Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
120. Tak Peka


__ADS_3

Flashback


Ana duduk di samping suaminya, dia menunjukan chat yang dikirim padanya memakai akun chat pribadi Andre. (yang belum sempet baca pesannya bisa dibaca di episode 98) Andre membelalakan matanya tak percaya, dia menggelengkan kepalanya lalu mengambil ponsel dari tangan Ana, dia melihat dengan jelas, itu benar adalah nomornya dan dikirim darinya.


"aku bersumpah, An, aku tak pernah mengirim chat seperti ini," Andre berpikir sejenak saat dia melihat tanggal dan jam terkirimnya pesan tersebut, itu hari dimana malamnya mereka bertengkar hebat karena kesalahpahaman Ana yang melihat Andre dan Weni seperti telah melakukan perzinahan. Andre mengerutkan keningnya, dia mulai menceritakan apa yang dia lakukan saat itu, seingatnya saat dia masuk ke mobil yang sudah ada Weni dan Sakti di dalamnya tiba-tiba Weni meminjam ponselnya. Tentu saja Weni bisa mengirim pesan pada Ana saat itu, benar jamnya hampir sama persis, dan seharian itu Andre sibuk melakukan beberapa pertemuan hingga dia melupakan ponsel yang ternyata masih dipegang Weni, hingga saat menjelang sore hari mereka di bandara barulah Andre ingat dengan ponselnya.


Ana mendengar cerita suaminya dengan seksama, kemudian Ana mulai mengingat saat itu dia pingsan karena sesak nafas, dan Siti bilang dia tak bisa menghubungi Andre.


"jam berapa kamu meminta ponsel pada Weni,"


"sekitar jam setengah tiga, aku terus mencoba menghubungimu tapi gak diangkat, aku ingat malamnya itu aku meneleponmu setelah selesai dengan pekerjaanku dan masih tak kamu angkat lalu saat mau menelepon ke rumah aku baru sadar, telepon rumah sempat menghubungiku bahkan lebih dari lima puluh kali, tapi tak terangkat, kemungkinan saat ponselku dipegang Weni,"


"malam itu bukannya kamu kecelakaan?" tanya Ana.


"iya, setelah aku tahu kamu pergi dari rumah juga dalam keadaan sakit aku langsung memutuskan untuk kembali ke Jakarta saat itu juga, sayangnya aku menyetir terlalu terburu-buru ,"


Ana menundukkan pandangan, seandainya saat itu dia tak egois dan ikut pergi bersama Sakti ke Singapura, mungkin masalahnya tak akan berlarut-larut seperti ini. Tapi jelas ini bukan salahnya istri mana yang tak akan berpikir negatif saat melihat suaminya tidur telanjang dengan seorang wanita.


"sayang, maaf, semua salahku, aku mengabaikan perasaan ragumu saat itu, seandainya saat itu aku mendengarkan keluhanmu..." Andre duduk bersimpuh dihadapan istrinya, dia merebahkan kepala di pangkuan istrinya.


"aku tak menyangka Weni akan melakukan itu, dia sengaja membuat kalian seolah-olah sudah bersama sejak lama, bagaimana dengan foto yang seolah kalian habis tidur bersama?"


"seperti yang tadi aku bilang, mungkin dia ambil saat aku tidur,"


Ana menghela nafasnya, dia tahu kalo suaminya bekerja sampai malam dan bangun di waktu subuh, istrirahat tak banyak wajar jika saat dia tidur akan sangat lelap.


"coba kamu liat foto ini," Ana membuka Instagramnya untuk memperlihatkan foto yang dia kira sangat mungkin suaminya bangun, karena di foto itu tangan suaminya merangkul pinggang Weni. Andre menengadahkan wajahnya, melihat ponsel Ana kembali.


Sayangnya saat Ana membuka Instagram dan membuka aku Weni dia sudah tak menemukan foto-foto itu, foto-foto yang menunjukan ke intiman dia dan suaminya.


"hah? kok gak ada?"


"apanya?"


"fotonyalah..." Ana melemaskan badannya. "udah dihapus kayaknya..."

