Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
130. Wenny D Collins


__ADS_3

Ana mengerang, kedua tangannya mencengkram kuat ujung bantal, tubuhnya bergetar hebat saat tangan suaminya mengobrak-abrik daerah intinya dengan cepat. Hingga akhirnya tubuhnya terkapar lemah di bawah suaminya dengan peluh memenuhi tubuhnya, Andre mengusap peluh di kening istrinya lalu mengecupnya beberapa kali.


"mau lagi?" bisik Andre saat kecupannya mendarat di pipi kiri istrinya, dengan cepat Ana menggeleng kepalanya, tenaganya benar-benar terkuras habis. Andre tersenyum lalu bangkit dari tubuh istrinya berjalan menuju kamar mandi, sekarang gilirannya untuk menyelesaikan urusannya, hingga Ana menyusulnya ke kamar mandi.


"aku bantu" bisik Ana saat memeluk suaminya dari belakang, dia mulai menjamah dan mengelus senjata milik suaminya.


"yakin?"


"Emhh.."


Sejam kemudian mereka merebahkan tubuhnya setelah acara mandi bersama selesai. Andre membaca email dengan sebelah tangan dan sebelahnya lagi memijat pergelangan tangan istrinya.


"akhirnya aku juga yang harus mijit," protes Andre.


"siapa suruh lama banget,"


"kalo sebentar, nanti kamu protes lagi," Ana memiringkan tubuhnya menghadap suaminya Andre tersenyum lalu mengusap pipi istrinya dan mencium keningnya dalam,

__ADS_1


"aku mencintaimu Ana,,," Ana tersenyum, akhirnya kalimat itu terucap dari bibir suaminya sudah lama Ana menunggunya, tapi Ana sungguh sangat sadar suaminya bukanlah orang yang peka. Suaminya memiliki wajah rupawan, tubuh sixpack, kekayaan yang melimpah tapi hatinya dingin dan kurang sensitif juga tentu saja tempramen yang kurang baik. Begitu juga dengan Ana yang bisa dibilang memiliki sifat kebalikan dari suaminya. Bukankah tak ada manusia yang sempurna, maka dijadikanlah pasangan-pasangan untuk kalian para pria, seorang perempuan dari tulang rusuk kalian untuk saling melengkapi.


"i love you too.." jawab Ana sambil menggeser tubuhnya masuk ke dalam pelukan suaminya, lalu mulai menutup matanya, kegiatan malam ini sungguh membuatnya letih.


**********


Weni berdiri di balik jendela kamarnya menatap ke arah taman yang biasa dulu dijadikan tempatnya bermain bersama Andre. Saat itu mereka terpisah jarak, tapi jika Weni libur dia sering datang ke Australia untuk bertemu keluarganya di sana, terutama Andre. Saat awal datang dia karena tak ada yang dia kenal perasaan canggung membuat dia tak berani berbicara, banyak mata menatap tak suka padanya, dan Andre lah yang sedikit demi sedikit membuat Weni merasa nyaman dan merasakan perasaan kekeluargaan diantaranya.


Weni tersenyum saat mengingat dia sering bermain di taman itu dengan Andre, jika Andre tak mau bermain dengannya maka dia akan menjahilinya sepanjang hari hingga Andre akan berlari mengejarnya dan menggelitikinya saat berhasil menangkapnya. Weni sering menemani Andre membaca buku, diam-diam dia akan menatap wajah tampan kakaknya mengaguminya hingga lama. Perasaannya, entah kapan mulai tumbuh dan saat dia bertanya wanita seperti apa yang disukai Andre, sekuat tenaga dia ingin menjadi wanita yang seperti Andre sukai karena itu dia memilih menjauh saat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, dia ingin mengubah citra dirinya yang manja dan kekanakan menjadi wanita mandiri, elegan dan pintar seperti yang Andre inginkan. Weni lebih memilih untuk melanjutkannya di Amerika dengan jurusan yang sama dengan Andre. Dia bertekad untuk menanggung beban yang sama dengan orang yang dia cintai.


Wajah Weni tiba-tiba menjadi murung saat mengingat kembali ucapan terakhir dari kakak yang dicintainya.


