Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
Teh Tia


__ADS_3

Andre mulai gelisah dia mondar-mandir di depan pintu IGD, tapi tak lama kemudian dia melihat istrinya berjalan ke arahnya, begitu terkejutnya Andre saat melihat istrinya itu berurai air mata. Tak menunggu Ana datang padanya, Andre langsung menghambur berlari menghampiri istrinya yang berada di balik pintu kaca IGD, dia menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya, menatap kedua matanya yang masih terlihat basah, dan mengelap sisa air mata di pipi istrinya.


"ada apa? kenapa nangis?"


Ana melepaskan tangan suaminya lalu memeluknya tubuh kekarnya, Andre merengkuh tubuh istrinya masuk dalam pelukannya tanpa berkata apa-apa.


"aku mau punya anak?" bisik Ana masih dalam pelukan Andre, Andre awalnya tak menghiraukan ucapan istrinya hingga saat dia benar-benar mencernanya barulah dia bereaksi.


"apa?" Andre melepas pelukannya, dia merenggangkan tubuh mereka dengan memegang kedua lengan istrinya.


"apa kamu bilang?"


"aku pengen punya anak" Ana yang matanya masih berair mengulang ucapannya.


Andre tersenyum sambil menghembuskan nafas lega lalu kembali memeluk istrinya, dengan perasaan bahagia dia berbisik tepat di telinga istrinya.


"ya, ayo kita punya anak,"


Ana terkejut saat tiba-tiba tubuhnya terangkat, spontan tangannya mengalung ke leher suaminya dengan erat.


"hei!" Andre tak menghiraukan istrinya yang sudah ingin memprotes kelakuannya yang tiba-tiba, dia berjalan keluar IGD dengan Ana dalam dekapannya.


"tunggu! mau kemana?"


Andre tersenyum menatap istrinya tanpa menghentikan langkahnya.


"bukannya kamu ingin punya anak, tentu saja kita akan membuat anak."


"apa?" Ana benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan suaminya, jika dia bilang ingin punya anak, apa harus dilakukan sekarang juga?! terlebih mereka masih berada di rumah sakit, menunggui orang sakit. Ah! sepertinya dia salah bicara pikir Ana.


"tunggu! A! tunggu!" Ana menggoyangkan badannya agar suaminya berhenti berjalan.


"kenapa?"


"aku belum bilang sama teh Tia, masa pergi gitu aja,"


"kamu tinggal chat aja, bilang aku yang bawa kamu pulang,"


"masa ditinggal gitu aja, dia pingsan di rumah kita, lho!"


"dokter bilang dia gak apa-apa, udah ada yang nunggu, buat apa kamu di sana, kasih waktu mereka untuk bicara," setelah mendengarkan penjelasan suaminya, cukup masuk akal, tadi teh Tia sempat bilang bahwa dia yang akan menceritakan langsung pada Dimas, mungkin ini waktunya, pikir Ana.


"baiklah, ayo kita pulang, aku akan telepon teh Tia di mobil," Andre meneruskan berjalan menuju mobil.


******

__ADS_1


Ana mengerang untuk kesekian kalinya tapi suaminya masih belum selesai dengan urusannya di bawah sana, stamina suaminya masih sangat kuat walaupun tadi siang mereka sempat melakukannya beberapa kali.


Pertempuran selesai dengan ditandai tubuh Andre yang terkulai lemas di atas tubuh istrinya. Nafas mereka masih memburu seperti saling bersahutan, semetara Andre berusaha bangkit dan menjatuhkan tubuhnya disamping istrinya, Ana langsung bangun menuju kamar mandi.


"mau kemana?" Andre melihat Ana memakai baju dengan terburu-buru.


"mau bikin kopi,"


"tumben?!"


"makalah ku belum selesai, jadi harus bergadang sekarang,"


"bikinin aku sekalian, aku temenin kamu bergadang"


"iyalah, harus! siapa yang bikin makalah ku gak beres-beres, harus tanggung jawab, tau!" Andre tersenyum kaku, merasa bersalah.


"baiklah, nanti aku bantuin deh," Ana mencebikan bibirnya sambil melengos membuka pintu keluar kamar, Andre kembali tersenyum melihat tingkah istrinya.


