Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
80


__ADS_3

Andre berjanji pada Ana untuk mencoba mencarikannya baju lewat situs store baju yang ada di mall MBS, tapi dia lupa dan dia juga tak ingin Ana tahu.


"ponselku mati sayang,,," kilahnya, sebenarnya ponselnya tidak mati karena habis baterai, dia mematikannya dengan sengaja saat mengembalikan sepeda ke parkiran. Dia hanya tak ingin ada yang mengganggu waktu pribadinya.


"ya udah pake ponsel aku aja,,," Ana mengambil ponselnya yang diletakkan di atas nakas setelah Andre memakainya, lalu menyodorkannya. Andre kembali menghela nafas, istrinya benar-benar gigih. Wajar saja, Ana merasa sangat aneh karena sejak keluar dari kamar mandi dia hanya memakai bathrobe tanpa dalaman.


Mau tak mau akhirnya Andre membuka situs store sebuah baju branded khusus untuk wanita, betapa dia bahagia saat situsnya terbuka ada tulisan closed, open at 9. am dan tanpa disadari dia tersenyum, baru kali ini dia merasa bahagia saat melihat sebuah tulisan "closed".


"kenapa?" Ana heran melihat Andre tiba-tiba tersenyum, hingga Ana mengambil ponsel dari tangan suaminya karena penasaran.


"ehem," Andre berdehem untuk menetralkan perasaannya, berharap Ana tidak menyadarinya, dia bahkan terlihat gugup saat tiba-tiba Ana mengambil ponsel di tangannya. Saat Ana membaca tulisan closed malah membuat badannya terkulai lemas, itu artinya dia hanya akan memakai bathrobe saat tidur.


"ngapain senyum sih? aku kira lihat foto seksi, makanya senyum!" Andre menghela nafasnya, sedikitnya dia merasa lega karena istrinya tak mengerti apa yang dia pikirkan.


"coba cari toko yang lain? mungkin ada yang buka,"


"sayang,,, ini udah lebih dari jam dua belas malam, kemungkinan semua store sudah pada tutup,"


"hiks, masa harus pake bathrobe tidurnya, mana tebel lagi, gak enakeun tau?!" Andre tersenyum, dia selalu merasa lucu saat istrinya bicara menggunakan campuran antara bahasa Sunda dan Indonesia. Terasa asing di telinga tapi dia suka, seperti sudah menjadi ciri khas dari istrinya.


toktoktok


Ana dan Andre serempak memalingkan wajahnya ke arah suara. "room service" seseorang berbicara dari balik pintu.

__ADS_1


"emang tadi pesan sesuatu ya?"


"ah! iya! aku lupa, aku minta dibawain cemilan sama teh hangat,"


"oh"


Ana berjalan menuju pintu lalu membukanya.


"excuse me, I deliver your order,"


Ana mempersilahkannya masuk, petugas service room mendorong kereta makanan masuk ke dalam kamar, lalu pergi setelah diberi tips. Ana lalu mengambil teh hangat dan memberikannya pada Andre, kemudian dia meminum yang satunya. Ana mengambil hairdryer dan menyalakannya, dia mulai menyisir rambut suaminya dengan tangan sambil mengarahkan angin diselanya.


"gak makan dulu?"


"gak ah, entar gendut lagi, mana tadi apa makan malam, makannya banyak lagi,"


Setelah rambutnya kering Andre kembali meneguk teh hangat, begitupun dengan Ana dia kembali meminum tehnya hanya saja dia melakukannya sekalian menikmati pemandangan di balik jendela, view harbour yang terlihat biasa saat siang tapi saat malam menjadi penuh dengan kerlap kerlip lampu di tengah laut. Tiba-tiba Andre mematikan lampu.


"kok dimatiin?" Ana kaget ketika tiba-tiba lampu mati.


"coba liat harbour nya," Saat Ana melihat view dibalik jendela yang tadi terlihat sangat indah menurutnya, sekarang terlihat jauh lebih indah.


"wah, ngaruh juga ya kalo lampunya mati!" Ana semakin mengagumi apa yang dilihatnya. Andre berjalan mendekat lalu memeluk istrinya, mendekapnya dengan erat.

