
Rumah Sakit
"bagaimana dok?" setelah tindakan, Ana dipanggil sebagai yang bertanggung jawab atas pasien.
"pasiennya lagi hamil ya?" dokter meyakinkan jika kerabat sudah tahu bahwa pasien sedang dalam kondisi hamil, dan Ana mengiyakannya. "dia baik-baik saja sebenarnya, hanya syok saja mungkin sedang banyak pikiran atau dalam keadaan tertekan, juga dia belum makan apa-apa jadi membuat kondisi tubuhnya lemah, kami sudah memberi infus nutrisi, untuk kondisi lebih detil masalah kandungannya saya akan konsulkan pada dokter SpOG, sepertinya dia harus bedrest untuk beberapa hari, itu akan dijelaskan oleh dokter kandungannya nanti" Dokter menjelaskan secara rinci keadaan teh Tia, lalu dia meminta suster memanggil dokter kandungan untuk memeriksa kandungannya.
"jadi kandungannya baik-baik saja kan, dok?"
"ya kandungannya baik-baik saja, janinnya kuat, nanti untuk lebih detilnya akan dijelaskan oleh dr. Siska, beliau dokter kandungannya nanti bisa sekalian konsultasi jika ada apa-apa,"
"baik dok, dokter maaf kapan dia akan sadar kira-kira?"
"seharusnya tidak lama lagi,"
"baiklah, terimakasih dok," Dokter mengangguk lalu berlalu dari hadapan Ana, mereka masih di Instalasi Gawat Darurat saat ini.
"maaf, mbak saudaranya?"
"saya temannya sus, tadi sudah menghubunginya, mungkin sebentar lagi datang, ada apa sus?"
"saya mau minta data pasien, mbak,"
"oh, paling yang saya tahu aja ya sus,"
"nama nya, alamat, usianya taukan mba?"
"tentu, namanya Tia, alamat di sini saya gak tau, saya tahu alamat Bandung, di Bandung di Sukajadi, usianya 27 tahun,"
"saya akan menuliskan seperti ini sementara, setelah saudaranya datang mohon ke pendaftaran untuk melengkapi data pasien."
"iya sus," Ana menatap wajah teh Tia yang terlihat pucat, dia menyesal karena lupa menanyakan apakah teh Tia sudah makan atau belum, Ana menarik nafas berat.
"maaf mbak, karena dokter bilang harus bedrest, saya akan meminta petugas ruangan untuk mengkonfirmasi info ruangan yang tersedianya,"
"baik sus, makasih,,,," suster penjaga keluar dari ruangan yang hanya disekat dengan gorden tebal.
Di luar IGD
Andre duduk di ruang tunggu setelah Ana masuk ke dalam IGD.
Andre : sayang gimana?
sepuluh menit kemudian Ana membalas.
__ADS_1
Ana : maaf, tadi Konsul dulu sama dokternya, Alhamdulillah teh Tia baik-baik aja, mau dibawa ke ruangan lagi nunggu petugas ruangan.
Andre : lalu aku gimana?
Ana bingung apa yang harus dia lakukan dengan suaminya, dia akan protes kalau menyuruhnya untuk pulang lebih dulu. Tiba-tiba seseorang datang menyibakkan sedikit gorden tebal berwarna merah marun setelah bertanya kepada bagian pendaftaran.
"Ana,,, "
"kamu udah dateng, teh Tia baik-baik aja, cuma kondisinya sedikit lemah, dokter bilang dia belum makan dan kayanya dia lagi banyak pikiran, maaf seharusnya aku memastikan dia sudah makan apa belum,"
"gak apa-apa, tapi bagaimana bisa kamu yang mengantar? dia biasanya telepon aku kalo ada apa-apa,"
"ah, itu,,," Ana bingung bagaimana menjelaskannya.
"permisi, saya dokter Siska, dokter kandungan, dr. Mirza meminta saya datang untuk memeriksa ibu Tia ya, nama pasiennya?!"
"iya, dok,"
"dr. kandungan?" Dimas bingung saat seorang dokter kandungan masuk ke ruangan mereka.
