
Ana mulai merasakan deru nafas suaminya di lehernya membuat dia curiga jika suaminya menginginkannya.
Sejujurnya dia juga sudah lama merindukannya tapi dia bukan berada di pihak yang bisa dengan mudah meminta, tentu saja dia merasa malu. Ana membalikan badannya lalu membalas pelukan suaminya, "masih pegel?" Ana mecoba mengalihkan pikirannya.
"Mmhh..." Andre kembali melenguh, dia merapatkan pelukannya hingga bibirnya bisa menyentuh tulang selangka istrinya, Ana merasakan hawa panas pada lehernya membuat gairahnya mulai menaik. Ana bingung apa yang harus dia lakukan, dia agak sedikit kecewa pada suaminya yang hanya mendiamkannya. Ana ingin suaminya lebih bisa mendominasi seperti biasanya, tapi itupun tak mungkin dia utarakan langsung, baru dia berpikir bagaimana cara agar suaminya tahu apa yang dia inginkan tanpa mengatakannya Andre sudah mulai bertindak.
"Ana..." Suara Andre sedikit mendesah membuat bulu romanya berdiri. Andre mulai mencium leher istrinya, sementara tangannya mencari celah diantara kaos oblong yang Ana kenakan. Ana memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan bibir suaminya pada lehernya, sesekali tangannya meremas baju di punggung suaminya. Andre yang merasa ada sambutan dari istrinya tak lagi menahan diri, tangannya mulai menjamah daerah sensitif istrinya serah membuka pengaitnya.
"mmmhhhh..." Ana mendesah dengan mulut tertutup, Andre mengangkat baju istrinya hingga dia bisa melihat dua bagian sensitif milik istrinya dengan cepat dia meremas dan melahapnya. Mereka mulai melakukan pemanasan sebelum pertempuran, beberapa kali Ana mendesah dengan mulut tertutup hingga saat waktu Andre siap melakukan penetrasi tiba-tiba dia melenguh. Ana yang sudah menantikannya dengan tak sabar malah tak terjadi apa-apa.
"kenapa?" tanya Ana dengan suara setengah mendesah.
"kakiku masih ngilu, An," Ana langsung duduk, sedikit kecewa, tapi memang dia tahu kaki suaminya masih belum bisa leluasa melakukan aktivitas seperti biasanya.
"biar aku diatas," Ana tak tahu dari mana dia punya keberanian itu, tapi hari ini dia benar-benar menginginkannya, dia tak mau ditunda lagi. Andre membelalakan matanya tak percaya, tapi tentu saja dia bahagia saat istrinya menjadi percaya diri untuk lebih berinisiatif.
"baiklah, aku milikmu sayang..." bisik Andre di telinga Ana membuat pipi Ana memerah seketika.
Ana mendorong tubuh suaminya dan memulai pengalaman barunya walau masih harus dituntun oleh suaminya, Ana memacu gerak panggulnya semakin cepat membuat keduanya tak bisa menahan *******. Mereka melakukannya dalam berbagai posisi, Andre membiarkan Ana menjadi lebih aktif sampai akhirnya Ana menyerah karena suaminya masih on sementara dia sudah beberapa kali melepaskan. Dan akhirnya tetaplah suaminya yang memegang kendali hingga pelepasan terakhir Ana dan menjadi pelepasan pertama suaminya. Ana terkulai lemas dibawah tubuh suaminya, percintaan kali ini sangat melelahkan baginya.
**********
Sakti yang baru masuk ke apartemennya dengan terus mengomel tak berhenti.
"sial bukannya dapet hadiah, gue malah gak bisa balik ke Singapura, gak nyangka gue punya bos sekejam dia," Sakti sebenarnya tahu posisinya dia juga bukan sungguh-sungguh memaki sahabatnya, dia hanya kesal karena dia tak bisa mendapatkan hadiah dan sekarang dia tak bisa ke Singapura karena posisinya ditukar dengan Weni, dan yang bikin dia kesal tingkat dewa adalah Maria marah padanya dan tak mau menemuinya dalam seminggu ini.
Andre yang masih tak bisa menerima apa yang Weni lakukan mengambil keputusan untuk mengirim Weni ke Singapura dan menarik kembali Sakti ke Jakarta. Andre tak ingin bertemu dengan Weni tapi juga tak ingin menyakitinya jadi untuk saat ini, itu solusi yang dia punya.