"Andre sangat menyayangimu Weni, tapi jika memang perasaannya padamu lebih dari perasaan antara kakak dan adik, dia tak akan memilih Ana untuk menjadi pendampingnya, mami rasa kamu tahu itu." Mami Ambar menghela nafasnya. "Satu lagi, perjodohan dan ancaman mami, apa menurutmu itu mempan pada kakakmu? tidak! dia bisa membatalkan perjodohan itu kapan saja dia mau, seperti sebelum-sebelumnya, tentang hak waris, Andre tak memerlukannya, dia sudah memiliki lebih dari setengah aset kekayaan kakeknya, bisa dibilang dia lebih kaya dari kami, dia tak membutuhkan saham papimu, jadi jika dia melanjutkan pernikahannya itu berarti sejak awal dia sudah memiliki perasaan untuk Ana, seharusnya kamu juga tahu itu."


Itu adalah ucapan mami Ambar yang membuatnya semakin menyesali setiap perbuatannya, dia bersyukur mami dan papi nya selalu menjadi jalan pulang untuknya. Mami Ambar kembali menghela nafasnya. "Mulai sekarang berpikirlah sebelum bertindak, seseorang akan mencintaimu bahkan jika kamu tak melakukan apa-apa untuknya, dan kamu tak akan bahagia mendapatkan cinta seseorang jika jalannya harus merubah dirimu sendiri untuk menyenangkannya, jangan menangis lagi, selalu ada rencana-Nya yang akan menjadi yang terbaik untuk kita, putri mami ini sangat cantik dan pintar, mami yakin banyak laki-laki yang akan mengantri untuk mendapatkan cintamu." Mami Ambar tersenyum menatap pantulan wajah putrinya di cermin, wajah sendu yang basah dengan air mata. Weni sadar perbuatannya sendiri yang membuat dirinya menjauh dari orang yang dia sayangi, mengubah kepercayaannya menjadi benci, bahkan untuk memperbaikinya pun dia tak diberi kesempatan. Seandainya, masih seandainya...


Weni menitikan air matanya lagi dan lagi.

__ADS_1


Setelah beberapa hari ini mengurung diri dalam kamar, akhirnya Weni memutuskan untuk kembali beraktivitas seperti biasanya, dia bekerja di perusahaan yang papi Steve pimpin. Dia mencurahkan sebagai besar waktunya untuk pekerjaan hanya itu yang bisa membuatnya melupakan rasa pedihnya. Dia berharap kakaknya akan memaafkannya, dia juga berharap waktu akan membuat Ana mau bertemu dengannya lagi, dia masih ingin memperbaiki hubungannya, Weni akan berjuang sebanyak apapun waktu yang diperlukan untuk sekedar maaf dari kakak dan kakak iparnya.


Pagi yang cerah, dia memakai blazer baru yang dia pesan dari salah satu butik langganannya, dia berjalan keluar rumah mengendarai mobil sedannya menuju perusahaan.


Bukan sesuatu yang mudah untuk memulai dari awal tapi seperti kata pepatah, hidup harus terus berjalan dan waktu tak ditakdirkan untuk menunggu.


TAMAT


Alhamdulillah, akhirnya berhasil tamat juga, setelah beberapa kali vakum, maju mundur, dari mulai vakum karena hamil anak kedua, lalu vakum karena putra kami masuk NICU sampai akhirnya putra kami kembali ke pangkuan-Nya. Author masih terus berjuang untuk menyelesaikan novel ini berkat reader semua yang masih sempat mampir untuk membaca dan yang suka ngasih komentar yang ngagubarag-gubrag suruh up terus, makasih banget ya๐Ÿค—, hehe...


Yang gak lupa ngasih like 'n vote nya juga, makasih๐Ÿ˜˜


Terimakasih juga untuk doa, kalian luar biasahhhhhh ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Novel pertama ini di dedikasikan untuk anak kedua sekaligus putra pertama kami Khairan Ghazzal Langit yang sudah mendahului kami, sudah berada di tempat yang baik.


Terimakasih untuk semua yang setia membaca dari awal sampai akhir.

__ADS_1


Wassalamu'alaikum...


Sampai jumpa di karya author selanjutnya๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2