
Di rumah Ana
Sekembalinya jalan-jalan dengan Stela, tak lupa Ana mengantarkan Stela pulang ke rumahnya, walau Ana masih merasa dongkol dengan apa yang terjadi saat makan siang tadi. "cih! Ngapain tadi aku makan bareng mereka?! Bikin badmood aja!" Gumam Ana melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
"Timana teh?" (Dari mana, teh?) Dini bertanya saat melihat Ana hendak masuk ke kamarnya.
"BEC,!" Jawab Ana singkat, lalu membuka kamarnya dan masuk diikuti Dini.
"Jeng teh Stela," (sama teh Stela)
"He-em,"
"Beli naon? Ih tau gitu nitip da,"
"Beli charger punya teh Aneu," Ana sambil menyimpan tas.
"Hah? Beli charger doank ka bec? Hahaaaaa,,,"
Dini tertawa lepas "balaga pisan, biasana ge ka konter pinggir jalan, hahaaaaa," (belagu banget! biasanya juga beli di konter pinggir jalan, hahaaaa,)
"Bae atuh! Pan meh jiga Batur nyieun status, et emol bec! Padahal cuma beli chargeran" (Biarin donk! Kan biar kaya orang lain bikin status, at BEC mall, padahal cuma beli chargeran).
"Hahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,,," Ana dan Dini tertawa lepas.
"Teh, kapan ke Jogja ih? ntar keburu masuk sekolah,"
"Iya, kapan atuh ya? Jangan lama tapi ya,? Kamu kalo mau barengan aja sama a Hasan, kapan dia balik ke Jogja?"
"Malam ini katanya. Gak ah! Aku nanti gak ada temen kalo bareng a Hasan, kecuali barengan sama teteh juga"
"Kalo mau barengan sama teteh mah ya udah ntar we,"
"Di sananya Semingguanlah ya, pengen jalan-jalan dulu!"
"Kalo jalan-jalan tuh, serunya banyakan, cuman berdua mah gak seru,"
"Ajakin teh Stela atuh,"
"Gak bisa! dia besok ke Kuningan lagi, nemenin teh Aneu, bentar lagi lahiran, mama nya belum bisa ke Kuningan, jadi dia yang gantiin,"
"Oh, suaminya masih di luar kota ya,?!"
"He-em, teteh mandi heula," Ana beranjak menuju kamar mandi.
Beberapa hari kemudian
__ADS_1
St. Bandung
"Neng, ati-atinya, jangan lupa telepon mama, barusan mama nelepon a Hasan, engke dijemput cenah kalo udah nyampe," (engke\=nanti)
"Iya mah," jawab Ana singkat
"Din, Kade ulah ngaririweuh teh Sinta, kalo mau apa-apa teh sendiri, jangan nungguin disuruh ini itu!"
"Iya mah,"
Ana dan dini lalu pamit untuk melakukan cek ini, dan menunggu kereta di ruang tunggu dalam.
Jam masih menunjukkan pukul setengah enam sore, sementara jadwal keberangkatan kereta ke Jogja jam enam lebih sepuluh, mereka akan tiba tengah malam nanti.
Tengah malam St. Tugu Jogjakarta
Ana dan Dini bertemu a Hasan di pintu keluar station. Mereka lalu menyalimi tangan a Hasan bergantian.
"Sehat A?"
"Alhamdulillah, yuk!" A Hasan mengambil koper yang dibawa Ana lalu memasukannya ke dalam bagasi.
Sesampainya di rumah A Hasan, Ana dan Dini disambut teh Sinta.
"Iya teh, mendadak jadi manten, heheee,,," Ana nyengir kuda "Eh, si mbok udah tidur, ya,?!" lanjut Ana. Sementara Dini diantar langsung ke kamar tamu yang akan dia tempatinya oleh a Hasan, lalu meminta ijin melihat baby Aydan, anaknya teh Sinta dan a Hasan yang baru lahir.
" Iyo,,, besok pagi saja," jawab teh Sinta dengan logat Jawa. "Mending gitu An, gak usah pacaran -pacaran dulu, nanti aja pacarannya habis nikah, biar seru!" Lanjut teh Sinta
"Mending pacaran dulu teh, kan biar saling mengenal dulu," timpal Dini saat keluar dari kamar teh Sinta setelah melihat baby Aydan yang sedang tertidur.
"Teteh sama a Hasan ndak pacaran dulu," jawab teh Sinta.
