Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
Dimana Kamarku?


__ADS_3

Awalnya semua baik-baik saja, Ana duduk di samping Andre sambil memainkan ponselnya. Begitupun dengan Andre yang mulai membuka laptopnya sejak masuk ke mobil. Setengah jam kemudian.


“kenapa Om?” Ana melihat Andre tiba-tiba memijit keningnya, dia takut suaminya pusing dan ingin muntah maka dia harus bersiap-siap meminta sopir untuk segera meminggirkan mobilnya, juga dia bisa menyiapkan kantong keresek.


“hm, gak apa-apa,” jawab Andre lemah.


“yakin?”


“hm,”


“mau muntah gak?”


“gak! Kamu pikir aku tukang mabok apa?!”


“kan emang lagi gak enak badan, wajar kalo mau muntah”


Andre menyingkirkan tangan Ana yang diletakan di pahanya, dia lalu besiap merebahkan kepalanya di pangkuan Ana.


“hei!” Ana menahan kepala Andre agar tak jadi rebahan di pangkuannya.


“jangan ditekan An, kepalaku sakit,”


“ya tapi gak usah rebahan juga,”


“kepalaku sakit, aku pengen rebahan tapi karena ada kamu ya terpaksa aku rebahan di


pangkuanmu” Ana memutar bola matanya, lalu membuang nafasnya dengan kasar.


“kenapa?" lanjut Andre.


“gak!” Ana mengalah dan membiarkan Andre merebahkan kepala di pangkuannya. Dia berusaha untuk tak peduli dengan mengalihkan perhatian pada ponselnya, walaupun sebenarnya dia merasa kagok. Tangan Ana mengambang di atas kepala Andre, dia tak berani meletakan tangannya di badan apalagi kepala Andre untuk menyangga tangannya. Jelas saja itu membuat tangan dan hatinya terasa pegal, apalagi kakinya. Ana menghela nafas panjang dan kembali mengalihkan perhatiannya permainan di ponselnya.


Saat dia mulai tenggelam dengan ponselnya Ana merasakan sesuatu yang bergerak di sekitar

__ADS_1


perutnya, yang mebuatnya terasa geli.


“Ah!” Ana menahan kepala Andre yang mendusel-dusel ke arah perutnya. “Om!” suara Ana naik satu oktaf.


“ugh!” Andre melenguh saat rambunya ditarik Ana.


“jangan ditarik, sakit!” Andre memegang tangan Ana meminta dilepaskan dari cengkeraman tangan pada rambutnya.


“geli tau!”


“iya, iya, aku gak lagi, barusan hidungku gatal,” Ana melepaskan cengkraman tangannya, dia


menghela nafas. Posisi Andre masih miring menghadap perut Ana dan itu membuatnya risih, berkali-kali Ana menggerakan tubuh bawahnya membuat Andre merasa tak nyaman, tapi dia masih enggan melepaskan Ana hingga akhirnya Andre memeluk pinggangnya membuatnya semakin menempel.


“Om!” Ana mencoba melepaskan pelukan Andre, tapi Andre tak bergeming. Ana menghela nafas berkali-kali. ‘kenapa sih nih orang?! Udah berasa kayak sama emaknya aja’


“An, aku masih gak enak badan, pliiisssss sekali ini aja oke?!” Ana akhirnya terdiam, ‘sudahlah, dia emang lagi sakit’ Andre tersenyum saat merasakan Ana mulai tenang kembali.


Perjalanan terasa semakin panjang karena memang kepergian mereka hampir sewaktu dengan orang-orang yang baru pulang kerja, hingga jalanan jadi macet.


‘udah nyampe mana sih, lama amat! Aduh singsireumeun deui!’ (singsireumeumen\= kesemutan).


Ana mencoba menggerakan kakinya yang terasa berat akibat kesemutannya, dia memalingkan wajahnya ke arah jalanan mencari petunjuk kira-kira sudah sampai mana. Ternyata masih baru masuk tol dan jalanan sudah mulai lancar. Ana menghela nafas panjang, untuk sekarang ini harapannya Cuma satu yaitu rest area, dia ingin segera keluar dari ketidaknyamanannya.


Perjalanan yang terasa panjang dan sepi membuat Ana mulai mengantuk, dia mulai merebahkan kepalanya dan masih tak merasakan kakinya karena kesemutan. Jika dia bergerak maka kakinya akan terasa pegal hingga dia hanya diam berharap kesemutanya segera menghilang. Semaki lama


perjalanan semakin dalam tidurnya bahkan dia melewatkan rest area yang di tunggunya.


