Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
101 Pergi dari Rumah


__ADS_3

Akhirnya Mia meminta bantuan beberapa teman cowoknya yang punya mobil untuk menjemput mereka, tak mungkin pindahan hanya menggunakan motor scooter nya yang mungil itu.


"nyonya, biar kami menghubungi tuan dulu," Semua art berkumpul saat Ana mengatakan dia akan pergi dari rumah. Semua mencoba menghentikannya, sementara barang-barang Ana teman-temannya yang membantu membawanya ke dalam mobil.


"tuan kalian udah tau, justru tuan kalian yang minta aku pindah,"


"tapi nyonya, apa yang harus kami katakan jika tuan bertanya," Ana menghela nafas, ini sudah ke sekian kalinya dia menjelaskan bahwa Andre lah yang menyuruh dia pindah, tapi para art itu masih saja tak percaya.


"apalagi, kalian tinggal bilang aku pergi, dia pasti ngerti, kok, orang dia yang minta."


'kumaha ieu, asa moal mungkin tuan yang minta nyonya pergi?! kenapa tuan susah banget dihubungi, lagi kayak gini teh ya, duh! aya-aya wae!' batin mang Imam, dia terus melirik ke arah Siti yang dia minta untuk menghubungi tuannya, tapi Siti terus menggelengkan kepalanya tanda dia tak berhasil menghubunginya.


"nyah gimana kalo perginya nanti aja kalo tuan sudah datang?" Mbok Sum masih berusaha mengulur waktu, berharap tuannya segera bisa dihubungi. Ana tersenyum, "Mbok, saya udah gak bisa lebih lama lagi di sini, saya masih punya harga diri, tuan yang minta saya pergi, apa masih bisa saya berada di sini?!"


"nyonya mungkin ada kesalahpahaman, tuan gak mungkin menyuruh nyonya pergi," Bi Mirna angkat bicara.


"yang nyuruh pergi dia langsung, salah pahamnya dimana lagi, Bi?"


"ayo, Na! udah beres semua," Galih dan Mia berdiri di samping Ana.


"oke!" jawab Ana.


"nyonya,"


"aku minta maaf jika aku banyak salah, kalian punya nomor telepon ku, hubungi aku kalo ada waktu ya,,,"


"nyonya,,,," Siti terisak sambil memegang tangan Ana.


"hei, jangan nangis, kamu ini! kita masih bisa ketemu, tinggal janjian, kamu chat aku aja, oke! lain kali kalo ketemu jangan panggil aku nyonya lagi ya" Ana tersenyum getir, dia menepuk pundak Siti lalu merangkulnya.

__ADS_1


"jangan nangis," sambung Ana lagi.


Akhirnya Ana pergi, sejak saat dia melangkahkan kakinya dari rumah itu, sejak itu dia akan bertekad untuk melupakan semuanya, dia tak ingin terus terpuruk dalam kesedihan. Semua yang terjadi dalam tiga bulan ini dia anggap sebagai pilihan keliru yang menyenangkan dalam hidupnya, tentu saja itu akan jadi kenangan indah juga sebagai pelajaran untuknya saat memulai hidup baru. Sekarang yang harus dia lakukan adalah menghadapi keluarganya, menjelaskan keadaannya saat ini, dia yakin keluarganya akan ada di pihaknya, setelah itu dia kan mendaftarkan perceraiannya ke pengadilan agama. Dia berharap semuanya berjalan lancar, sekali lagi Ana melihat ke belakang, semua art, satpam juga mang Imam berdiri menatap kepergiannya dengan sendu. 'Selamat tinggal' Ana menghapus air matanya untuk kesekian kalinya.


*********


Andre berjalan memasuki apartemennya, setelah sampai di Singapura dia benar-benar tak punya waktu, terlebih dia sengaja ingin mempercepat pekerjaannya agar bisa kembali lebih awal.


"mas, mau aku bikinin kopi?" Weni bertanya sebelum Andre masuk ke dalam kamarnya.


