Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
Seblak Sultan penghilang galau


__ADS_3

"Chul, urang telepon teh Tia we nya?! teu enak hate um" (Chul aku mending telepon teh Tia aja ya?! gak enak hati nih)


"nya atuh kudu sekalipun urang apal teh Tia moal ember, tapi manya we atuh," (iya donk, walaupun kita tau teh Tia itu gak ember, tapi masa iya sih).


"ho-oh"


"Chul hayang seblak ih!" (Chul! Pengen seblak ih!)


"Ho-oh bener! Seblak Sultan ngeunah jigana! orang bilang, makanan pedas bisa menghilangkan galau" (Ngeunah jigana\=enak kayanya)


"Beli, jig!" (Beli, gih!)


"Hayu atuh bareng,"


"Eh! Puguh urang mah teu meunang kaluar, Jeung Dini, jig!" (Eh! Akukan gak boleh keluar, sama Dini aja, gih!)


Akhirnya Stela pun pergi bersama Dini, Ana mulai mengubungi teh Tia. Ana sengaja menyuruh Stela keluar karena dia masih merasa tak enak jika Stela tak sengaja mendengar dia meminta langsung pada teh Tia untuk merahasiakan masalah ini dari Dimas, Stela masih belum tau masalah dia dan Dimas. Sudah gak penting menurut Ana.


truuuttttt,,,


"Halo, An!" Tak membutuhkan waktu lama telepon Ana langsung dijawab teh Tia.


"Teh, teteh udah dapet undangannyakan?!"


"Teteh belum Nerima undangan yang kamu kirim khusus buat teteh, teteh masih dijakarta,"


'oh iya, Stela pasti ngirim undangan ke rumahnya yang di Bandung, teh Tia tau dari mana aku nikah?! Bahkan Dimas juga tau,' Ana mencoba menebak dalam pikirannya.


"Teteh nemuin undangan kamu di kantor atasan teteh," teh Tia menjelaskan tanpa diminta Ana.


"Kamu ingatkan?! Pak Andre itu big bosnya teteh," lanjut teh Tia. Saat teh Tia menekankan bahwa Andre adalah big bosnya secara tidak langsung teh Tia menegaskan kepribadian orang itu, hiks. Ana merasa miris, harga dirinya tak tertolong lagi. Ana menghela nafas menenangkan diri.


"Tadi pagi Dimas nelepon teh,"

__ADS_1


"Oh mungkin ibu yang nelepon Dimas ngasih tau ada undangan," Ana mengangguk tanda mengerti.


"An, teteh bukan maksud ikut campur, tapi teteh terlanjur tau masalahnya, apalagi bisa dibilang kamu tuh orang yang spesial buat Dimas, boleh gak kalo teteh minta sedikit aja penjelasan, biar teteh tenang!" Ini yang paling Ana takutkan.


Ana menghela nafas panjang, dia sebenarnya ingin sekali bercerita masalahnya, tapi terlalu klise jika dia mengatakan dia mau dijadikan sebagai penutup aib karena hutang orang tua! Sungguh naif! pikirnya.


"Ada alasannya teh, tapi itu masalah keluarga, maaf! Tapi makasih banget, teteh udah peduli sama Ana, Ana juga mau minta tolong sama teteh, bolehkan?!"


"Kalo udah nyangkut urusan internal mah, teteh juga gak bisa maksa kamu, paling gak teteh udah bisa nebak kalo kamu sebenarnya dijodohin dan keluarga kamu belum tau masalahnya, iyakan?!"


"Heheeee,,," Ana menjawabnya dengan tertawa kecil.


"Iya atuh! pasti teteh bantu, kamu mau merahasiakan ini dari Dimas kan?! Tenang aja, setelah kamu menikah maka Dimas akan menjadi orang luar, dia tak berhak atas apapun," lanjut teh Tia.


"Nuhun ya, teh! Maaf ngerepotin!"


"Tapi An, kalo kamu butuh bantuan, kapanpun Dimas ataupun teteh pasti bantu, satu lagi sebenarnya apa yang teteh bilang waktu itu memang belum pasti benar, jadi sebaiknya kamu juga jangan terlalu percaya gosip, atau kamu bisa cari tau sendiri tanda-tandanya,"


"tanda-tanda apa?"


"Cari tahu sendiri? Gimana caranya?" Ana.


"Ck! Kamu mah, biasana kamu pinter, An, google lah,"


"Heheee,,, udah teh, tapi caranya aneh-aneh, heheee,,, Ana gak berani,"


"Hah? Aneh-aneh gimana?"


"Pokoknya aneh-aneh, Ana gak tega bilangnya, heheee,,,"


"Beuh ari kamu! Eh An, nanti diterusin lagi neleponnya ya, teteh ada kerjaan yang deadline, nih!"


"Oh! Oke teh! Nuhun pisan ya teh!"

__ADS_1


"Siap, santei,"


Ana mengakhiri teleponnya dengan hati yang lega, teh Tia memang paling mengerti.


Dua jam kemudian


Ana mendengar sekilas kasak kusuk di luar kamarnya, dia sudah bisa menebak siapa yang datang.


"teteh,,, seblak Sultan dataaannngggg,,,," Dini nyelonong masuk ke kamar Ana tanpa permisi.


"Lila pisan ih, apal Kitu make ojol we!" (lama amat, tau gitu pake ojol aja!"


"ngantri, neng!" Stela menambahkan "eh! mangkokna," baru saja masuk Stela sudah keluar lagi dari kamar Ana.


"Naha asa loba, nu saha? pantesan lila" (kok banyak, punya siapa? pantesan lama).


"oh eunya, anu mama sama punya bibi-bibi yang request, kela wang kaditukeun," (oh iya, punya mama sama bibi-bibi yang request, bentar kesamaan dulu) Dini melengos mengambil beberapa bungkusan untuk diberikan pada yang pesan.


"beuh! lain sakalian tadi," (beuh! bukannya sekalian tadi).


Tak berapa lama Dini dan Stela sudah kembali ke kamar Ana, mereka sudah bersiap makan makanan khas Sunda yang paling difavoritkan saat ini yang terbuat dari berbagai macam kerupuk, sayur, telor, tulang ayam, ceker (kaki ayam), mie, kikil, bakso, batagor, sosis, pokoknya salagala Aya dan yang penting harga bersahabat 😄.


"euh mantaaaabbbb,,, level sabaraha ieu?" tanya Ana setelah mencoba beberapa suap.


"tilu!" (tiga) jawab Stela dan Dini barengan, dengan terengah-engah menahan pedas.


"aslina ieu mah uy, seblak Sultan penghilang galau teh!"


Mereka menghabiskan seblak beserta minuman dingin sambil mengobrol seputar persiapan pernikahan Ana.


Masih ada lima hari lagi, waktu tersisa sebelum Ana masuk sangkar emas, pikir Ana.


Sedikit banyak Ana juga memikirkan hubungannya dengan Andre yang semakin renggang. Sekarangpun mereka sudah seperti ini, bagaimana dia akan menjalani kehidupan pernikahannya nanti?! Walaupun memang tak akan terjadi apa-apa, tapi tadinya Ana berharap hubungannya dengan Andre tidak seburuk ini, agar paling tidak dia akan merasa nyaman apalagi mereka akan bertemu setiap hari.

__ADS_1


Sudah Ana pikirkan sejak lama, untuk mengalah dan minta maaf, tapi dia malah bingung sebenarnya salah dia apa? apa sebenarnya yang membuat hubungannya dengan Andre jadi renggang. Jika itu karena Ana yang tak mau menikah cepat-cepat, bukankah seharusnya dia yang marah.


__ADS_2