
Beberapa hari setelah Andre kembali dari Singapura.
Hari-hari berjalan masih seperti biasanya, dan setiap malam Andre selalu tidur dengan istrinya lalu dia akan kembali ke kamarnya ketika subuh tiba, masih tak ada yang tahu walaupun mereka tak berniat menutupinya, tapi keadaan yang seakan tak membiarkan orang lain tahu. Dan akhir-akhir ini Andre tak perlu lagi menunggu Ana tertidur baru dia masuk ke kamarnya. Ana sudah dengan suka rela membiarkan Andre tidur di kamarnya. Terkadang mereka akan mengobrol sebelum tidur atau Andre kadang suka menjahili istrinya yang dengan sengaja meninggalkannya tidur terlebih dulu tanpa bicara padanya. Ana sudah tak keberatan lagi terlebih dia sudah sangat yakin bahwa Andre tak mungkin melakukan apapun padanya. Dia bahkan membiarkan Andre memeluk tubuhnya saat tidur.
Karena itulah Andre semakin yakin Ana mulai menerima dirinya, istrinya tak pernah menolaknya lagi. Hanya saja dia masih tak berani melakukan sesuatu yang lebih dari itu, sebelum dia benar-benar yakin dengan perasaan istrinya padanya. Dia tak mau apa yang dia bangun selama ini tiba-tiba kembali ke awal atau membuat hubungannya menjadi buruk.
Hari Minggu
Saat subuh tiba, seperti biasa Andre akan bangun dan kembali ke kamarnya. Sementara Ana selepas salat dia langsung duduk di meja belajarnya, Senin besok dia sudah harus mengumpulkan tugasnya, harus secepatnya dielesaikan. Satu jam setengah Ana habiskan untuk mencari referensi dan beberapa data yang dia butuhkan dari internet juga ditambah dengan beberapa buku hasil pinjaman dari perpustakaan. Andai rumahnya lebih dekat, dia pasti akan lebih suka membaca buku di perpustakaan. Jam sudah menunjukan pukul enam pagi. Ana memutuskan untuk berolahraga pagi, sudah sejak dia tinggal di rumah ini dia jarang melakukan olahraga. Saat di rumah teh Lia biasanya di janjian dengan beberapa temannya untuk berolahraga di lingkungan universitas nya, memanfaatkan fasilitas kampus yang melimpah.
Ana berganti pakaian dengan pakaian olahraga. Lalu memulai acara jogingnya, berkeliling sekitar kompleks yang cukup luas, ternyata memakan waktu cukup lama, dia agak sedikit menyesal karena tak membawa air minum.
Pukul tujuh lebih Ana sampai di rumah, dia langsung ke dapur untuk minum. Untuk meredakan rasa hausnya yang sudah dia tahan sejak tadi.
"Ana, kamu lihat mas Andre?"
Tiba-tiba Weni datang, dia sepertinya sudah menyiapkan kopi untuk sarapan Andre.
"Uhm," Ana menggeleng kepalanya tanpa menjawab dengan jelas karena mulutnya masih penuh air.
"Belum liat, aku baru selesai joging! Kenapa emang?"
"Aku udah bikin sarapan untuknya, biasanya jam tujuh pagi dia akan keluar untuk sarapan, tapi dia gak turun,"
"Udah dicari di kamarnya?"
"Kamarnya kosong, pergi kemana ya? biasanya kalo mau pergi dia suka bilang, aku udah tanya mas Sakti dia juga gak tau," Weni menjawab dengan wajah gelisah dan manja.
Ana hanya mengangkat kedua bahunya, Ana tak berbohong dia memang belum melihat Andre sejak subuh tadi dia kembali ke kamarnya.
Weni semakin terlihat gelisah.
__ADS_1
"Biarin aja kali, Wen! Diakan bukan anak kecil, ntar juga balik sendiri. Gak mungkin kan orang Segede gitu ada yang nyulik!"
"Ck! Apa sih yang kamu ngerti?!"
"Ih, kenapa marah? aku cuma ngomong doang." Ana berjalan menuju kamarnya dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Selasai membersihkan diri Ana keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi dada hingga paha bagian atas saja.