__ADS_1


"mungkin untuk menghilangkan bukti,"


"tunggu, kamu tahu foto-foto di instagram itu dari mana?"


"Sakti, aku belum nanya Sakti dapat darimana, setahuku dia sama denganku tak punya Instagram,"


"oh, ya sudahlah, sekarang kamu mending pulang deh,"


"aku? pulang? istriku ada disini aku pulang kemana, lagipula semua masalahnya kan udah jelas sekarang, aku gak pernah selingkuh,


'enak aja udah beres, terus kamu nampar aku, aku harus maafin gitu aja, kalau suatu saat itu terjadi lagi, apa dia akan segampang itu memukulku?' batin Ana membuat wajahnya terlihat suram.


"aku tahu, tapi bukan berarti aku mau balik sama kamu, jadi mending kamu pulang deh,,,"


"apa? apa maksud kamu gak mau balik sama aku? Ana..."


"udahlah aku males bahasnya, mending kamu balik deh," Ana berdiri dan membuat Andre yang bersimpuh dihadapannya hampir saja terjengkang, tapi Ana tak peduli, dia berjalan keluar kamar.


"Ana, aku gak akan pergi dari sini, kecuali kamu ikut," Andre berusaha menggapai tongkatnya untuk membantunya berdiri lalu berjalan menghampiri Ana.


"Ana, semua masalah sudah jelas? apalagi sekarang, kenapa kamu masih marah? apalagi salahku?" Ana tak memperdulikan ucapan Andre dia mengetik nama di ponsel lalu menghubunginya.


"halo, mang tuan sudah mau pulang, tolong jemput sekarang," Andre memegang tangan Ana, yang berakhir ditepis olehnya.


"sebaiknya kamu pikirkan masalah perceraian kita, aku serius" Andre membelalakkan matanya tak percaya, dia kira karena dia sudah terbukti tak berselingkuh maka Ana akan memaafkannya dan kembali bersamanya.


'selama dia belum menyadari kesalahannya, sebaiknya aku menjauhinya,' batin Ana.


"itu gak mungkin Ana, apa alasan untuk kita bercerai? aku gak akan pernah menceraikan mu!" jawab Andre tegas membuat Ana menghela nafasnya, sudah dia duga suaminya memang tak peka.


"Sebentar lagi mang Imam tiba, maaf aku gak nganter," Ana kembali ke kamarnya lalu menguncinya.


"An, Ana... aku mohon Ana, kesalahanku dimana lagi, Ana..." Andre menggedor pintu kamar Ana.


toktoktok

__ADS_1


"Assalamualaikum..." Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu depanmembuat Andre menatap ke arah pintu diketuk, teh Tia yang sejak tadi hanya diam di kamar tak berani keluar sedikit terkejut. "aduh kenapa Dimas harus Dateng sekarang sih?" gumamnya risau, dia takut masalahnya akan semakin runyam.


Andre berjalan dengan masih ditopang oleh tongkat.


Ceklek


Dimas terkejut saat yang membuka pintu ternyata big bos nya.


"ah, maaf, apa..." Dimas jadi bingung apa yang harus dia katakan terlebih mata Andre menatapnya dengan tajam.


"Di, masuk..." Andre terkejut saat Ana mempersilahkan Dimas masuk dengan mudahnya, Dimas tersenyum kaku.


"Ana, kamu menyuruhnya masuk begitu saja?"


"memangnya kenapa, aku gak bisa biarin tamu berada di luarkan?!"


"Apa?"


"permisi..." Dimas memiringkan badannya untuk melewati pintu yang masih ada Andre di tengahnya membuat dia pun terpaksa memiringkan tubuhnya.


"Na aku bawain sarapan, teh Tia belum bangun?" Dimas masuk dan langsung duduk di meja yang hanya cukup untuk empat orang, Andre yang melihat itu dengan cepat mengikutinya dan duduk berhadapan dengan Dimas. Membuat Ana menghela nafasnya.


"aku akan pergi jika dia pergi," Andre melipat tangannya di dada.


Flashback off.


""""""""""******"""""""""


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,

__ADS_1


Makasih sekali lagi,,,


__ADS_2