
"Sorry, Ndre gue belum dapet informasi apapun,"
Brak
Andre membanting semua berkas dihadapannya, dia mengepalkan tangannya.
"Sakti, gue bilang, prioritaskan masalah ini! dan lu masih mengabaikan perintah gue?!"
Sakti memungut semua berkas yang berserakan yang dilemparkan Andre.
"gue gak butuh berkas-berkas itu! sebaiknya lu pergi cari tahu dimana Ana, jangan berani kemari, sebelum lu tahu dimana Ana!" Andre memutar kursi rodanya untuk berpaling dari Sakti. Sakti menghela nafasnya, dia lalu berjalan keluar. Weni yang sudah sejak tadi di depan pintu, bergeser saat Sakti hendak keluar.
"ada apa?"
Sakti mengangkat kedua bahunya tanda tak mengerti.
"sebenarnya ada apa, Mas? kamu bener-bener gak tahu dimana, Ana?"
"aku memang gak tahu di mana Ana tinggal, tapi dalam dua hari ini aku melihat Ana bertemu dengan Dimas beberapa kali, aku belum tahu ada hubungan apa antara mereka, dan aku gak mungkin mengatakan ini pada Andre," Sakti menghela nafas, dia mulai memijit keningnya dia memikirkan akan bagaimana nasib berkas-berkas yang ada di tangannya sekarang.
"berikan berkasnya, biar aku bicara dengannya," Weni mengambil berkas dari tangan Sakti, Sakti memegang lengan Weni sebelum membuka kamar rawat.
"Wen, jangan katakan apapun tentang Ana dan Dimas," Weni mengangguk lalu membuka pintu kamar ruang inap tempat Andre berada. Weni terbelalak ketika dia membuka pintu, ternyata Andre sudah ada di sana, Weni mematung saat Andre menatapnya dengan tajam.
"kenapa kamu gak masuk?" saat Sakti mendekati Weni diapun melihat Andre disana dan sakti terkejut 'sial! sejak kapan dia disana? apa dia mendengar,,,'
"katakan!" tanya Andre dengan suara tegas dan dingin, menatap tajam ke arah Sakti. Sakti terdiam dia menelan salivanya beberapa kali.
Seperti yang Sakti pikirkan sepertinya Andre mendengar apa yang dia katakan pada Weni.
'mampus gue!'
"dengar Ndre, bukan gue gak mau bilang, tapi gue sendiri belum tahu ada hubungan apa antara mereka, kasih gue waktu, ok! gue pasti akan dapat jawabnya, secepatnya!" Andre meremas pegangan kursi rodanya lalu dia menggerakkan tuas agar kursi rodanya berjalan ke arah yang dia mau.
Andre masuk lebih dalam ke dalam ka
"pergilah, aku ingin sendiri," Suara Andre terdengar lemah, Weni menutup kembali pintu ruang rawat.
__ADS_1
Setelah pintu ditutup.
"Ana, kenapa?" Andre berbicara dengan lemah,
'tidak! jelas Ana mengatakan dia tak punya perasaan apa-apa pada di brengsek itu, aku yakin ada alasan, tenanglah Andre! istrimu bukan orang seperti itu, kau harus percaya padanya' batin Andre. "Tidak! aku harus pulang! jika aku terus disini maka akan banyak kesempatan mereka bersama," dengan cepat Andre menuju ranjangnya dan memijit tombol untuk memanggil perawat.
Sakti dan Weni yang sejak tadi berada di luar kamar, terkejut ketika ada dua orang perawat hendak masuk ke ruangan Andre.
"wait, what's wrong? why did you enter this room?"
"instead of someone ringing the bell to call us"
Sakti mengerutkan keningnya dan dengan cepat dia membuka pintu kamar rawat dia takut terjadi sesuatu pada Andre.
"Ndre, lu gak apa-apa kan?!" Sakti dan Weni mendekati Andre yang masih duduk di kursi roda.
