
"hei, bangunlah, kau mau pura-pura tidur sampe kapan?"
"hehe,,, ketauan,,,"
"mau mandi?"
"hm,,,"
"ya sudah kamu mandilah, aku mandi di atas,"
Ana tak menjawab saat Andre bilang dia akan mandi di kamarnya. Andre yang merasa aneh karena istrinya tak mengatakan apapun lalu berpaling menatap istrinya yang kini sudah duduk di pinggir tempat tidur.
"kenapa?"
"gak, aku pikir Weni sangat peduli padamu, apalagi dia yang selalu menyiapkan bajumu tiap hari?!" Ana berkata sambil melangkah menuju kamar mandi. Ana selalu merasa ada yang aneh dengan Weni, diapun memiliki seorang kakak laki-laki tapi dia tak pernah berani melakukan sesuatu yang sudah berada di ranah pribadinya sebagai seorang laki-laki.
Andre yang awalnya berniat keluar dari kamar Ana untuk mandi di kamarnya sendiri akhirnya diurungkan saat mendengar perkataan Ana. Andre menghela nafasnya, dia lebih memilih diam menunggu istrinya selesai mandi baru dia mandi daripada akan ada prakata lanjutan yang akhirnya akan membuat dia diusir dari kamar.
"kenapa masih disini? katanya mau mandi di kamar atas," saat Ana keluar dari kamar mandi, dia melihat suaminya duduk di tempat tidur dengan bersandar pada kepala tempat tidur sambil membuka laptopnya.
"aku menunggumu, aku akan mandi sekarang"
"kenapa gak di kamar sendiri aja, bukannya sayang perhatiannya disia-siain, lagipula dia lebih baik dalam segala hal dalam melayanimu, aku yakin Om akan puas," kata puas yang sengaja ditekankan.
Andre memilih tak menghiraukan istrinya dia langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa sangat lengket. Ana malah menjadi kesal karena didiamkan saja oleh suaminya, dia memakai baju dengan perasaan kesal, setelah itu dia langsung berbaring untuk tidur tanpa menunggu suaminya selesai.
Andre hanya menghela nafasnya, dia masih belum memakai maju tidur, karena baju tidurnya ada di kamarnya
Jika dia pergi ke kamarnya maka istrinya akan semakin merajuk tapi jika dia tak pergi maka tak ada yang bisa dia pakai untuk tidur, hanya selembar handuk saja yang menutupi bagian bawahnya. Andre kembali menghela nafasnya, untuk menjadi suami itu ternyata sesulit ini.
"sayang,,," Ana diam tak menjawab. Akhirnya Andre mengikuti istrinya berbaring. Dia memeluk istrinya dibalik selimut, Ana hanya mendiamkannya.
__ADS_1
"sayang,,," Andre memanggilnya kembali lalu mendekapnya semakin erat.
"hei" Andre mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, "aku tak peduli apa yang orang lain lakukan, buatku itu tak berarti apa-apa, tapi aku tak bisa jika kamu terus mendiamkanku," lanjutnya.
"sayang,,," Andre kembali memanggil istrinya.
"aku pikir kamu seneng,,," jawab Ana ketus
Andre mencium leher Ana, menghirup aroma istrinya seperti yang biasa dia lakukan, hanya saja biasanya dia melakukannya saat istrinya sudah tertidur.
Deg
Ana terdiam saat menerima perlakuan seperti itu dari suaminya, jantungnya berdetak tak karuan.
"jangan marah lagi, ok?! kita baru aja baikan masa udah marahan lagi." Ana mengurai pelukan suaminya, dia berbalik menghadap suaminya, dia cukup realistis untuk terus merajuk pada suaminya, toh suaminya gak salah.
"aku gak marah, tapi mulai besok biar aku yang siapin semua keperluan Om,"
"Om nyindir ya?!" Andre tersenyum, seperti ini rasanya saat dicemburui, takut tapi juga bahagia. Takut istrinya akan terus merajuk, bahagia karena merasa dicintai.
"kok senyum sih?" lanjut Ana, tiba-tiba Ana tersadar suaminya tak memakai baju.
"Om, kenapa gak pake baju?"
Ana melepaskan pelukannya mencoba menjauh. Dia menggulung tubuhnya dengan selimut.
"bajuku di kamar atas, kau ingat aku tak menyimpan baju di kamar ini?" Ana berpikir sejenak. Andre biasa datang ke kamarnya setelah dia mandi dan memakai baju tidurnya, lalu dia akan kambali ke kamarnya saat waktu salat subuh tiba, tentu saja gak ada baju yang dia simpan di kamarnya.
"ya udah pake baju sana,"
Andre menggelengkan kepalanya, lalu mendekati Ana untuk kembali memeluknya.
__ADS_1
"hei, mau ngapain,"
"sayang, kalo kamu gak kasih aku selimut, aku bisa masuk angin!"
"ya makanya, sana! pake baju dulu!"
"baiklah, bisakah kamu mengambilkannya untukku," Ana mengerutkan keningnya.
"gak ah, Om ambil sendiri aja, gih!"
"hei ayolah, aku tak memakai baju, kau mau mereka melihatku seperti ini," Ana merasa familiar dengan apa yang dikatakan suaminya.
"atau kau lebih suka kita tidur tanpa baju, aku gak keberatan."
Ana membelalakkan matanya tak percaya.
"baiklah, aku akan mengambilnya."
Ana loncat dari tempat tidurnya, berlari keluar kamar.
Andre tersenyum melihat kelakuan istrinya dia lalu berbaring kembali di atas tempat tidur menunggu istrinya mengambilkan baju tidurnya.
Kamar Andre
huft huft
Ana terengah-engah saat dia masuk ke kamar suaminya. Dia berjalan menuju lemari, sekilas dia melihat ke arah tempat tidur, sudah ada satu setel baju tidur disana. Ternyata Weni benar-benar sudah menyiapkan baju tidur untuk suaminya. "Weni jika kamu melakukan ini untuk suamimu, maka dia pasti akan sangat senang, sayangnya kamu melakukan ini pada suamiku," Ana lalu mengambil baju tidur yang tergeletak di atas tempat tidur lalu membuangnya ke dalam keranjang cucian kotor. Ana mengambil setelan baju tidur yang baru dari dalam lemari, dia juga mengambil c*lana dalam suaminya lalu segera keluar dari kamar.
Seperti yang sudah Ana pikirkan sebelumnya, dia selalu merasa ada yang tidak beres dengan Weni, yang terus mencari cara untuk mendekati suaminya. Akhirnya Ana memiliki kesimpulan bahwa Weni sebenarnya tak menganggap Andre sebagai kakaknya melainkan sebagai seorang laki-laki yang dia inginkan. Selama dia berjalan kembali ke kamarnya dia mulai memikirkan apa yang sebaiknya dia lakukan untuk membuat Weni menyerah. Sudah saatnya dia memperlihatkan siapa nyonya rumah ini sebenarnya.
Sesampainya di kamar, Ana melihat suaminya sudah tertidur. "Kecapean kayanya," gumamnya. Dia mengurungkan niatnya untuk membangunkan suaminya setelah dia melihat betapa nyenak tidurnya. Akhirnya Ana ikut berbaring di samping suaminya, menyelimutinya lalu mulai memejamkan mata.
__ADS_1