menggunakan handuk, suaranya meninggi, keningnya mulai berkedut menahan marah. Bagaimanapun juga dia dan Andre berbeda gander.


"itukan ada yang triple XL!" suara Ana naik satu oktaf


"gak muat" santei


"emang biasanya pake ukuran apa sih?" mulai sewot


"double XL!" masih dengan nada santai.


"lah, tapi itu yang triple XL kok gak muat?" makin sewot.


"aku gak tau, pokoknya udah aku coba gak muat dua-duanya"


Ana mengepalkan tangannya 'aaarrrgggg! tenang Ana, anggap dia Stela! anggap dia Stela! tidak! anggap dia bukan cowok! oh atau anggap dia anak kecil! heheeeeee,,,' batin Ana sambil menarik nafas dalam, membuangnya perlahan, dan dilakukan berkali-kali sampai panas di kepalanya sedikit berkurang. Andre tersenyum jahil saat melihat Ana mulai marah tapi tak bisa mengeluarkan amarahnya.


"ya udah sini minum dulu obatnya," mulai bicara dengan nada santai

__ADS_1


"gimana nih, beli kemana ya?" gumam Ana, "oiya, kok bisa muntah-muntah sih?" lanjutnya.


"aku punya penyakit mag" Andre bangun dari tidurnya, mengambil obat dan air minum yang disodorkan Ana padanya.


"oh telat makan ya barusan" merasa bersalah.


"hm, dari kemaren siang aku lupa makan"


"hah? kok bisa?"


'ck! kamu yang bikin aku males makan, bikin aku gak bisa tidur, sekarang masih nanya kenapa?' batin Andre mendelik.


"aneh-aneh aja, makan bisa lupa, buka bajunya aku balurin dulu," Ana membantu Andre membuka bajunya, lalu mulai membaluri punggung Andre dengan kayu putih.


toktoktok


"neng, ini teh manis sama buburnya," mama Meti bicara dari balik pintu, Ana menghentikan kegiatannya lalu membuka pintu.


"gimana, udah enakan?" mama Meti langsung bertanya begitu Ana membuka pintu. Andre tersenyum pada mama Meti, Ana lalu membawa nampan yang berisi bubur dan teh manis.


"telat makan itu teh a," Mama Meti bicara tanpa masuk ke kamar, dia sedikit segan masuk karena melihat Andre hanya mengenakan handuk.


"bukan telat makan Mah, lupa makan bayangin aja gak makan dari kemaren siang, wajar aja sekarang muntah-muntah,"


"astagfirullah, atuh a kalo makan mah dipentingin atuh, kalo udah sakit mah kan bukan orang lain yang ngerasain, ya udah atuh sok istirahat aja ya, mama tinggal, kalo belum baikan juga mah, mending ke dokter aja, bisi katerusan," Mama Meti menutup pintu kamar Ana setelah memberi petuah pada anak menantunya.


"untung diomelinnya cuma dikit, kalo aku yang sakit, dari ujung ke ujung diomelin," Ana tersenyum sambil kembali membaluri tubuh Andre.


"iya, ngomelnya abis sama kamu"


"enak aja! udah enak belum? makan dulu!"


Andre kembali merebahkan tubuhnya,


"malah tiduran,"


"nanti An, badan aku lemes." jawab Andre lemas

__ADS_1


"makanya makan! biar gak lemes! nyender aja we, nanti aku suapin" nada kesal bercampur marah.


Mama Meti berpikir sejenak, 'liat cara ngurusna mah udah gak canggung, hihihi,,, keliatannya doa Ambar bakalan cepat terkabul, punya cucu, heheeee,,,' mama Meti senyum-senyum sendiri. 'kudu nelepon ieu mah, kabar baik kieu, heheeee,,,' mama Meti masuk ke kamarnya dengan hati riang.


__ADS_2