"come in,,," Sakti menghela nafas lega saat Andre masih berkata dengan dingin, berarti dia baik-baik saja. Kedua perawat memasuki ruangan.
"tell me sir, what can we help you with," salah satu perawan menghampiri Andre dia mencoba melihat gips pada kaki Andre, juga beberapa kondisinya.
"tell the doctor in charge I want to get out of the hospital now,"
"Mas kamu baru saja bangun, dokter bilang minimal seminggu kamu dirawat di sini."
Andre tak menggubris ucapan Weni.
Dia fokus pada kedua perawat yang berdiri di hadapannya yang kini saling menatap.
"are you sure?"
"yes,"
"ok, we'll ask the doctor on duty to come," Salah satu perawat keluar lebih dulu, semetara yang satunya memastikan keadaan Andre baik-baik saja. Setelah dirasa cukup, perawatpun undur diri.
Selama menunggu dokter tiba, berkali-kali Weni dan Sakti membujuk Andre agar mengurungkan niatnya untuk keluar dari rumah sakit saat itu juga, tapi masih tak ada hasilnya.
Weni bahkan menelepon mami Ambar agar datang dan membujuk Andre.
__ADS_1
Setengah jam kemudian dokter tiba, dokter jaga mulai memeriksa secara keseluruhan keadaan fisik Andre, diapun menyarankan untuk melakukan X-ray atau MRI pada kakinya yang patah, jika hasilnya memungkinkan maka pihak rumah sakit akan melakukan yang terbaik untuknya saat harus melakukan pengobatan di rumah dengan persiapan yang matang, itupun dokter jaga tak bisa langsung mengijinkannya pulang karena harus berkoordinasi dengan dokter penanggung jawab pasien langsung.
Andre menyetujui semua saran dokter, setelah dokter jaga berkomunikasi dengan dokter penanggung jawab Andre yaitu bernama dr. Abrahams, akhirnya Andre melakukan X-ray.
Hasilnya memang sudah cukup baik, tapi dokter masih menyarankan untuk tinggal beberapa hari lagi. Weni dan Sakti jelas melakukan semua cara agar membuat Andre mau tinggal beberapa hari lagi.
Setelah mami Ambar datang, mereka lalu bicara berdua dalam ruangan, tak lama mami Ambar pun keluar. Dia menggelengkan kepala.
"Andre terlalu keras kepala,"
"lalu bagaimana, Mam, aku takut akan ada masalah jika mas Andre memaksa pulang ke Indonesia."
"biarlah itu sudah keputusannya," jawab mami Ambar.
"tapi, Mam," sekarang malah Weni yang membujuk mami Ambar agar tak mengijinkan Andre keluar rumah sakit secepat ini.
"tenanglah Weni, Andre tak selemah itu," Mami Ambar mencoba menenangkan Weni yang terlihat gelisah.
"Sial! andai Ana ada disini!" Sakti mengumpat sendiri, tapi gara-gara ucapanya malam membuat semua orang yang ada di sana menatapnya.
"memangnya kenapa kalo ada Ana disini?"
"yah paling tidak, sejauh ini hanya Ana yang bisa mengubah pendiriannya," mami Ambar tersenyum mendengarnya. 'sepertinya ucapannya tak main-main,' batin mami Ambar. Weni mengepalkan tangannya dengan erat, ya setelah apa yang dia lakukan dia bahkan tak memiliki kesempatan untuk membuat Andre jatuh cinta padanya.
Akhirnya setelah dapat ijin dari dokter Andre memutuskan keluar rumah sakit malam ini juga dan langsung kembali ke Jakarta.
"""""""*****"""""""
Marhaban ya Ramadhan,,,
Mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏🙏
Semoga Allah mudahkan dan lancarkan dalam menjalankannya, aamiin,,,
Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏
Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,
__ADS_1
kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,
Makasih sekali lagi,,,