
Hari ini sama seperti hari kemarin, Sakti menjemput Andre dan Weni untuk pergi ke perusahaan. Ana diantar mang Imam ke kampusnya. Dan hari ini juga Ana hanya bertemu Andre pada pagi saja saat bangun tidur dan sarapan. Selanjutnya mereka beraktivitas masing-masing.
Hari berikutnya saat Ana membuka mata yang pertama dilihat masih wajah suaminya. Hanya saja kali ini suaminyalah yang terbangun lebih dulu.
"astagfirullah!" Ana kaget saat membuka mata melihat Andre tersenyum sambil menatapnya.
"assalamualaikum bidadari,,," senyum Andre mengembang, walaupun mimik muka Ana kebalikan dari ekspresi suaminya.
"kok tidur disini lagi sih?" Ana kembali sewot saat nyawanya sudah terkumpul.
"memangnya kenapa?" Andre menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
"kok kenapa? eh! Om tuh udah melanggar perjanjian tahu gak?!" Ana menjauhkan diri dari Andre. Andre menghembuskan nafas panjang. Seperti pemikirannya pagi ini pasti urusannya panjang.
"perjanjian yang mana?" Lagi-lagi Andre menjawab dengan pertanyaan.
"ck! tentu saja perjanjian yang mengharuskan kamar kita terpisah, jangan pura-pura lupa deh!"
"aku gak melanggar perjanjian!" jawab Andre santai sambil beranjak bangun dari rebahannya.
"ini apa? kalo Om tidur disini berarti udah melanggar donk!"
"aku tanya, ini kamar siapa?"
"aku!" jawab Ana percaya diri.
"kamarku dimana?"
__ADS_1
"di atas!"
"see,,, bukankah kamar kita terpisah!"
"hah????" Ana mengerutkan keningnya.
Andre bicara sambil berjalan hendak keluar kamar. Dia tak mau berdebat lebih panjang lagi dengan istrinya yang tak akan mau kalah itu. Saat Andre menutup pintu kamar Ana, barulah Ana sadar kalo dia sudah dikerjain oleh suaminya.
"dasar zombie genit!" Ana melempar bantal ke arah pintu kamar. "bener juga sih yang dia bilang! kamar kita emang terpisah, aaaaarrrgggggg,,, ngomong apa sih lu, Na?!" gumam Ana ribut sendiri sambil mengacak-acak rambutnya.
Lalu sarapan pagi ini juga masih seperti sebelumnya, Weni menyiapkan sarapan untuk semua, termasuk untuk Ana. Setelah itu dia akan kembali ke kamarnya bersiap diri untuk pergi ke kantor. Ana tak peduli dengan apa yang Weni lakukan dia hanya fokus pada Andre dan Sakti yang sedang berbicara. 'tiap hari a Sakti jemput dan nganterin, tiap hari mereka ketemu, lalu aku belum pernah melihat mereka melakukan sesuatu yang intim. kira-kira seperti apa ya?!' tanpa disadari Ana berfikir sambil menatap Andre seperti tak berkedip.
Sementara Andre sejak tadi hanya fokus berdiskusi dengan Sakti, justru Saktilah yang pertama menyadarinya.
"sebegitu banget sih liatinnya,,,"
Andre berpaling ke arah yang ditunjuk Sakti, dia sedikit terkejut melihat Ana menatapnya dengan intens. Terbersitlah ide jahil dalam pikirannya, Andre mencondongkan badannya mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya membuat lamunan Ana buyar seketika, belum sempat dia menghindar, cup... Andre tiba-tiba mencium bibir Ana sekilas lalu kembali duduk sambil tersenyum melihat reaksi Ana. Ana membelalakkan matanya.
"Aaarrrgggg,,,, kau! kau! kau!" Ana berdiri dari duduknya mundur beberapa langkah, dia berkata sambil sebelah tangannya menutup bibirnya, sementara sebelah tangannya menunjuk ke arah Andre.