"ya, makasih, Wen," Andre menjawab tanpa menoleh ke arahnya. Andre masuk ke kamarnya membuka jas dan kemejanya dia lemparkan sembarangan lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Hatinya benar-benar gelisah, pikirannya masih tertuju pada istrinya. Andre membiarkan air mengalir membasahi setiap sela tubuhnya, berharap dapat sedikit menenangkan pikirannya.


Ceklek


"Weni?"


"aku siapin baju tidur kamu, mas, kopinya aku simpan di meja, ya,"


"Weni sebaiknya kamu keluar, aku mau ganti baju," Andre bicara tanpa melihat ke arah Weni, Weni tersenyum lalu berjalan keluar kamar, setelah terdengar pintu ditutup Andre lalu menghela nafas lega.


Dia memakai baju yang disediakan Weni, lalu duduk di meja kerjanya. Dia melihat ponselnya lagi, sejak sore tadi saat dia sampai di Singapura Andre terus menghubungi Ana, tapi tak sekalipun diangkat. Berkali-kali dia mengirim chat masih belum ada yang dibalas bahkan dibacapun tidak. Beberapa kali Andre menghela nafas beratnya, sekali lagi dia menghubungi ponsel istrinya.


"Angkat, An, aku mohon," Andre memejamkan matanya dan memijit pangkal hidungnya, dia sangat berharap mendengar suara istrinya saat ini. Tiba-tiba dia teringat sesuatu, 'kenapa aku tak telepon ke rumah?' pikirnya "ck! bego!" dia memaki dirinya sendiri, saat dia membuka laman panggilan dia benar-benar terkejut, sudah ada lebih dari lima puluh panggilan masuk dari nomor rumahnya. Mata Andre membelalak lebar, panggilan terakhirnya adalah jam setengah tiga sore, sementara dia take off jam tiga kurang sepuluh menit, itu artinya dia masih berada di bandara. Dengan cepat dia menelepon balik nomor rumahnya, lama berdering tak ada yang mengangkat, hingga ke tiga kali dia mengulang telepon barulah ada yang mengangkat.


"halo," suara serak khas bangun tidur dari seorang wanita di seberang sana.


"Bi, ini aku, Andre." Bi Mirna terkejut, kesadarannya kembali dengan sempurna.

__ADS_1


"tuan, akhirnya tuan telepon balik, itu tuan, nyonya, nyonya,,,"


"ada apa? Ana kenapa?"


"itu tuan, nyonya itu,,, astagfirullah,,, itu,,, nyonya pergi tuan," Bi Mirna menjadi gugup karena takut tuannya akan marah tapi dia juga merasa lega akhirnya tuannya menghubungi.


"pergi dari rumah dan jam segini dia belum kembali?" Andre terkejut karena istrinya seharusnya sudah kembali dari kampus selepas ashar.


"bukan tuan, nyonya pergi dari rumah, semua barangnya dibawa,"


"apa maksudnya Bi?" Andre mengerutkan keningnya tak paham, Bi Mirna malah bingung bagaimana cara menjelaskannya.


"aduh tuan, nyonya minggat, semua barangnya dibawa, dia pamit katanya tuan yang minta dia untuk pindah." Akhirnya dia menjelaskan dengan bahasanya sendiri.


"apaaaaa??????"


Andre syok dia bahkan berdiri dari duduknya tanpa disadari.


"bagaimana bisa????!!!!" Nada suara Andre mulai meninggi.


"benar tuan, mana nyonya lagi sakit, tadi pagi dia jatuh pingsan di depan pintu kamar, kita terus menghubungi tuan, tapi gak diangkat terus. Maaf tuan,,," Bi Mirna menjelaskan secara garis besar apa yang terjadi.


"Sial!" Andre memaki tanpa sadar, dan itu membuat Bi Mirna ketakutan sampai tubuhnya bergetar hebat.


"""""""'****""""""


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,

__ADS_1


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,


Makasih sekali lagi,,,


__ADS_2