"Iyalah orang temen deket, gak perlu pacaran juga udah kenal kali, hahaaaa," Dini tertawa
"Hus! Jangan berisik!" Ana menghentikan tawa Dini, yang tertawa langsung melipat bibirnya menutup mulut, teh Sinta tersenyum.
"Ya sudah, Teh Sinta tak siapin makan dulu, pada laper ndak?!"
"Jangan teh, udah makan di kereta, sekarang mah pengen tidur aja, heheee,,,"
"Ya sudah kalo begitu, sana pada istirahat dulu, biar besok segar,"
Teh Sinta dan a Hasan mereke kuliah di universitas yang sama, dengan jurusan dan tahun yang sama pula, tapi mereka tidak pernah menjalin hubungan. Hingga a Hasan mendapat pekerjaan yang penempatannya di jogjakarta, baru mereka bertemu lagi lalu setahun kemudian mereka menikah.
Pagi yang cerah, tak membuat Ana segera bangun dari tempat tidurnya, dia masih ingin melepaskan pegal di seluruh badannya karena perjalanannya. Berbeda dengan Dini yang kini sedang asik menemani baby Aydan yang sedang dijemur di halaman belakang bersama teh Sinta dan si mbok, sementara a Hasan sudah memulai aktivitas hariannya yaitu bekerja.
__ADS_1
Kriiiiiinnnggg,,,
Ana menggapai ponselnya yang diletakan di atas bantalnya, dengan cepat dia memijit tombol jawab tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"Halo!" Suara serak khas bangun tidur.
"Jam segini belum bangun?"
Deg!
Mata Ana langsung membuka dengan lebar.
Untuk kesekian kalinya jantung Ana masih berdetak dengan cepat saat mendengar suara Andre. Sejak pertemuan terakhir mereka, Ana tak pernah membalas atau mengangkat telepon dari Andre, entah kenapa dia selalu merasa kesal saat ingat kejadian makan bersama mereka, membuat dia malas berhubungan dengan Andre.
Bukan malas berhubungan, lebih tepatnya menjaga hati, Ana takut akan jatuh cinta pada Andre jika hubungan mereka semakin intens.
Karena dia pikir 'sudah pasti akan patah hati, lebih baik dijaga dari sekarang agar tak terjatuh'. Walaupun Ana tahu kepribadian Andre berbeda, tapi itu tak membuat jantungnya lantas berhenti berdebar dengan tidak normal setiap bertemu, bahkan hanya sekedar mendengar suara atau menerima chat darinya.
"Hem,,, capek!" Jawab Ana ketus.
"Emang habis ngapain?"
"Baru nyampe Jogja!"
'jogja?' kening Andre berkerut. Rencananya Andre akan kembali ke Bandung weekend ini, dia ingin bicara masalah pernikahannya yang akan dilakukan secepatnya, permintaan mami Ambar yang sudah mengatur jadwal pekerjaan dia dan suaminya agar bisa tinggal di Indonesia.
"Oh, ya sudah istirahatlah,,," Andre menutup saluran teleponnya. Dia aga sedikit kecewa, Ana tak pernah melibatkannya dalam apapun dikehidupannya, dia adalah calon suaminya Tapi seperti orang asing baginya. 'apa tak ada sedikitpun aku di hatimu Ana?' batin Andre kecewa.
'astaga! Nih orang main tutup aja!' Ana yang kini sudah hilang rasa kantuknya akhirnya bangun dari tempat tidurnya, membersihkan diri lalu bergabung dengan yang lain di halaman belakang.
"Sarapan dulu nduk!" Pinta si mbok dengan suara gemetar khas orang yang sudah lanjut usia.
Si mbok yang usianya sudah memasuki kepala delapan, badannya yang ringkih tapi masih memaksa berjalan dengan menggunakan tongkat. Bicarapun hanya sepatah dua patah saja, dia lebih sering duduk goyang yang di tempatkan di halaman belakang.
"Iya mbok, Ana sudah sarapan barusan."
mengangguk-angkukan kepalanya tanda mengerti. Ada suster yang setia menampingi si mbok, sengaja a Hasan mempekerjakannya sejak teh Sinta hamil, karena kandungan teh Sinta lemah yang diharuskan bedrest selama hamil.
Ana duduk di kursi samping si mbok, teh Sinta duduk berhadapan dengannya, dan baby Aydan yang sedang disusui oleh teh Sinta.
Dini yang sejak tadi duduk dan memainkan ponselnya tak bergeming saat kakaknya ikut bergabung.
"Chat aku, jika kau sudah kembali ke Bandung,"
Ana hanya membaca tanpa membalasnya.
__ADS_1