******


Di salah satu ruang inap VIP sebuah rumah sakit internasional di Jakarta. Teh Tia gugup saat Dimas duduk di kursi begitu dekat dengannya, dia bingung harus bagaimana menceritakannya dan harus mulai dari mana.


"siapa ayahnya?" tanya Dimas tanpa basa-basi.


"Pak Nara," jawab teh Tia pelan tapi masih jelas terdengar sambil menundukkan mukanya, sudah tak ada lagi yang perlu dia sembunyikan.


"bagaimana bisa?"


air mata teh Tia kembali terurai tanpa bisa dia hentikan, jelas dia sangat menyesal terlebih ternyata Pak Nara tak mau bertanggung jawab.


"pak Nara itu udah punya istri teh! bagaimana bisa?" teh Tia tak menjawab dia masih terus menangis.


"astaga!" Dimas memijit keningnya.


"lalu apa pak Nara tahu teteh hamil?" teh Tia tak langsung menjawab dia menghapus air mata yang sejak tadi tak bisa dia kendalikan.


"dia,,, dia ingin teteh gugurin kandungan teteh,"


bugh!


"Ah!" menjerit tertahan tangannya dengan spontan menutup kepalanya saat Dimas memukul tembok dinding di sampingnya.


"bangs4t!" Dimas berteriak tertahan, dia menggertakan giginya, marah yang tertahan membuat nafasnya tak beraturan.


"dimana dia tinggal?" Dimas berusaha bicara senormal mungkin, walaupun hatinya terasa sangat panas.

__ADS_1


"gak Di, jangan, teteh mohon,"


"terus teteh mau diem aja setelah apa yang dilakukan?" ucapan dengan tak sabar.


"ini bukan sepenuhnya salah dia, Di, teteh juga salah, teteh punya kesempatan menghentikannya sejak awal, tapi teteh gak lakukan, semuanya salah teteh, gak apa-apa biar teteh yang menanggungnya," Dimas mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


"lalu apa yang akan teteh katakan sama mama, sama appa¹?" teh Tia terdiam, itu yang sebenarnya dia tak mau, sangat berat, dia takut melihat wajah kecewa ayahnya, melihat air mata ibu yang sedih karena anak yang dia didik dengan baik justru mengambil jalan yang keliru.


"bagaimana dengan janin dalam kandungan teteh?"


"teteh mau dia lahir, Di," teh Tia mengusap perutnya sambil tersenyum getir. Semua sudah terjadi, jika sampai dia menggugurkan kandungannya maka dosanya akan menjadi dua kali.


Dimas menghela nafas berat, dia sudah menduganya, Dimas melihat bagaimana ekspresi teh Tia saat menatap monitor USG, sedih dan juga bahagia yang tak bisa dia ungkapkan.


"dia butuh seorang ayah,"


"tidak apa-apa, teteh bisa menjadi ibu juga ayah untuknya," teh Tia berbicara dengan pelan.


"teteh juga punya simpanan uang, cukup sampai nanti teteh pulih buat kerja lagi." lanjutnya mencoba meyakinkan sang adik.


Dimas akhirnya luluh, dia kembali duduk disamping teh Tia.


"masalah itu teteh jangan pikirin, aku masih sanggup, teteh sekarang pikirin gimana mau ngomong sama mama, sama appa¹,"


"mereka pasti marah, pasti kecewa sama teteh, tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi," teh Tia berkata disela isak tangisnya


Dimas mengangguk tak berdaya, dia marah dan kasihan pada kakaknya.


'sialan! aku tak akan melepaskan mu,' Dimas mengepalkan tangan dibalik badannya, jika teh Tia tahu apa yang dia pikirkan sudah jelas dia pasti melarangnya.


********


Semangat buat emak-emak pejuang PTS!


eh!🙊 maksudnya buat emak-emak yang anaknya mau PTS dan yang riweuh emaknya, anaknya malah santei main handphone, heheee,,,


Semangat buat emak-emak, kalian luar biasa!!!!


Makasih juga ya semua emak-emak, bapa-bapa, eteh-eteh, akang-akang yang walaupun riweuh sama PTS tapi masih nyempetin baca novelku😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,


Boleh donk hadiahnya juga🙈🙉🙊


Kalau sempat tinggalin jejak buat penyemangat author, hehe,,,

__ADS_1


Makasih sekali lagi,,,


__ADS_2