Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
Ukurannya apa?


__ADS_3

Weni mengerutkan keningnya,


Deg! 'suara perempuan?' batin Weni.


"halooo,,, mas Sakti! kok gak ada suaranya sih?" suara dari sebrang sana.


"ha-halo ini siapa?" Weni yang menelepon ponsel Andre menggunakan nomor Sakti ternyata.


"ah! Weni ya, ini aku Ana,"


Mata Weni membesar mendengar orang itu menyebutkan namanya, 'bagaimana bisa Ana yang angkat?'


"a-ana, kok bisa kamu yang angkat?"


"bisalah, om Andre gak mau bangun, makanya aku yang angkat teleponnya,"


'bagaimana bisa? bukannya Ana masih di Bandung?'


Suara dari seberang sana, Weni mendengarkan dengan rasa panas di hatinya.


"ugh!"


"nih orangnya baru bangun," Ana melanjutkan.


"siapa An?" suara Andre masih terdengar serak, dia mengambil ponsel yang disodorkan Ana. "Weni" jawab Ana singkat sambil berjalan hendak keluar kamar.


"halo Wen"


"kamu mau kemana, An?" Belum Weni menjawab, terdengar teriakan Andre yang memanggil Ana.


"aku siapin air panas dulu, buat mandi"


"halo Wen, ada apa?" akhirnya suara Andre terdengar mulai fokus.


"mas, kamu dimana ini?"


"di Bandung," jawab Andre singkat yang kembali memejamkan matanya, suaranya masih terdengar serak.


"kok bisa? kapan kamu pergi? kenapa gak bilang dulu?"


Andre mengerutkan keningnya.


"Weni, kamu menelepon cuma untuk menanyakan kenapa aku ada di Bandung?"


"ah, itu,,, bukan,,, maksudku,,," Weni menjadi gugup karena sebenarnya selama ini Weni tau kalau Andre tak suka jika ada orang yang terlalu ingin tahu kehidupan pribadinya kecuali Andre yang bercerita sendiri.

__ADS_1


"mana Sakti?" Andre memutuskan ucapan Weni. Weni mengembalikan ponsel Sakti pada pemiliknya.


"halo,"


"batalin semua jadwal hari ini,"


"apaaaaaaaaaa???"


Tut tut tut


"Astaga! ada tiga jadwal miting penting hari ini, belum lagi masih banyak berkas yang masih perlu tanda tangannya." akhirnya Sakti hanya bisa menghela nafasnya dengan berat sambil memijit keningnya.


"tau gitu gua gak akan bangun pagi, gak bakalan mandi pagi! gak bakalan pergi pagi-pagi! sial! aaargggg!" Sakti menggeram kesal.


"kamu kenapa Wen?" tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang aneh pada Weni, mimik muka Weni terlihat aneh, dia terlihat gelisah dengan muka pucat dia meremas tangannya sendiri.


"oy!" Sakti menepuk pundak Weni, Weni terlonjak kaget, dia bahkan menjatuhkan ponselnya. Reaksi Weni yang terlihat berlebihan membuat Sakti mengerutkan keningnya. "kamu sakit, Wen?"


"ah itu, a-aku, sebaiknya pergi diantar mang Imam aja, i-iya,,,"


Weni berlalu meninggalkan Sakti yang terbengong. 'nanya kemana, jawabnya kemana,' batin Sakti masih merasa heran.


"ada apa dengannya?" Sakti akhirnya kembali fokus pada sarapannya dan juga secangkir kopi yang belum habis, 'sayang kalo gak dihabiskan'


'bagaimana ini? apa mas Andre akan marah? apa dia akan meninggalkanku lagi, tidak! tidak! mas Andre tak boleh meninggalkanku! aku, aku, harus minta maaf!' Weni mulai menggigit kukunya, mukanya pucat dan mengeluarkan keringat.


Mang Imam yang melihat keadaan Weni seperti tak baik-baik saja mencoba menanyakan keadaannya takut terjadi sesuatu pada majikannya. Tak ada jawaban dari majikannya, mang Imam lalu menghentikannya mobilnya, lalu parkir di pinggir jalan yang kebetulan terdapat mini market. Weni masih melihat gelisah dia memegang dadanya dan terlihat sulit bernafas.


Mang Imam berinisiatif untuk membelikan air mineral untuk majikannya. Weni terlihat tenang setelah mang Imam memberinya minum.


