Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
105 Sebaiknya Kalian Bercerai


__ADS_3

Rumah Sakit Internasional Singapura


"mam, jujur aku bener-bener gak tau apa yang terjadi sama mereka, tapi terakhir mereka memang lagi bertengkar," Sakti menjelaskan saat mami Ambar tiba-tiba menanyai hubungan Andre dan Ana.


"kalo cuma bertengkar, kenapa sampe Ana gak mau ikut saat kamu ajak ke Singapura?!"


"justru itu aku juga gak ngerti, hari itu sebelum kami ke kantor Andre keliatan lelah dan tertekan, biasanya dia seperti itu kalo bertengkar sama Ana, tapi aku tak tahu masalah apa?" mami Ambar mengerutkan keningnya, dia memijit pangkal hidungnya bahkan sampai Weni tak tahu apa yang terjadi diantara mereka, batinnya. Mami Ambar lalu teringat saat menanyai Weni apa yang terjadi, setelah apa yang dikatakan Weni inti yang dia tangkap hanya satu, selama ini Andre dan Ana tak tidur dalam satu kamar.


Keesokan harinya, Jakarta.


Mama Meti pergi ke Singapura setelah ayah Agus datang, sebelumnya mereka memastikan teh Lia sudah dalam keadaan baik. Tentu saja mereka juga mencoba membujuk Ana untuk ikut dengan mereka menjenguk Andre. Sampai pada akhirnya mereka tetap tak bisa membujuk Ana, itu cukup membuat banyak pertanyaan dalam benak mereka.


Flasback Off


"Na, kapan kamu mau pindah ke rumah teteh?"


"gak jadi, Teh, aku kayanya pindah ke asrama aja, ada temen aku yang kenal sama senior yang udah mau wisuda, katanya akhir bulan ini mereka keluar dari asrama"


"udah yakin itu teh?"


"iya, aku langsung pindah ke sana aja, repot kalo bulak balik" teh Lia mengangguk paham.


Hening seketika,


"Na, beneran kamu mau cerai?" teh Lia memakan buah apel yang disodorkan suaminya.


"mau gimana lagi teh, aku mau punya kehidupan yang normal, terus aku juga mau fokus dulu sama kuliahku," Ana bersiap-siap untuk pulang kembali ke rumah teh Lia, setelah a Andi datang untuk menggantikan menjaga teh Lia.


"ya kalo memang keadaan rumah tangga kayak gitu buat apa dipertahankan, teteh mah cuma gak nyangka aja Andre ternyata orangnya gak tanggung jawab,"


"sebenarnya bukan salah dia juga, kemungkinan dia hanya mengikuti instruksi orang tua nya, namanya juga dijodohkan," a Andi menambah.


"iya sih, kenapa lagi kamu tuh gak ngomong dari awal? coba waktu itu kamu nolak aja perjodohannya, gak akan kayak gini kan,"


"hhhhhhh,,, udah gak usah bahas itu lagi, sekarang mending kamu mulai mikirin kedepannya gimana?"


"eh, Ma, ari kamu itu selama tinggal sama Andre, bener-bener gak punya perasaan apa-apa," Ana terkejut saat tiba-tiba teh Lia menanyakan tentang perasaannya, Ana mencoba tenang walaupun jantungnya sudah berdegup tak beraturan, akhirnya dia hanya menggeleng kepala sambil berpura mengikat sepatunya, untuk apa menjelaskan pada mereka toh pada akhirnya mereka akan tetap bercerai, pikir Ana.


"Ana pulang ya, Teh," Ana menyalimi tangan kedua kakaknya, lalu keluar dengan segera, dia takut tak bisa menahan air matanya.


Kriiiinnngggg,,,


Ana merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya yang tiba-tiba berbunyi, dia lalu menghapus air mata di kedua pipinya.


"iya, Teh,"


"Na, kamu ada waktu gak sekarang?"

__ADS_1


"kenapa gitu, teh?"


"aku mau ke dokter kandungan, Dimas gak bisa nganter masih ada kerjaan katanya,"


"kapan?"


"sekarang, aku janjian sama dokternya jam empat sore" Ana melihat jam di tangannya, masih dua jam lagi.


"iya! aku kesitu sekarang."


Ana menutup teleponnya, dia berjalan masuk ke dalam lift.