"Di, kita ngobrol di luar ya, biar dokter meriksa teh Tia dulu,"
"silahkan dok, kami tunggu di luar," Ana pamit mendorong Dimas untuk keluar ruangan.
"kenapa ada dokter kandungan? Ana, ada apa ini?"
Ana membawa Dimas sedikit menjauh, dia malah bingung apa yang harus dia katakan pada Dimas, dia tak punya hak untuk menceritakan tentang kehamilan teh Tia.
"uh!" tiba-tiba Andre menarik tangan Ana menjauh dari Dimas.
"apa yang kalian lakukan?" sejak awal Andre tak pernah menurunkan waspadanya pada orang yang pernah menjadi tuan rumah dalam hati istrinya itu.
"Pak Andre?" Dimas sedikit terkejut saat Andre tiba-tiba datang dan menarik tangan Ana, dia segera mengalihkan pandangannya menatap Ana mencoba meminta penjelasan.
"oh! Di, A Andre bantuin aku bawa teh Tia ke sini." Andre menatap Dimas dengan dingin, Dimas melemahkan pandangannya, 'sepertinya hatiku masih belum bisa melepaskan,' batin Dimas getir.
"terimakasih, Pak, maaf sudah merepotkan,"
"tidak apa-apa, karena dia adalah teman is-triku, wajar jika aku menolongnya, bukan?!" Andre berkata dengan dingin, dia sengaja menekankan kata istriku dalam kalimatnya. Dimas tahu Andre sedang memperingatkannya untuk tidak berdekatan dengan Ana, sungguh membuat hatinya sakit. Itu mengingatkannya tentang kejadian di kafe beberapa waktu lalu, karena dia sudah tahu kalau big bosnya yang sekaligus suami dari orang yang dicintainya adalah seorang gay, kepercayaan dirinya mulai kembali.
"benar, tapi bolehkah saya bicara dengan istri Anda sebentar,"
'Anda?' batin Andre.
__ADS_1
Dimas tersenyum, "aku rasa Anda tidak akan keberatan bukan?! ah, sekarang kita bukan di perusahaan, jadi disini Anda bukan atasan saya," Dimas melangkah mendekati Ana dengan angkuh tanpa memalingkan pandangannya pada Andre. 'seorang gay berusaha melindungi istrinya, heh? aku takutnya dia yang harus bercermin sebelum bertindak!' batin Dimas sambil tersenyum mengejek.
'sialan! dia mencoba menantang ku!' Andre mengepalkan tangannya.
"Ana, ayo kita bicara, ada yang ingin aku tanyakan," Dimas berbicara saat tepat berada di hadapan Ana, Ana berpaling menatap suaminya, lalu menghela nafasnya.
"A, aku bicara dulu sama Dimas sebentar, ya?!"
Andre menggenggam lengan Ana sedikit kasar, melihat situasi yang tidak baik Ana menggenggam tangan suaminya untuk menenangkannya.
"sebentar doang, disini, gak akan ke tempat lain, kok, oke?!" Andre menyipitkan tatapannya menatap mata istrinya, Ana tersenyum meyakinkan.
"maaf, suaminya yang mana?"
"saya adiknya, dok,"
Tiba-tiba dokter mengalihkan pandangannya pada Andre, sontak Andre memegang tangan Ana.
"bukan!" Andre mengacungkan tangan yang sedang memegang tangan Ana tanpa berkata-kata, dia agak sedikit syok saat tiba-tiba tatapan dokter yang seperti menyindir terarah padanya.
"ini suami saya dok," Akhirnya Ana yang menjelaskan.
"oh,"
"Anda bisa bicara dengan saya, dok," Dimas bicara.
"silahkan mas,,, ?"
"Dimas,"
"mas Dimas, saya mau bicara sebentar,"
"silahkan, dok," Dokter Siska membawa Dimas sedikit menjauh, Ana memperhatikan mereka.
********
Makasih reader semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏
Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,
Kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,
Makasih sekali lagi,,,
__ADS_1