"gimana mbak, mau diterusin atau pulang aja? kalo mbak gak enak badan mending istirahat aja di rumah, kalo maksain takutnya makin parah, mbak," Weni duduk di kursi belakang mobil dengan pintu yang sengaja dibuka.


Dia menarik nafas dalam lalu dibuang dengan perlahan, dilakukan berkali-kali hingga membuat dia merasa tenang.


Weni memiliki gangguan kecemasan semenjak ditinggalkan oleh kakaknya yang menjadi keluarga satu-satunya saat itu dan gejalannya semakin berat saat kembali harus di tinggalkan oleh Andre yang saat itu diminta oleh keluarga papi Steve untuk pulang ke Australia ketika kedua orang tuanya mengalami kecelakaan.


"kita jalan aja Mang, aku udah gak apa-apa, kok!" Mang Imam terlihat ragu-ragu, dia khawatir terjadi apa-apa.


"gak apa-apa, Mang, nanti kalo aku ngerasa gak baik, aku pasti istirahat, kok!" Weni tersenyum meyakinkan mang Imam. Akhirnya mobil melaju kembali menuju perusahaan tempatnya bekerja.


******


Bandung


"ayo donk An, kamu tega sih! lagian aku ini suami kamu, kamu yang harus tanggungjawab gak mungkinkan aku minta tolong mama" rengek Andre, setelah selesai mandi Andre memakai bajunya tapi bawahnya masih memakai handuk. Ana menarik nafas lalu membuangnya kasar.

__ADS_1


"ya udah tungguin," jawab Ana ketus. "eh! mana duitnya?" Ana menyodorkan tangan terbuka ke hadapan Andre. Andre lalu mengambil dompetnya di atas nakas, tanpa pikir panjang Ana langsung membawa dompet Andre lalu keluar kamar. Andre yang melihat kelakuan istrinya hanya bisa pasrah.


"teh mau kemana?" Dini setengah berbisik, dia kebetulan keluar kamar berbarengan dengan Ana.


"mau ke minimarket depan,"


"ikutttt,,,," Dini yang badannya lebih jangkung dan lebih besar dari Ana bergelendot manja di lengannya yang badannya lebih pendek dan kecil darinya.


"berasa digelendotin gorila ini mah,"


"si teteh mah nya, liat we nanti kalo aku udah diet gera, tinggi semampai kaya Luna Maya" Dini berjalan melenggok bergaya seperti model. Ana dan mama Meti tertawa lepas melihat kelakuan salah satu penghuni rumah mereka.


"hayoh we ngomong ek diet, diet bertahan setengah poe mah jang naon!" Ana tertawa mendengar celoteh mama Meti. Dini yang memang awalnya memiliki tubuh tinggi dengan berat badan proporsional, postur tubuh yang lebih baik dari kedua kakaknya, tapi setelah masuk SMA berat badannya malah tak bisa dikontrol, jadi badannya sekarang jangkung badag, mungkin turunan dari ayah Agus.


"Mau pada kemana ini teh?"


"mau ke minimarket depan, mama mau nitip?"


"moal ah, belum butuh apa-apa, eh beliin kopi Ketang,"


"kopi nu kumaha?"


"kapal api we, anu kopina wungkul gening,"


Ana keluar rumah menyusul Dini setelah mendapatkan instruksi jelas dari pesanan mama Meti. Dini yang mengendarai motor sedangkan Ana yang dibonceng.


Sesampainya di minimarket seperti biasa Dini akan sibuk dengan mengambil cemilan kesukaannya. Sementara Ana yang lebih dulu mengambil pesanan mama Meti, lalu berputar ke beberapa rak mencari titipan dari suaminya.


Setelah sampai di rak yang dituju, Ana mengerutkan keningnya.


"eh ukurannya apa ya?" Ana menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Kalo badannya setinggi dia, dengan postur proposal kira-kira ukurannya apa ya?!" Ana megambil ponselnya mencoba menghubungi Andre. Beberapa kali Ana melakukan panggilan, tapi tak di angkat oleh yang punya.


"angkat, donk!" Ana bergumam.


"teteh lagi apa?"


"mau beli CD tapi gak tau ukurannya,"


"hah? CD cowok?"


"iya, a Andre tadi subuh k Bandungnya buru-buru, dia gak bawa apa-apa,"


"astaga! teteh disuruh beli celana dalem sama a Andre?"


Ana mengangguk dengan wajah yang masih ditekuk.

__ADS_1


hahaaaaaaaaa,,, Dini tertawa lepas.


__ADS_2