"Assalamualaikum,,," sapaan salam Ana ucapkan saat tiba di sebuah rumah petak di pinggiran ibukota.


"waalaikumsalam," teh Tia membuka pintu tak lama setelah menjawab salam.


"cepetan gening" (cepat ternyata)


"aku bawa motor,"


"oh, pantesan,,,"


"gimana ini si utun kabarnya?" Ana masuk ke dalam rumah kontrakan milik teh Tia dan juga Dimas, lalu mengelus perutnya teh Tia yang sudah terlihat buncit. (utun\=panggilan orang Sunda pada janin dalam kandungan)


"Alhamdulillah baik onty, kamu belum ada tanda-tanda hamil, Na?"


"hehehe,,, santei Na, aku cuma nanya doang, bukan nyuruh kamu cepet-cepet punya anak,"


"tenang aja teh, aku juga tau kok, tapi aku udah mau cerai teh,"


"hah?" saking terkejutnya Teh Tia langsung menoleh dengan spontan, setahu dia Ana dan mantan big bosnya punya hubungan yang sangat baik, kenapa tiba-tiba cerai?!


"jangan tanya dulu deh, aku males bahasnya,"


Teh Tia menutup mulutnya kembali setelah Ana memberi peringatan.


"yuk," Teh Tia mengajak Ana pergi setelah dia menyiapkan perlengkapan yang akan dia bawa menemui dokter kandungannya.


"pake motor gak apa-apa teh?"


"biasanya juga paket motor kalo dianter, Dimas"


Rumah Sakit Internasional Singapura


Beberapa perawat membantu Andre duduk, mama Meti mulai menyiapkan bubur yang akan dimakan Andre,"


"mama suapin aja ya,"

__ADS_1


"gak usah, Ma, aku sendiri bisa"


"kamu mah, tangan kamu masih kayak gitu gimana mau nyuap," bukan Andre tak mau, dia hanya sedikit malu.


"biar aku aja, Ma," Weni yang baru masuk kamar rawat Andre langsung menghampiri mama Meti yang hendak menyuapi Andre.


"eh, neng Weni udah dateng, gak sama mami?"


"mami masih di belakang, Ma, bentar lagi juga dateng,"


"oh,,," Weni mengambil mangkuk bubur dari tangan mama Meti.


"gak perlu, Wen, biar aku aja, kenapa kamu disini? gimana di perusahaan?" Weni menghela nafasnya, dia hanya ingin berada di dekat Andre saat ini, dia ingin membatu apapun yang dia bisa, hatinya benar-benar tak tenang saat dia harus meninggalkan Andre.


"aku baru selesai meeting, baru kemari," mama Meti undur diri membiarkan dua kakak beradik itu mengobrol. Tak lama mami Ambar masuk, dia melihat Andre makan bubur menggunakan tangan kirinya, karena tangan kanannya masih memaki gif.


"sini mami yang suapin," mami Meti mengambil sendok dari tangan puntranya. "Met, Gus, kalian belum makankan?! makan dulu aja, gih, aku mau beliin bingung, banyak banget menu nya."


"ari kamu udah makan gitu,"


"udah, tadi selesai meeting sekalian makan bareng-bareng karyawan di perusahaan, oiya Wen kamu gak ikut makan lho tadi, makan dulu gih!"


"ya udah atuh kita ke bawah dulu deh, neng Weni mau ikut?!"


"gak, Yah, Weni nanti aja, Mama sama Ayah duluan aja,"


"Wen, kamu makan dulu, gih, nanti sakit lagi, siapa yang akan ngurus perusahaan disini kalo kamu sakit?!" Weni hanya tersenyum sambil melihat Andre yang sedang disuapi mami Ambar.


"mam, pelan-pelan dong," Andre protes saat mami Ambar menyuapinya dengan tak sabar.


"makanya kalo punya istri dijagain! jadi kalo ada apa-apa paling tidak ada orang yang ngurusin kamu!" Andre hanya diam saat mami Ambar mengomel masalah Ana.


"mami tuh gak enak sama mertua kamu! kamu tau kalo mereka itu sahabat mami!"


hhhhhhh,,, mami Ambar menghela nafas panjang, mencoba menenangkan diri agar bisa menguasai emosinya.


"sebaiknya kalian bercerai,,,"


""""""*****"""""


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,


Makasih sekali lagi,,,

__ADS_1


__ADS_2