__ADS_1


Deg


Jantung Ana mulai berdebar kembali, entah karena dekapan suaminya terasa berbeda atau karena suasananya terasa romantis apalagi setelah lampunya dimatikan.


"suka?" Andre menyandarkan dagunya di pundak Ana.


"hm,,," Ana hanya menjawab dengan deheman, dia masih berusaha mengatur detak jantungnya. Tanpa dia sadari kedua tangannya memegang gelas dengan semakin erat 'ayolah Ana, ini bukan pertama kali dia memelukmu? relax aja, oke?!' Ana mengambil nafas dalam lalu membuangnya perlahan mencoba menstabilkan detak jantungnya. Andre tersenyum, dia sudah menyadari bahwa istrinya sedang gugup dan itu membuatnya sangat senang, Andre mencium pundak Ana dari balik bathrobe nya. Perbuatannya itu membuat Ana semakin gugup. 'tenang Ana! tenang!' Andre memegang tangan Ana yang semakin erat menegang gelas, lalu mengambil gelasnya dan dia simpan di atas kereta makanan. Dia kembali memeluk tubuh istrinya semakin erat hingga dia bisa mencium lehernya. Ana yang semakin berkeringat dingin meremas tangan Andre yang melingkar di pinggangnya. Andre menautkan jari mereka, sebelah tangannya meraih dagu Ana agar berpaling ke arahnya, Ana menatap suaminya, sangat dekat bahkan mereka bisa saling merasakan nafasnya masing-masing, membuat degup jantungnya berdetak semakin kencang seakan mereka bisa saling mendengar tanpa harus mendekatkan telinga ke dadanya.


Andre mengecup bibir Ana sekilas yang secara otomatis membuat Ana memejamkan matanya. Saat Andre yakin Ana tak menolaknya dia kembali mencium bibir istrinya yang sudah sejak lama ingin dia lakukan, Ana yang awalanya tak merespon pada akhirnya dia membalas ciuman suaminya. Andre yang merasa mendapat lampu hijau mulai memperdalam ciumannya. Setelah pagutannya terlepas, mereka mencoba mengatur nafas dan detak jantungnya yang terasa saling berpacu.


"Ana,,, aku rasa, aku tak bisa menunggu lebih lama lagi," suara Andre terdengar serak dan berat.


Deg-deg, deg-deg


Kali ini jantung Ana terasa mau meledak, dia bingung bagaimana harus menanggapi ucapan suaminya, rasa malu mulai menyeruak di dadanya. Sementara Andre yang tak mendapatkan respon dari istrinya pun merasa was-was, dia takut istrinya akan menolaknya dan membuat hubungan mereka menjadi canggung kembali.


Andre membalikan tubuh Ana, Ana menundukan wajahnya. Andre mengangkat dagu istrinya, dibalik kerlip lampu yang temaram semburat merah pada pipi Ana semakin terlihat jelas membuat Andre sedikit merasa bahagia, tapi dia masih tak yakin istrinya tak akan menolaknya.


"maaf," ucap Andre lemah, membuat Ana sedikit kecewa, Ana menatap mata suaminya dalam, Ana merasa seperti ada rasa takut diantaranya. Ana bingung apa yang harus dia lakukan, lalu dia memberanikan diri untuk mengecup sekilas bibir suaminya. Andre terkejut matanya melebar seketika, dia seperti tak percaya istrinya tiba-tiba berinisiatif duluan. Andre terdiam kemudian dia tersadar saat melihat senyuman di wajah istrinya. Itu terlihat seperti oase di musim panas di tengah gurun yang sangat gersang, atau seperti lampu hijau ditengah kota yang padat.


"bolehkah?" tanya Andre dengan suara pelan dan perlahan. Ana tak berkata apa-apa, dia merasa malu jika harus menjawab ya, atau bahkan hanya untuk menganggukkan kepalanya, akhirnya dia memutuskan untuk memberi tanda dengan mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya. Bukankah mereka sudah saling menerima, Ana merasa sudah saatnya dia melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Tindakan Ana dianggap oleh Andre sebagai jawaban "ya". Andre kembali ******* bibir istrinya, kali ini dia melakukannya tanpa ragu.


****

__ADS_1


yowww,,, selamat berfantasi,,, 😄


silahkan berimprovisasi ya mak-emak,,,


__ADS_2