__ADS_1
Sementara mami dan papi Steve sudah kembali ke Australia, sebelumnya Ana sempat bertemu dengan mami Ambar di rumah teh Lia saat pamit. Mami Ambar meminta maaf atas apa yang terjadi, Ana mengatakan apa yang harus dia katakan, dia juga tak mengatakan akan memaafkan Weni, hanya meminta waktu untuk mencoba melepaskan apa yang sudah terjadi. Mama Meti beberapa kali memberikan wejangan pada Ana seputar rumah tangga, menjadi istri yang baik dan hak juga kewajiban sebagai istri.
Sakti masih terus mencoba menghubungi Maria, walau dia tahu ini sudah tengah malam. Sudah seminggu ini Maria memblokirnya juga tak mau ditemui, saat dia pergi ke rumah Maria, orang rumah selalu mengatakan dia tak ada, Sakti menghela nafasnya lagi dan lagi.
*********
Kontrakan Ana.
Sementara Andre sudah mulai terlelap, Ana malah tak bisa tidur. Entah kenapa perutnya merasa tak enak, seperti sakit di bagian bawahnya. Awalnya hanya seperti ditusuk jarum dan hanya terjadi beberapa saat, kemudian semakin lama semakin sering juga perutnya terasa keras saat dipegang. Dan sekarang dia benar-benar merasakan sakit di perut bagian bawahnya.
"A..." Ana memanggil suaminya, tapi malah tak ada jawaban, Ana menggoyangkannya beberapa kali dan Andre hanya bergerak sedikit tanpa menghiraukannya. Ana yang merasakan sakit tak tertahankan menjadi sedikit marah pada suaminya yang sulit dibangunkan, memang suaminya agak sedikit sulit dibangunkan mungkin karena dia sangat menguras pikirannya saat siang hari jadi di malam hari dia benar-benar harus mengistirahatkan otaknya.
"Aaaa!!!!" Ana berteriak di telinga suaminya membuat Andre terbangun seketika, dia langsung celingukan ke berbagai arah dan akhirnya sadar saat Ana mencubit pinggang.
"Aw!" Andre melihat ke arah Ana, dia terkejut saat melihat Ana kesakitan, wajah nya pucat nafasnya ngos-ngosan.
"perut-ku, sak-kit," Ana bicara sambil menahan nafasnya, dia meremas perutnya yang terasa sakit, Andre mengambil ponselnya dan langsung menghubungi mang Imam, syukurlah Andre meminta mang Imam mengontrak di salah satu rumah tak jauh dari sana, dan memarkirkan mobil di parkiran umum disekitarnya, itu akan memudahkannya saat menjemput dan mengantar Andre ke kantor.
Setelah berbicara sebentar, Andre langsung memapah istrinya keluar rumah.
"ugh!" Ana kaget saat tiba-tiba suaminya mengangkat tubuhnya.
"A, gak usah digendong, aku masih bisa jalan, kaki kamu masih belum sembuh,"
"tenang aja, suami kamu tak selemah itu," Setelah menutup pintu, Andre dengan cepat berjalan menuju jalan yang bisa dilalui mobil, danang Imam sudah menunggu mereka disana.
IGD Rumah sakit internasional Jakarta.
__ADS_1
Andre yang disuruh menunggu oleh dokter selama dilakukan tindakan, terus mondar-mandir mandir tak karuan. Beberapa kali dia melongokan wajahnya melihat ke tempat istrinya yang sedang dirawat.
Dalam ruangan Ana
"pasien sedang hamil, hubungi dokter kandungan yang sedang jaga,"
"baik, dok," jawab salah satu suster dan dengan cepat dia berlari keluar. Ana yang masih menahan sakit samar-samar mendengar apa yang di katakan sang dokter namun tak menghiraukannya karena rasa sakit yang dideranya. Dokter kandungan tak lama datang dengan tergesa, dia mulai meraba perut bagian bawah Ana yang terasa sakit, juga menekan stetoskop di beberapa titik setelah seorang suster memberikan data pasien.
"pct inject, sus,"
"baik, dok," dengan gesit suster menyiapkan suntikan untuk menyuntik obat anti nyeri pada Ana, beberapa menit kemudian Ana mulai merasakan sakitnya sedikit mereda.
"masih kontraksi, dok," ucap salah satu suster.
"panggil keluarganya," jawab dokter sambil menekan perut Ana, tak lama Andre masuk.
"dokter, bagaimana istri saya?" Andre langsung menghampiri Ana yang sudah terlihat tenang, wajahnya masih basah karena keringat saat menahan rasa sakitnya. Andre mengelap wajah istrinya dengan menggunakan tangannya hingga seorang suster menyodorkan satu pack tisu.
""""""""*****""""""""
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...
Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏
Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,
kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,
__ADS_1
Makasih sekali lagi,,,