
Waktu berjalan terasa begitu lambat, setidaknya itu yang dipikirkan seseorang dibalik selimutnya.
"daripada aku gak bisa tidur, lebih baik aku jahilin orang," Andre tersenyum jahil.
truuurrrrtttttt,,,, truuurrrrtttttt,,, truuurrrrtttttt
'awas aja kalo gak dijawab, aku bikin dia lembur tiap hari selama sebulan,'
"halo..." suara serak khas orang tidur.
'sialan! aku gak bisa tidur karena ulahnya, dia malah11ql enak-enakan tidur dengan pacarnya.'
"berikan ponselnya pada Sakti!" perintah Andre tanpa banyak tanya.
"siapa ini?"
"kamu tak mengenal suaraku?" suara Andre naik satu oktaf.
"ah, bos, sebentar!"
Suara di seberang sana
"sak! bangun! saktiiii!"
"eemmm"
"bangun! nih!"
Maria menarik tangan sakti memaksa agar dia memegang ponselnya sendiri, Sakti yang masih tidur di dalam selimut menempelkan ponselnya ke telinganya. Sedetik kemudian Sakti terlonjak kaget hingga ponsel dan dirinya jatuh terjerembab ke lantai.
"aduh" sakti mengaduh saat pantatnya mendarat dilantai. Sementara itu Mariapun ikut menutup telinganya, walaupun tanpa loadspeaker suara teriakan Andre terdengar jelas di telinga Maria yang saat itu tidur tepat dipinggir Sakti.
"sial!" sakti mengelus bagian yang sakit.
"apa lu bilang?" Sakti mengambil ponselnya yang terlepas dari genggaman tangannya saat dia terjatuh.
"Wii bos, lu kira-kira donk! orang lagi tidur diteriakin!"
"eh lu berani ya?"
"ampun bos, heheee" Sakti tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia tahu Andre saat ini sedang marah jika dia keras kepala maka habis sudah masa tenangnya.
"gimana bos? ada yang bisa dibantu?"
"dibantu kepala lu! lu bawa Ana sekarang juga ke Jakarta!"
"apaaaaaaaaaa???? lu gila ya, Ndre! mau lu ancam pecat gue juga, gue gak bakalan mau disuruh jemput bini orang! tengah malam gini lagi!"
__ADS_1
"itu lu tau! kenapa lu gak bawa Ana sesuai permintaan gue!"
"hehehe,,, sorry bos, nyonya bos yang minta, dia bilang lu udah ngijinin juga bos!"
"ck! lu bego dipelihara! lu kan bisa konfirm gue dulu!"
"heheee,,, sorry bos!"
"sorry, sorry, udah lu temenin gue!"
"hah?"
"temen melek! gue gak bisa tidur!"
"whaaaattt?"
Hasilnya Andre meminta Sakti untuk terus bicara melalui video call, sedang Andre dia hanya menjadi pendengar. Berkali-kali Sakti menguap dan merengek meminta mengakhiri video call mereka. Dan ini pun menjadi penyebab Maria memilih kembali ke apartemennya saat itu juga daripada mendengarkan ocehan dua sahabat yang sedang dalam mode perang.
"lu jahat Ndre! lu bikin bini gue minggat!" rengek Sakti setelah mencoba menahan Maria untuk tidak pergi dari apartemennya.
"terus lu pikir bini gue kemana? udah, anggap aja kita impas,"
"aaargggg!!!!" Sakti menggeram kesal.
Andre tertawa lepas setalah menjahili Sakti dia bahkan melihat bagaimana sakti memohon pada Maria agar tetap tinggal dengannya.
Dua jam perjalanan ditempuh Andre tanpa hambatan, tentu saja karena masih sangat dini hari jadi jalanan masih sangat lengang.
Bandung
Jam 4.30 wib, rumah Ana sudah mulai ramai terlebih sebagain saudara jauhnya masih ada beberapa yang tinggal. Ayah Agus dan beberapa laki-laki masih berada di masjid sedangkan mama Meti biasanya sudah menyiapkan sarapan dan membuat kopi untuk suguhan ayah Agus dan yang lainnya setelah pulang salat subuh dari masjid.
"assalamualaikum,,," Andre memberi salam setelah masuk lewat pagar depan. Bi meli yang kebetulan ada disitu untuk mengirim beberapa gorengan yang dia bikin sebelum dimasukan ke toko.
"waalaikumsalam, eh a Andre, mau jemput Ana ya?!"