Hahaaaaaa...
Andre dan Sakti tertawa dengan lepas saat melihat tingkah laku Ana. Ana menjadi kesal karena Andre sudah menciumnya tanpa ijin darinya, dia mengepalkan kedua tangannya lalu mendekati Andre dan meninju lengannya.
"dasar brengs*k!!!!" lalu Ana mengambil tasnya dan berlari keluar rumah. Andre terkejut dengan reaksi Ana, dia tak menyangka istrinya akan bereaksi seperti itu. Andre berdiri dari duduknya kemudian berusaha mengejar Ana,
tapi Ana ternyata sudah berlari keluar gerbang. Mang Imam melihat nyonyanya berlari keluar rumah tanpa memperdulikannya yang sudah sejak tadi membukakan pintu mobil malah terdiam. Apalagi setelah tuan mudanya keluar, dia malah jadi bingung.
__ADS_1
"kenapa bengong?! kejar istriku antar dia ke kampusnya!" Andre memberi perintah pada mang Imam yang malah bengong melihat Ana berlari keluar gerbang. Tanpa pikir panjang lagi dia langsung menutup pintu mobil dan mengendarainya untuk mengejar nyonyanya yang tiba-tiba berlari begitu saja.
Sakti mendekati Andre yang masih berdiri di pintu keluar.
"sabar bro!" Sakti menepuk pundak sahabatnya.
"lho! kok pada di luar, udah mau berangkat ya?" Weni tiba-tiba datang menghampiri Andre dan Sakti.
"ya, ayo berangkat sekarang."
"yah bro! kopi gue belum abis,,," tanpa menghiraukan ucapan Sakti Andre melengos mengambil tas kerjanya lalu meninggalkan Sakti yang masih kembali ke ruang makan untuk menghabiskan kopinya. Dia meniup kopinya lalu menyeruputnya dan tiba-tiba dia mendengar suara mobil.
"astaga!" Sakti terkejut saat sadar itu suara mobil yang biasa dikendarainya untuk menjemput Andre. Dengan cepat Sakti berlari berharap masih bisa ikut masuk ke mobil, sayangnya terlambat, mobil sudah keluar gerbang.
"sial! gue beneran ditinggal!" Sakti membuang nafasnya kasar.
"sepertinya gue bakalan sering babak belur, nih! nasib, nasib..."
Sementara Ana yang awalnya tak mau masuk ke mobilnya mang Imam akhirnya dia mau diantar juga setelah mang Imam mengatakan kalo dia akan dimarahi habis-habisan kalo sampai tak bisa mengantar nyonyanya.
"Mang, ulah manggil nyonya atuh, ih meni asa kumaha ngupingna," (Mang, jangan manggil nyonya dong, berasa gimana ngedengernya)
"punten nyonya, daripada nanti mamang kena marah, kecuali kalo nyonya yang bilang sama tuan, mamang mah manggil apa aja juga siap," Ana berpikir untuk saat ini dia benar-benar tak mau berhubungan dengan si zombie mesum itu.
'tunggu! apa yang aku pikirin?! si zombie bareng*k itu gak suka sama cewek! aku yakin dia ngelakuin itu cuma buat ngejahilin aku doang, sama kaya waktu itu! huh! ngapain aku kesal! bukannya dia bakalan senang kalo aku kesal!' Ana terdiam memandang ke arah jalanan, masih mencoba menata hatinya yang sudah sempat tak karuan. 'tapi justru karena itu! aku ingin ciuman pertamaku untuk orang yang aku cinta dan mencintaiku!' batin Ana.
aaaahhhhh,,, Ana menutupkan kedua tangan ke wajahnya lalu menghentakkan kedua kakinya yang masih dalam posisi duduk di mobil. Mang Imam yang melihat kelakuan nyonyanya mengerutkan kening.
__ADS_1
"kenapa nyonya? ada yang salah?" Ana membuka tangannya lalu membetulkan poni dan rambutnya yang sedikit berantakan.