‘maaf An, semoga dengan begini kamu akan lebih terbiasa dengan keberadaanku, aku ingin kamu bisa secepatnya menerimaku’ batin Andre, dia tahu kalau apa yang dilakukannya membuat Ana tidak nyaman, sebenarnya diapun tidak nyaman karena kakinya harus ditekuk dalam waktu lama.


Hingga akhirnya dia merasakan nafas Ana yang mulai teratur. Andre menengadahkan kepalanya,


‘sudah tidur ternyata’ Andre mengangkat tubuhnya menggati posisi menjadi duduk, dia merebahkan kepala Ana dipundaknya, ‘tumben gak kebangun? Biasanya goyang dikit bangun,’ tak berapa lama Andre pun mulai mengantuk, jalanan yang sepi membuatnya menguap beberapa kali yang akhirnya Andre pun ikut tertidur.

__ADS_1


flashback off


Toktoktok


“masuk!”


Ceklek pintu kamar dibuka dari luar.


“permisi nyonya, teh nya mau disimpan di mana?” Ana yang masih memijat kakinya malah bingung, dia tak mengenal orang yang berdiri di depan pintu kamarnya.


“saya Rumi nyonya, salah satu asisten rumah tangga di rumah ini “ Seorang perempuan paruh baya tapi terlihat lebih muda dari yang sebelumnya memperkenalkan diri pada nyonya mudanya, “oh!” Ana terdiam mencerna ‘ada berapa sisten rumah tangga di rumah ini? Ah! Wajar aja, rumah segede gini gak mungkin Cuma satu artnya,’


“nyonya,” sang asisten rumah tangga kembali menyapa nyonya mudanya yang terlihat bongong.


“ah! Simpan di meja aja, makasih ya” Art yang memperkenalkan diri dengan nama Rumi masuk ke dalam kamar lalu menyimpan teh di meja sesuai instruksi sang majikan lalu keluar kamar setelah menundukan kepalanya sebagai tatakrama untuk berpamitan.


“Siapa yang minta teh?”


Syuuurrrrrrr...


Dia termanggu mendengar suara shower yang tiba-tiba menyala, Ana berpaling ke arah suara, matanya membulat.


“dia lagi mandi? Kenapa mandi di sini? Inikan kamarku?! Tunggu!” Ana turun dari tempat tidur dengan tergesa-gesa, dia menghampiri lemari yang berjejer rapat memenuhi dinding dengan setinggi langit-langit. Dia mulai membuka lemari paling sudut yang dekat dengan pintu kamar mandi, kedua daun pintunya dibuka sekligus, “heh!” apa yang dia pikirkan itulah yang sebenarnya, kemudian Ana membuka lemari berikutnya. Semuanya baju laki-laki, berjajar dengan rapih dan tersusun dengan


sempurna. “dia membawaku ke kamarnya, mau ngapain?” Ana kembali menutup pintu lemari,


setelah berpikir sejenak akhirnya dia memutuskan untuk mencari kamar tamu, ‘gak usah nungguin dialah, tanyain sama art yang tadi aja’ pikir Ana sambil membawa koper dan tasnya keluar dari kamar, saat ingin menuruni tangga ternyata semua lampu di lantai bawah sudah dimatikan. ‘udah pada tidur kitu? Kan barusan ada art yang kesini ngasih teh, kok kaya gak ada kehidupan sih?!’ Ana


celingukan melihat ke lantai bawah melalui pijakan tangga pertama dari atas. ‘sepi banget ih! Iihhhhh’ Ana mengurungkan niatnya untuk turun kebawah mencari kamar tamu sendiri, dengan langkah cepat dia kembali ke kamar. Ana menutup pintu kamar lalu bersandar di belakang pintu sambil mengatur nafasnya.


“kenapa?” Andre yang baru saja keluar dari kamar mandi merasa heran melihat Ana yang terlihat ngos-ngosan dengan tas ransel di punggungnya serta koper yang tergeletak di sampingnya. ‘sudah sadar rupanya, mau coba kabur tapi takut, ckckck.’ batin Andre. Ana menatap ke arah Andre dengan menyipitkan


pandangannya.

__ADS_1


‘heh! Sepertinya malam ini tak akan menjadi malam yang tenang!’ Andre berjalan membuka pintu lemari dan mengambil satu setel baju tidurnya.


"dimana kamarku?"


__ADS_2