"iya Bu," Andre menyalimi bi meli.
"eh jangan panggil ibu, panggil aja bi meli, bibi teh adiknya mamanya Ana,"
"oh iya Bi, Ana nya di mana ya, Bi?"
"bibi belum liat A, biasanya sih jam segini neng Ana mah masih di kamarnya. coba langsung masuk aja,"
"iya, makasih Bi, Andre masuk dulu," Andre masuk lewat pintu belakang yang mengarah ke dapur.
"ma," Andre memanggil mama Meti yang sedang membuat beberapa kopi untuk ayah Agus dan yang lainnya.
__ADS_1
"eh, a Andre, jemput Ana?"
"iya ma," Andre menyalimi mama Meti.
"Ana teh tadi abis salat teh ke kamar lagi jigana da, coba langsung aja ke kamarnya a,"
"iya ma, Andre ikut salat dulu sebentar, ayah dimana mah?"
"si ayah mah masih di masjid, nanti sebentar lagi pulang, a Andre mau dibikinin kopi?"
"gak usah mah, abis salat Andre pengen istirahat dulu, semalem gak sempet tidur,"
"ya udah atuh, sok salat dulu, kasian pasti capek," Andre berjalan meninggalkan mama Meti menuju mushola yang terletak di samping taman belakang rumah.
Kamar Ana
Andre melihat Ana yang tertidur pulas dengan posisi terlentang, dia lalu menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan. 'ini orang yang bikin aku tak bisa tidur semalaman dan dia malah tidur dengan enak seperti tak terjadi apa-apa' batin Andre, tapi saat ini dia tak berniat untuk beradu argumen dengan istrinya. Yang dia inginkan hanya tidur dengan tenang. Andre menyimpan dompet dan ponselnya di atas nakas lalu naik ke tempat tidur, masuk kedalam selimut dan memeluk istrinya dari samping. 'ah, sial! lupa bawa baju ganti! Andre membuka kaos oblongnya, lalu kembali tertidur dengan selimut menutupi seluruh badannya dan memeluk istrinya, yang masih tak ada tanda-tanda dia akan terbangun. Bandung dingin. Tak butuh waktu lama untuknya masuk ke dalam alam mimpinya.
*********
"Din, udah mau jam tujuh, bangunin Ana jig!" teh Lia menyuruh Dini membangunkan Ana, hari ini dia mau kembali ke Depok, karena A Andi sudah mulai masuk kerja dan dia sudah ijin masuk aga siangan hari ini.
Dini mengangguk tanpa berkata karena mulutnya tengah penuh dengan bala-bala dan sorabi. Dini berjalan menuju kamar Ana, tanpa pikir panjang dia memanggil Ana dengan kencang.
"teeeeeehhhhhhhh,,,," bukbukbuk, kepalan tangan Dini memukul pintu kamar Ana.
"teteeeeehhhhhhhh,," masih tak ada jawaban.
ceklek
Dini membuka pintu kamar Ana, dia mengendap-endap masuk ke kamar Ana bersiap untuk membangunkan Ana dengan berteriak di telinganya, tapi sebelum Dini mengejutkan Ana dia malah terkejut duluan saat dia melihat Andre tidur sambil memeluk Ana yang sudah merubah posisinya jadi miring, hingga Andre mendekapnya dari belakang.
"aaaaaaaaaa,,,"
Duk
"aaaaaw,,,, sssstttt!" Andre meringis memegang hidungnya yang terantuk kepala Ana, Ana terbangun karena kaget mendengar teriakan Dini yang menyebabkan kepalanya menyundul hidung Andre. Ana pun memegang kepalanya yang terasa sakit.
"maaf, maaf, aku pikir gak ada a Andre!" Dini langsung berlari kabur keluar kamar Ana. Ana pun terkejut saat membalikan badannya ternyata Andre tidur disebelahnya.
"kok disini, Om? sakit gak?" dengan suara serak Ana masih setengah mengantuk dia mencoba melihat hidung Andre.
"kamu tuh! bisa gak sih gak terlalu bar-bar, ssstttt,," Suara serak Andre yang dipaksakan untuk berbicara.
"astaga, berdarah, Om!" Ana kaget saat melihat darah mengucur dari sebelah hidung Andre.
Kesadarannya kembali dengan sempurna, dia duduk untuk melihat dengan jelas keadaan Andre. Andre yang masih berbaring terlentang sambil memejamkan mata membiarkan Ana mengurusinya.
__ADS_1