Andre yang sejak tadi berbaring di tempat tidur Ana awalnya dia memainkan ponselnya, karena dia melihat Ana yang keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk akhirnya dia pura-pura tertidur, sebelum sempat Ana menyadari keberadaannya.
"Astaga!" Spontan Ana menutup daerah sensitifnya dengan menggunakan tangan dan berbalik memunggungi tempat Andre tertidur. Setelah dirasa tak ada suara dan pergerakan, Ana memutar kepalanya, dia terdiam sejenak. Setelah yakin barulah dia membalikan badannya.
"Huuhhh,,, masih tidur ternyata!" Ana berjalan mendekati Andre, memastikan dia benar-benar sedang tidur.
Ana melambaikan tangannya beberapa kali.
"Tidur beneran ternyata,,," Ana berjongkok di dekat Andre, dia memperhatikan raut wajah suaminya dengan intens. Berkali-kali dilihat pun wajah suaminya tetaplah tampan.
Saat Ana berbalik menjauh, Andre membuka matanya sekilas dia melihat area sensitif bagian atas milik istrinya dan dia hanya bisa menelan salivanya,
'Sial! Benar-benar penuh dan padat, Andre mengepalkan tangannya.' belum juga dia merasa tenang dia sudah disuguhkan dengan pemandangan indah milik istrinya. Ana membuka handuknya hingga tubuhnya terbuka seluruhnya. Lalu mulai mengoleskan lotion ke seluruh bagian tubuhnya. Andre yang melihat itu hanya bisa mendengus tanpa suara, berkali-kali menelan salivanya. Walaupun hanya bagian belakang yang terlihat itu sudah cukup membuat imajinasinya menjadi liar. Tubuh mulus Ana membuat adiknya tak bisa diajak kompromi.
'sial! Aku harus secepatnya pergi dari sini,'
"Ugh!" Andre pura-pura melenguh lalu membalikan badannya. Dengan cepat Ana mengambil handuknya lalu berbalik melihat Andre.
Hening
"bener-bener bikin jantungan, cuma pindah posisi aja ternyata."
'sial! Walaupun sudah tak melihat tapi imajinasi ku tak bisa berhenti, aku harus secepatnya menenangkan adikku.' batin Andre.
__ADS_1
Ana melanjutkan memakai baju, lalu hendak keluar untuk sarapan tiba-tiba dia berhenti sebelum keluar kamar. 'bukannya tadi Weni nyari om Andre? Apa aku bangunin aja gitu ya?!'
Ana berbalik menghampiri Andre.
"Om! bangun!" Ana menepuk pipi Andre.
"Em" Andre mengelak tangan Ana yang menepuk pipinya.
"Bangun! Udah siang! Weni nyariin tuh, kasian dari tadi! Nyariin udah kaya kehilangan induknya, kikikik,,," Ana cekikikan sendiri saat teringat betapa gelisahnya Weni saat tak menemukan Andre dimanapun.
Andre berpura-pura meregangkan badannya.
"Jam berapa sekarang?" Gumam Andre tanpa membuka matanya.
"Udah mau jam 8, bangun!"
"Iya, ya, aku bangun!" Andre duduk sebentar lalu berdiri berjalan keluar kamar Ana.
"Hadeuuh, gak capek apa tiap hari bulak balik kamar, ckckck!" Ana bergumam sambil menggelengkan kepalanya.
Sementara Andre yang sudah keluar kamar Ana dia langsung berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Dia harus cepat-cepat mendinginkan adik kecilnya.
Setelah Andre mandi, dia langsung keluar kamarnya untuk sarapan.
"Mas, kamu kemana aja kenapa tadi aku nyari gak ada?"
"Ada apa?"
"Gak ada apa-apa, soalnya biasanya kalau pergi pasti bilang dulu, sekarang tiba-tiba Ngilang jadi aku khawatir, barusan kemana sih?!"
Weni benar-benar tak melepaskan Andre, dimanapun Andre berada dia akan terus menempel.
__ADS_1
Ana yang sedang asik menyantap sarapannya melihat sekilas ke arah mereka, lumayankan dapet tontonan gratis, drama live. Andre menatap Ana, Ana hanya menggedigkan bahunya tanda tak peduli. Andre menghela nafasnya.